Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
TERANGNYA lampu jalan dan gedung di kawasan perkotaan ternyata membawa dampak tak terduga bagi kesehatan manusia. Sebuah studi terbaru mengungkapkan cahaya buatan di malam hari (Artificial Light at Night atau ALAN) dapat menunda berakhirnya musim serbuk sari, sehingga polen penyebab alergi bertahan lebih lama di udara.
Fenomena ini mengubah waktu dan durasi paparan alergen bagi masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Dr. Lin Meng dari Universitas Vanderbilt menelusuri pola ini di wilayah Timur Laut Amerika Serikat. Ia menemukan bahwa malam yang lebih terang berkorelasi langsung dengan musim serbuk sari yang berakhir lebih lambat dan berlangsung lebih lama dari tahun ke tahun.
Tanaman sangat bergantung pada siklus terang dan gelap. Banyak spesies mulai berbunga ketika panjang hari melewati ambang musim tertentu (fotoperiode). Cahaya buatan di malam hari menambah durasi cahaya yang dianggap tanaman sebagai waktu siang, sehingga menunda sinyal kegelapan yang seharusnya mengakhiri masa berbunga.
"Dampak ALAN terhadap akhir musim lebih besar daripada pengaruhnya terhadap awal musim," tulis Dr. Meng dalam studinya.
Cahaya malam ini menunda proses senescence atau penuaan alami daun yang menandai berakhirnya pertumbuhan. Akibatnya, pohon dan gulma tetap aktif memproduksi serbuk sari lebih lama meskipun musim seharusnya sudah berganti.
Studi yang menganalisis data tahun 2012–2023 ini menunjukkan perbedaan signifikan antara area terang dan gelap. Di wilayah dengan polusi cahaya tinggi, sebanyak 27% dari total durasi musim serbuk sari masuk dalam kategori tingkat keparahan tinggi. Sebaliknya, di wilayah yang tetap gelap di malam hari, angka tersebut hanya sebesar 17%.
Kondisi ini menjadi isu kesehatan publik yang serius. Menghirup partikel serbuk sari dapat memicu pelepasan histamin yang menyebabkan pembengkakan dan gatal-gatal selama berjam-jam. Dengan lebih dari 80% populasi dunia tinggal di bawah langit yang terpapar polusi cahaya, jutaan orang kini menghadapi risiko gangguan pernapasan yang lebih lama.
Meskipun suhu panas juga memengaruhi pertumbuhan tanaman, pola yang disebabkan oleh cahaya malam tetap konsisten. Artinya, kota tidak bisa hanya mengandalkan upaya pendinginan suhu untuk mengatasi masalah ini; pengurangan polusi cahaya adalah kunci lainnya.
Para ahli menyarankan beberapa langkah taktis bagi perencana kota:
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PNAS Nexus ini menegaskan pilihan desain pencahayaan satu blok bangunan dapat berdampak pada kesehatan seluruh kota. (Earth/Z-2)
Ilmuwan kembangkan teknologi unik mengolah serbuk sari menjadi kertas ramah lingkungan, spons, hingga penghantar obat. Temuan ini bisa ubah masa depan material.
Studi mengungkap benang sari pada bunga tidak hanya menghasilkan serbuk sari, juga mampu bergerak cepat layaknya “alat serang”.
Para peneliti berpendapat bahwa ketika iklim menghangat dan vegetasi bermekaran, serbuk sari dalam jumlah besar mungkin telah menyebabkan reaksi alergi pada mammoth
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved