Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM sejarah botani, jarang ada tanaman yang memiliki reputasi sebesar Deadly Nightshade (Atropa belladonna). Tanaman ini dikenal secara paradoks: sebagai halusinogen rekreasi, racun mematikan untuk pembunuhan, hingga komponen penting dalam kotak medis modern.
Meski namanya menyeramkan, Deadly Nightshade berasal dari keluarga Solanaceae, yang juga menaungi bahan pangan populer seperti tomat, kentang, terong, dan cabai. Namun, sisi gelap keluarga ini menyimpan tanaman dengan senyawa botani yang sangat kuat dan beracun, termasuk tembakau, datura, dan mandrake.
Deadly Nightshade adalah tanaman herba asli Eropa, Afrika Utara, dan Asia Barat. Seluruh bagian tubuhnya beracun, dengan konsentrasi tertinggi pada akarnya. Buahnya yang berwarna hitam pekat tampak menggoda, namun sangat berbahaya; hanya dua buah beri saja cukup untuk membunuh seorang anak kecil.
Sejarah tanaman ini bermula dari zaman Yunani dan Romawi kuno. Pengikut dewa Dionisius sering mencampurkan beri ini ke dalam anggur untuk mencapai keadaan trans atau halusinasi.
Memasuki Abad Pertengahan, tanaman ini mulai dikaitkan dengan dunia sihir. Para penyihir di masa itu diyakini membuat "salep terbang" dari campuran nightshade dan lemak beruang. Menariknya, penggunaan salep ini pada area sensitif tubuh untuk memicu halusinasi dianggap sebagai asal-usul legenda penyihir yang mengendarai sapu terbang.
Istilah ilmiah Atropa belladonna memiliki arti "perempuan cantik" dalam bahasa Italia. Pada era Renaissance, wanita Italia menggunakan tetes mata dari ekstrak tanaman ini untuk memperlebar pupil mereka agar terlihat lebih memikat di pesta topeng. Namun, kecantikan ini berharga mahal, penggunaan kronis tetes mata tersebut sering kali berakhir pada kebutaan.
Dalam literatur klasik, Shakespeare menggunakan tanaman ini dalam lakon Macbeth sebagai senjata biologis untuk meracuni pasokan minuman keras tentara Denmark.
Meski beracun, Deadly Nightshade adalah pilar penting dalam kedokteran. Senyawa utamanya, Atropin, bekerja menghambat sistem saraf parasimpatik. Di masa Perang Saudara Amerika, belladonna digunakan untuk mengobati batuk rejan hingga kram usus.
Saat ini, meski keracunan nightshade dapat menyebabkan delirium dan gagal napas, kemajuan teknologi medis seperti respirator telah menekan angka kematian secara drastis. Ironisnya, atropin kini menjadi standar medis untuk resusitasi jantung. Dengan kemampuannya meningkatkan detak jantung seseorang yang telah berhenti, tanaman yang dulu dijuluki "beri pembunuh" ini sekarang justru lebih banyak menyelamatkan nyawa daripada mencabutnya. (Earth/Z-2)
Beberapa tanaman hias mengandung zat beracun yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada hewan peliharaan, mulai dari iritasi mulut hingga gagal ginjal.
KECUBUNG memiliki sisi dualisme yaitu dapat dijadikan sebagai obat dan juga racun dan dikategorikan sebagai tumbuhan yang bersifat halusinogen dan tidak boleh digunakan secara bebas.
Peneliti menemukan wilayah yang terkena serbuan hogweed bisa diberantas dengan menggembalakan domba di sekitarnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved