Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah persaingan ketat negara-negara besar memperebutkan akses logam tanah jarang (rare earth elements), para ilmuwan menemukan solusi mengejutkan. Material berharga yang menjadi komponen kunci baterai, magnet, dan perangkat energi terbarukan ini ternyata bisa dipanen tanpa perlu menggali tambang konvensional.
Salah satu metode paling inovatif datang dari laboratorium University of Vienna. Para ilmuwan di sana menggunakan jaringan jamur atau miselium untuk menyerap logam berharga tersebut dari tanah yang sengaja dikontaminasi. Proses yang disebut "mycomining" ini memanfaatkan kemampuan alami jamur untuk menarik nutrisi sekaligus mineral dari sekitarnya.
Alexander Bismarck dan Mitchell Jones, peneliti yang mempublikasikan konsep ini pada 2024, membayangkan penggunaan jamur dalam skala besar untuk memulihkan lahan terkontaminasi industri. Biomassa jamur yang telah menyerap logam kemudian diproses menjadi biogas, sementara logam tanah jarang dipisahkan dari sisa abu pembakarannya.
"Kita benar-benar bisa melakukan ini di area yang luas dan mengumpulkan biomassa tersebut dengan cukup mudah menggunakan mesin pertanian yang ada," ungkap Jones, meski ia mengakui teknologi ini masih dalam tahap pengembangan lebih lanjut.
Selain jamur, limbah elektronik dan sisa pembakaran batu bara (abu terbang) kini dipandang sebagai "tambang" potensial. Di Amerika Serikat, nilai logam tanah jarang yang tersembunyi dalam tumpukan abu batu bara diperkirakan mencapai US$8,4 miliar (sekitar Rp132 triliun).
James Tour, profesor dari Rice University, mengembangkan proses bernama flash joule heating. Metode ini menggunakan arus listrik untuk memanaskan material limbah hingga ribuan derajat Celsius dalam sekejap, memungkinkan logam tanah jarang dilepaskan sebagai uap untuk kemudian ditangkap kembali. Peralatan ini bersifat portabel sehingga bisa dibawa langsung ke lokasi tumpukan limbah menggunakan truk.
Limbah industri seperti "lumpur merah" (red mud) hasil pengolahan aluminium juga menjadi target utama. Perusahaan ElementUSA berencana mulai mengoperasikan pabrik prototipe pada 2028 untuk mengekstraksi skandium dan galium dari limbah tersebut. Skandium sendiri sangat berharga untuk membuat paduan logam pesawat yang lebih ringan dan hemat bahan bakar.
Julie Klinger, pakar studi lingkungan dari University of Wisconsin-Madison, melihat tren ini sebagai masa depan industri ekstraktif. "Jika kita melihat limbah dengan pandangan baru, kita akan melihat gambaran yang berbeda dalam hal kelangkaan dan kelimpahan. Mencari cara mendapatkan material yang kita butuhkan tanpa menggali lubang di tanah adalah jalan yang harus kita tempuh," kata Klinger.
Melalui pendekatan ini, negara-negara dapat memenuhi kebutuhan mineral strategis mereka secara domestik sekaligus membersihkan lingkungan dari limbah beracun. Industri dan aktivis lingkungan yang biasanya berseberangan kini berpotensi menjalin "simbiosis" untuk mengubah sampah menjadi harta karun teknologi. (BBC/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved