Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Obat Baru Peneliti Australia Sukses Redam Sepsis dalam Uji Klinis

Thalatie K Yani
01/2/2026 08:43
Obat Baru Peneliti Australia Sukses Redam Sepsis dalam Uji Klinis
Ilustrasi(freepik)

PARA peneliti dari Griffith University, Australia, melaporkan kemajuan signifikan dalam upaya pengobatan sepsis. Sebuah kandidat obat baru yang dikembangkan menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam mengurangi tingkat keparahan sepsis melalui uji klinis Fase II yang melibatkan 180 pasien di Tiongkok.

Sepsis merupakan kondisi medis darurat yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap infeksi, sehingga justru menyerang jaringan dan organ tubuhnya sendiri. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab utama kematian dan cacat jangka panjang di seluruh dunia.

Obat eksperimental yang diberi nama STC3141 ini merupakan terapi berbasis karbohidrat. Pengembangan obat ini adalah hasil kolaborasi antara tim Profesor Mark von Itzstein AO dari Griffith's Institute for Biomedicine and Glycomics dengan tim Profesor Christopher Parish dari The Australian National University.

Bekerja dengan Menenangkan Reaksi Imun

Selama uji klinis, STC3141 diberikan kepada pasien melalui infus. Obat ini dirancang khusus untuk menetralisir pelepasan molekul biologis utama yang memicu peradangan luas dan kerusakan organ saat seseorang mengalami sepsis.

Sebagai terapi molekul kecil, STC3141 bekerja dengan cara yang unik. Alih-alih hanya mengelola gejala yang muncul, obat ini berpotensi memperbaiki kerusakan pada organ tubuh.

"Uji coba tersebut memenuhi poin akhir utama yang menunjukkan bahwa kandidat obat ini berhasil mengurangi sepsis pada manusia," ungkap Profesor von Itzstein.

Menutup Celah Kebutuhan Medis Global

Hingga saat ini, belum ada terapi spesifik "anti-sepsis" yang tersedia di pasar medis global, sehingga penanganan selama ini hanya bersifat suportif. Hal inilah yang membuat temuan STC3141 menjadi langkah maju yang sangat krusial.

Profesor von Itzstein memperingatkan betapa bahayanya jika sepsis tidak segera ditangani.

"Ketika sepsis tidak dikenali sejak dini dan dikelola dengan cepat, hal itu dapat menyebabkan syok septik, kegagalan banyak organ, hingga kematian," jelasnya.

Langkah Menuju Produksi Massal

Keberhasilan uji coba Fase II yang dilakukan Grand Pharmaceutical Group Limited (Grand Pharma) membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut. Rencananya, obat ini akan segera memasuki uji klinis Fase III untuk mengevaluasi efektivitasnya dalam skala yang lebih luas.

Jika proses ini berjalan lancar, Profesor von Itzstein optimis pengobatan ini akan segera tersedia untuk masyarakat umum dalam beberapa tahun ke depan. "Diharapkan kita dapat melihat pengobatan ini mencapai pasar dalam beberapa tahun lagi, yang berpotensi menyelamatkan jutaan nyawa," tambahnya.

Direktur Eksekutif Institute for Biomedicine and Glycomics, Profesor Paul Clarke, menyambut baik pencapaian ini sebagai riset translasional yang memberikan dampak nyata secara global dalam mentransformasi kehidupan manusia. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya