Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Swasembada Pangan di Tengah Ancaman Wereng dan Virus Kerdil: Alarm dari Kampus IPB

Basuki Eka Purnama
29/1/2026 10:47
Swasembada Pangan di Tengah Ancaman Wereng dan Virus Kerdil: Alarm dari Kampus IPB
Ilustrasi--Petani merontokkan bulir padi di Desa Supiturang, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (30/10/2025).(ANTARA/Irfan Sumanjaya)

CAPAIAN swasembada beras yang tengah dibanggakan Indonesia saat ini belum sepenuhnya berada dalam posisi aman. Para ahli perlindungan tanaman memperingatkan bahwa perubahan cuaca ekstrem yang membawa hujan lebih sering, suhu hangat, serta kelembapan tinggi tengah menciptakan kondisi ideal bagi ledakan populasi hama dan penyakit.

Ancaman serius ini datang dari wereng batang cokelat (WBC) dan penyakit virus kerdil padi. Keduanya merupakan momok bagi petani yang dapat memicu kegagalan panen secara masif. 

Peringatan tersebut mengemuka dalam Webinar Dokter Tanaman Series: "Waspada! Antisipasi Virus Kerdil Padi" yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (Himasita) IPB University, Minggu (25/1).

Tim Himasita IPB University melaporkan bahwa gejala penyakit kerdil dan kemunculan kembali wereng batang cokelat mulai terdeteksi di sejumlah wilayah produktif, mulai dari Lumajang, Subang, Tulungagung, Sragen, hingga Padang Pariaman. 

Fenomena ini menjadi sinyal kuat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Widodo, menekankan pentingnya melihat persoalan ini secara lintas batas. 

Menurutnya, wereng tidak mengenal batas administrasi desa maupun kabupaten, sehingga pengendalian yang bersifat individu tidak akan efektif.

"Tanaman sehat itu bukan kebetulan. Ia lahir dari tanah yang terkelola baik, nutrisi seimbang, lingkungan yang mendukung, serta sistem budi daya yang ramah ekosistem," ujar Prof. Widodo di hadapan 450 peserta daring.

Khamim Ashari, praktisi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) senior dari Lamongan, menambahkan bahwa kunci utama menjaga stabilitas produksi terletak pada upaya preemtif atau pencegahan secara kolektif. 

Ia mengingatkan agar petani tidak bergerak sendiri-sendiri dalam menghadapi serangan hama yang bersifat masif.

"Kalau satu hamparan bergerak bersama, risiko bisa ditekan. Tapi kalau jalan sendiri-sendiri, wereng akan selalu menemukan celah," tandas Khamim.

Menurutnya, virus kerdil hampa maupun kerdil rumput menyebar sangat cepat jika pengelolaan di lapangan lengah, terutama pada fase awal pertumbuhan. 

Strategi jangka panjang seperti tanam serempak, penggunaan varietas toleran, pemupukan seimbang, serta pemanfaatan musuh alami harus dilakukan sejak tahap perencanaan tanam.

Selain aspek teknis, keberhasilan perlindungan tanaman juga sangat bergantung pada kebijakan lokal. Khamim mencontohkan Desa Besur di Lamongan, di mana pemerintah desa berani mendukung Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) melalui pendanaan Dana Desa. Hasilnya luar biasa; biaya budi daya menurun sementara produksi padi justru naik 3–5 ton per hektare.

"Di Besur, pemerintah desa berani mendukung SLPHT. Hasilnya, biaya budi daya turun dan produksi naik 3–5 ton per hektar. Ini bukti bahwa SLPHT dan kebijakan lokal bisa membuat pertanian jauh lebih tangguh," ungkapnya.

Melalui forum Dokter Tanaman ini, IPB University berharap dapat mendorong sistem perlindungan tanaman yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim sekaligus memperkuat jejaring antar-pelaku pertanian demi menjaga kedaulatan pangan nasional. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya