Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Polusi Cahaya Kota Picu Musim Alergi Lebih Panjang, Ini Penjelasannya

Thalatie K Yani
28/1/2026 10:02
Polusi Cahaya Kota Picu Musim Alergi Lebih Panjang, Ini Penjelasannya
Ilustrasi(freepik)

TERANGNYA lampu jalan dan gedung di kawasan perkotaan ternyata membawa dampak tak terduga bagi kesehatan manusia. Sebuah studi terbaru mengungkapkan cahaya buatan di malam hari (Artificial Light at Night atau ALAN) dapat menunda berakhirnya musim serbuk sari, sehingga polen penyebab alergi bertahan lebih lama di udara.

Fenomena ini mengubah waktu dan durasi paparan alergen bagi masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Dr. Lin Meng dari Universitas Vanderbilt menelusuri pola ini di wilayah Timur Laut Amerika Serikat. Ia menemukan bahwa malam yang lebih terang berkorelasi langsung dengan musim serbuk sari yang berakhir lebih lambat dan berlangsung lebih lama dari tahun ke tahun.

Cahaya Mengacaukan Jam Biologis Tanaman

Tanaman sangat bergantung pada siklus terang dan gelap. Banyak spesies mulai berbunga ketika panjang hari melewati ambang musim tertentu (fotoperiode). Cahaya buatan di malam hari menambah durasi cahaya yang dianggap tanaman sebagai waktu siang, sehingga menunda sinyal kegelapan yang seharusnya mengakhiri masa berbunga.

"Dampak ALAN terhadap akhir musim lebih besar daripada pengaruhnya terhadap awal musim," tulis Dr. Meng dalam studinya.

Cahaya malam ini menunda proses senescence atau penuaan alami daun yang menandai berakhirnya pertumbuhan. Akibatnya, pohon dan gulma tetap aktif memproduksi serbuk sari lebih lama meskipun musim seharusnya sudah berganti.

Lonjakan Hari Berisiko Tinggi

Studi yang menganalisis data tahun 2012–2023 ini menunjukkan perbedaan signifikan antara area terang dan gelap. Di wilayah dengan polusi cahaya tinggi, sebanyak 27% dari total durasi musim serbuk sari masuk dalam kategori tingkat keparahan tinggi. Sebaliknya, di wilayah yang tetap gelap di malam hari, angka tersebut hanya sebesar 17%.

Kondisi ini menjadi isu kesehatan publik yang serius. Menghirup partikel serbuk sari dapat memicu pelepasan histamin yang menyebabkan pembengkakan dan gatal-gatal selama berjam-jam. Dengan lebih dari 80% populasi dunia tinggal di bawah langit yang terpapar polusi cahaya, jutaan orang kini menghadapi risiko gangguan pernapasan yang lebih lama.

Solusi Melalui Penataan Kota

Meskipun suhu panas juga memengaruhi pertumbuhan tanaman, pola yang disebabkan oleh cahaya malam tetap konsisten. Artinya, kota tidak bisa hanya mengandalkan upaya pendinginan suhu untuk mengatasi masalah ini; pengurangan polusi cahaya adalah kunci lainnya.

Para ahli menyarankan beberapa langkah taktis bagi perencana kota:

  • Penggunaan Tudung Lampu: Mengarahkan cahaya lampu jalan ke bawah agar tidak mengenai dedaunan pohon.
  • Sensor Gerak dan Timer: Mematikan atau meredupkan lampu saat tidak diperlukan untuk mengurangi durasi paparan cahaya pada tanaman.
  • Pemilihan Jenis Pohon: Menanam spesies dengan tingkat alergen rendah di dekat sekolah atau pemukiman untuk menekan jumlah polen di udara.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PNAS Nexus ini menegaskan pilihan desain pencahayaan satu blok bangunan dapat berdampak pada kesehatan seluruh kota. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya