Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Kiamat Antibiotik Mengintai: Mengapa Infeksi Biasa Kini Bisa Mematikan?

Thalatie K Yani
27/1/2026 14:00
Kiamat Antibiotik Mengintai: Mengapa Infeksi Biasa Kini Bisa Mematikan?
Ilustrasi(freepik)

BAYANGKAN Anda pergi ke rumah sakit karena infeksi telinga biasa, namun dokter berkata, "Kami kehabisan pilihan obat." Skenario ini bukan sekadar drama medis, melainkan realitas yang kian dekat. Pada 2016, seorang wanita di Nevada meninggal karena infeksi bakteri yang kebal terhadap seluruh 26 jenis antibiotik yang tersedia di Amerika Serikat saat itu.

Secara global, resistensi antimikroba (AMR) dikaitkan dengan hampir 5 juta kematian setiap tahun. Bakteri berevolusi secara alami untuk bertahan hidup, namun penyalahgunaan antibiotik dalam dunia medis dan pertanian telah mempercepat proses ini secara drastis.

Sebagai ahli mikrobiologi dan biokimia, saya melihat ada empat tren utama yang akan menentukan bagaimana masyarakat menghadapi "kiamat antibiotik" dalam satu dekade ke depan.

1. Diagnostik Cepat Berbasis AI

Selama puluhan tahun, dokter sering kali menebak-nebak dalam memberikan resep. Sebelum hasil laboratorium keluar, pasien sering diberikan antibiotik spektrum luas yang justru memberi celah bagi bakteri lain untuk beradaptasi.

Kini, teknologi kecerdasan buatan (AI), microfluidics, dan pengurutan genom memungkinkan identifikasi bakteri hanya dalam hitungan jam, bukan hari. Diagnostik presisi ini memungkinkan dokter memberikan obat yang tepat sasaran tanpa memicu resistensi lebih lanjut.

2. Melampaui Antibiotik Tradisional

Pengembangan antibiotik baru sangat lambat. Untuk mengatasinya, para peneliti mulai melirik terapi nontradisional. Salah satu yang paling menjanjikan adalah terapi bakteriofag, yaitu penggunaan virus khusus untuk membunuh bakteri jahat. Selain itu, alat penyunting gen seperti CRISPR sedang dikembangkan untuk melumpuhkan gen resistensi secara langsung di dalam bakteri.

3. Masalah Ekologi, Bukan Sekadar Masalah Rumah Sakit

Resistensi antibiotik tidak hanya menyebar di bangsal rumah sakit. Bakteri kebal bergerak melalui saluran air, limbah pertanian, hingga perdagangan global. Pendekatan One Health kini menjadi sangat penting, di mana solusi harus mengintegrasikan mikrobiologi, teknik lingkungan, dan kesehatan masyarakat untuk memutus rantai penyebaran di ekosistem.

4. Reformasi Kebijakan dan Inovasi Bisnis

Banyak perusahaan farmasi bangkrut karena biaya pengembangan antibiotik baru tidak sebanding dengan penjualannya. Untuk mengatasi ini, AS sedang mempertimbangkan UU PASTEUR, sebuah model pembayaran gaya langganan. Pemerintah akan membayar produsen untuk akses ke antibiotik kritis, bukan membayar per pil. Langkah ini diharapkan mampu merangsang kembali inovasi di laboratorium farmasi.

"Pertanyaannya sekarang bukanlah apakah ada solusi untuk resistensi antibiotik, melainkan apakah masyarakat akan bertindak cukup cepat untuk menggunakannya," tutup laporan tersebut. Kita sedang memasuki era diagnostik yang lebih cerdas dan strategi tingkat ekosistem yang lebih tangguh. Masa depan kesehatan modern bergantung pada seberapa cepat kita berkolaborasi menghadapi ancaman ini. (Live Science/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya