Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Tips Menjadi Akuntan Publik Masa Depan sejak Mahasiswa

Media Indonesia
05/2/2026 21:27
Tips Menjadi Akuntan Publik Masa Depan sejak Mahasiswa
Michell Suharli (dua dari kanan).(MI/HO)

DI tengah gempuran outcome artificial intelligence, otomatisasi, dan disrupsi digital, banyak yang meragukan masa depan profesi akuntan publik. Namun bagi CEO SW Indonesia, Michell Suharli, justru sebaliknya. Profesi ini sedang memasuki fase paling strategis dalam sejarah bisnis modern.

Hal tersebut disampaikan Michell dalam Business Talk bertema Strengthening Accounting Competence For The Future yang digelar Universitas Bunda Mulia Kampus Serpong, Kamis (5/2/2026). Ia menegaskan bahwa akuntan publik masa depan tidak lagi diposisikan sebagai tukang hitung atau tukang periksa, melainkan sebagai garda pembangunan, simbol kepercayaan publik, penjaga integritas, sekaligus mitra strategis yang independen bagi pengambil keputusan.

"Teknologi bisa menggantikan proses, tetapi tidak bisa menggantikan professional judgement, keberanian moral, dan tanggung jawab publik. Justru di situ nilai seorang future-ready auditor," tegas Michell.

Menurutnya, tantangan terbesar profesi saat ini bukanlah AI, melainkan kesiapan sumber daya manusia untuk berubah. Otomatisasi mengambil alih pekerjaan rutin, sehingga menuntut akuntan publik untuk naik kelas (up-scalling) yaitu menguasai data analytics, memahami model bisnis, membaca risiko, serta mampu menerjemahkan angka menjadi insight strategis.

Namun di balik tantangan tersebut, Michell melihat peluang besar. Profesi ini menawarkan eksposur lintas industri, percepatan pembelajaran, dan jalur karier yang luas, mulai dari audit, advisori, manajemen risiko, hingga kepemimpinan korporasi. Inilah yang membuat profesi auditor tetap relevan, menarik, dan powerful dalam ekosistem bisnis.

Ia menekankan bahwa kesiapan tersebut harus dibangun sejak mahasiswa. Bukan hanya lewat prestasi akademik, tetapi melalui pengembangan pola pikir kritis, kemampuan komunikasi, literasi teknologi, serta keberanian mengambil sikap profesional.

"Mahasiswa jangan hanya bertanya, 'Bagaimana lulus?' tetapi 'Siapa saya saat lulus?' Future-ready accountant itu bukan sekadar pintar, tetapi punya karakter. Auditor tidak bekerja hanya untuk klien, melainkan untuk menjaga kepentingan publik," ujar mantan organisatoris kampus era reformasi 1998 ini.

Lebih jauh, Michell mendorong civitas akademika untuk berani mentransformasi pendidikan akuntansi. Kurikulum perlu melampaui standar teknis dengan memasukkan pembelajaran berbasis kasus nyata, integrasi etika dalam setiap mata kuliah serta penguatan riset tentang tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas. 

Menurutnya, kampus memegang peran kunci dalam mencetak profesional yang tidak hanya siap kerja, tetapi siap memimpin perubahan. Pendidikan dan penelitian harus diarahkan untuk membentuk akuntan yang adaptif terhadap teknologi, tajam secara analitis, dan teguh dalam integritas. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik