Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, Archaeopteryx dikenal sebagai jembatan antara dinosaurus dan burung karena bulu dan sayapnya. Namun, sebuah studi terbaru terhadap spesimen "Chicago Archaeopteryx" di Field Museum mengungkapkan adaptasi burung modern ternyata sudah dimulai dari mulut, jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Innovation ini menunjukkan fitur mulut burung modern ternyata sudah ada sejak 150 juta tahun yang lalu. Temuan ini didapat setelah tim preparator menghabiskan waktu lebih dari satu tahun untuk membersihkan fosil dari batuan kapur secara sangat teliti.
"Satu-satunya alasan struktur di mulut Archaeopteryx ini ditemukan adalah karena preparator kami melakukan pekerjaan yang sangat teliti pada fosil ini," ujar Jingmai O’Connor, kepala penulis studi sekaligus kurator asosiasi fosil reptil di Field Museum.
Menggunakan bantuan lampu ultraviolet (UV) untuk mendeteksi jaringan lunak yang halus, tim menemukan titik-titik kecil yang bersinar di bagian tengkorak. Titik-titik tersebut diidentifikasi sebagai oral papillae atau papila mulut.
"Bayangkan jika daging di langit-langit mulut Anda memiliki barisan kerucut berdaging kecil, itulah yang dimiliki burung, dan itu disebut papila mulut," jelas O’Connor. Fitur ini berfungsi membantu mengarahkan makanan ke kerongkongan dan mencegahnya masuk ke saluran pernapasan. Ini adalah laporan pertama mengenai keberadaan papila mulut pada Archaeopteryx maupun pada fosil apa pun.
Selain papila, peneliti menemukan potongan tulang kecil yang merupakan bagian dari sistem tulang lidah (hyoid). Keberadaan tulang ini menandakan bahwa Archaeopteryx memiliki lidah yang sangat fleksibel untuk memanipulasi makanan, serupa dengan burung masa kini.
Pemindaian CT juga mengungkap adanya saluran saraf di ujung paruh yang mirip dengan organ ujung paruh (bill-tip organ) pada burung modern. Organ sensorik ini membantu burung mendeteksi tekstur makanan saat mematuk atau mencari makan.
Kombinasi antara papila langit-langit, tulang lidah, dan ujung paruh yang sensitif menunjukkan bahwa burung purba ini telah bergeser ke gaya makan berefisiensi tinggi. Hal ini sangat krusial karena terbang membutuhkan energi yang sangat besar.
"Burung memiliki sistem pencernaan yang super efisien, segalanya dimodifikasi untuk memaksimalkan efisiensi makan dan kalori yang dapat mereka ambil dari makanan. Dan sistem pencernaan dimulai dari mulut," tambah O’Connor.
Temuan ini tidak hanya mengubah cara ilmuwan memandang Archaeopteryx, tetapi juga memberikan kriteria baru untuk membedakan mana dinosaurus darat dan mana yang sudah benar-benar menyeberang ke wilayah burung (penerbang). Terbukti, evolusi terbang tidak hanya mengubah bentuk sayap, tetapi juga merombak cara makan sejak gigitan pertama. (Earth/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved