Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA medis mencatat terobosan besar dalam perang melawan resistensi obat. Sebuah obat antifungal baru yang ditemukan para ilmuwan di Tiongkok Pharmaceutical University (CPU) dilaporkan berhasil membasmi infeksi jamur yang selama ini kebal terhadap semua pilihan pengobatan utama, termasuk obat-obatan kategori "benteng terakhir" (last-resort).
Senyawa yang diberi nama Mandimycin ini ditemukan melalui pelacakan molekul unik yang dihasilkan bakteri tanah. Penemuan ini diprediksi akan mengubah cara ilmuwan menghadapi gelombang infeksi rumah sakit yang semakin sulit disembuhkan dengan obat-obatan yang ada saat ini.
Berbeda dengan kebanyakan obat antifungal yang menyerang dinding sel, Mandimycin bekerja dengan cara yang unik. Senyawa ini menyerang membran sel jamur dengan cara mengikat fosfolipid (lemak penyusun membran), yang menyebabkan kebocoran ion penting dan membuat sel jamur runtuh seketika.
Karena menyerang beberapa titik sekaligus pada membran sel, Mandimycin sangat sulit dilawan oleh jamur. Dalam uji laboratorium, peneliti gagal menemukan mutan jamur yang resisten meskipun telah diuji pada jumlah sel yang sangat besar. Hal ini memberikan harapan baru bahwa efektivitas obat ini dapat bertahan lama di masa depan.
Para peneliti menguji Mandimycin terhadap daftar jamur yang masuk dalam kategori ancaman prioritas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), termasuk kelompok ragi Candida dan jamur yang menyerang paru-paru.
Salah satu target utama yang berhasil dikalahkan adalah Candida auris. Jamur ini sangat ditakuti di rumah sakit karena kemampuannya bertahan hidup dari pembersihan rutin. Data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menunjukkan lebih dari 90% sampel C. auris di AS kebal terhadap fluconazole. Namun, dalam uji coba pada tikus, Mandimycin terbukti efektif melawan galur C. auris yang paling resisten sekalipun.
Selain efektivitasnya, Mandimycin menunjukkan tanda-tanda lebih aman bagi ginjal dibandingkan obat amphotericin B. Senyawa ini juga lebih mudah larut dalam air, yang meningkatkan bioavailabilitas atau penyerapan obat ke dalam aliran darah.
Penemuan ini tidak terjadi secara kebetulan. Tim peneliti menggunakan pendekatan genomik dengan memindai lebih dari 316.000 genom bakteri untuk mencari pola genetik yang terkait dengan senyawa antifungal. Metode ini memungkinkan ilmuwan menemukan kandidat obat baru yang telah berevolusi secara alami, bukan sekadar mendaur ulang bahan kimia lama.
Meskipun menjanjikan, perjalanan Mandimycin menjadi pengobatan resmi masih membutuhkan waktu bertahun-tahun melalui uji klinis pada manusia. Peneliti menekankan pentingnya inklusivitas dalam uji coba medis agar tidak terjadi "titik buta" hasil diagnosis.
Sebagai perbandingan, data statistik menunjukkan adanya perbedaan penanda darah pada kelompok pasien tertentu; misalnya, kadar penanda CA-125 untuk kanker ovarium sering kali tetap di bawah ambang batas pada pasien kulit hitam dibandingkan kelompok lain. Peneliti memperingatkan bahwa ambang batas saat ini mungkin gagal mengidentifikasi risiko pada kelompok ras dan etnis yang beragam. Prinsip ketelitian yang sama harus diterapkan dalam uji coba antifungal agar obat ini efektif bagi semua kelompok pasien yang menghadapi ancaman jamur resisten. Penelitian ini telah resmi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi, Nature. (Earth/Z-2)
Peneliti Universitas Exeter mengungkap kelemahan genetik Candida auris, jamur rumah sakit yang mematikan. Penemuan ini membuka peluang pengobatan baru.
Hampir setengah dari pasien yang tertular C. auris meninggal dalam waktu 90 hari, menurut CDC.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved