Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Dari Injeksi Botox hingga Neuromodulasi, Arah Baru Terapi Migrain

N Apuan Iskandar
10/2/2026 10:22
Dari Injeksi Botox hingga Neuromodulasi, Arah Baru Terapi Migrain
Ilustrasi(freepik)

PERKEMBANGAN terapi migrain terus mengalami kemajuan hingga 2026, seiring meningkatnya pemahaman ilmiah tentang mekanisme nyeri kepala kronis ini. Migrain diketahui memengaruhi lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia dan menjadi salah satu penyebab utama disabilitas pada usia produktif. Beragam pendekatan terapi terbaru kini ditujukan tidak hanya untuk meredakan nyeri, tetapi juga mencegah kekambuhan dengan cara yang lebih presisi.

Salah satu terapi yang semakin luas digunakan adalah injeksi botulinum toxin tipe A atau botox. Terapi ini direkomendasikan bagi pasien dengan migrain kronis, yaitu mereka yang mengalami sakit kepala lebih dari 15 hari per bulan. Botox bekerja dengan menghambat pelepasan neurotransmiter yang terlibat dalam jalur nyeri. Studi klinis menunjukkan bahwa injeksi botox setiap 12 minggu dapat mengurangi frekuensi hari migrain hingga sekitar 30%-50% pada sebagian pasien. Efek terapi ini bersifat preventif dan biasanya mulai terasa setelah beberapa minggu.

Selain botox, terapi berbasis antibodi monoklonal yang menargetkan calcitonin gene-related peptide (CGRP) juga menjadi standar baru dalam pencegahan migrain. Obat-obatan ini bekerja dengan memblokir CGRP atau reseptornya, molekul yang berperan penting dalam proses peradangan dan nyeri migrain. Data uji klinis menunjukkan penurunan rata-rata 4 hingga 8 hari migrain per bulan pada pasien yang menerima terapi CGRP secara rutin, baik melalui suntikan bulanan maupun infus berkala.

Di luar terapi farmakologis, teknologi neuromodulasi non-invasif berkembang pesat pada 2026. Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah perangkat getaran hidung atau intranasal stimulation. Alat ini dirancang untuk menstimulasi saraf trigeminal melalui rongga hidung menggunakan impuls getaran atau listrik berintensitas rendah. Stimulasi tersebut diyakini mampu memodulasi sinyal nyeri sebelum mencapai otak. Beberapa studi awal menunjukkan penggunaan perangkat ini dapat mengurangi intensitas nyeri migrain akut dalam waktu kurang dari satu jam.

Pendekatan multimodal kini menjadi fokus utama dalam penanganan migrain. Dokter semakin sering mengombinasikan terapi obat, perangkat neuromodulasi, serta perubahan gaya hidup seperti manajemen stres dan pola tidur teratur. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena migrain merupakan gangguan neurologis kompleks dengan banyak faktor pemicu.

Meski terapi terbaru menawarkan harapan besar, para ahli menekankan pentingnya konsultasi medis sebelum memilih metode pengobatan. Setiap pasien memiliki karakteristik migrain yang berbeda, sehingga efektivitas terapi dapat bervariasi. Perkembangan terapi migrain di 2026 mencerminkan langkah besar menuju pengobatan yang lebih personal dan berbasis sains. (World Health Organization/American Headache Society/The Lancet Neurology/Neurology Journal/International Headache Society/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya