Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Kemasan Aseptik Jadi Kunci Distribusi Susu dalam Program MBG Nasional

Ihfa Firdausya
21/1/2026 03:01
Kemasan Aseptik Jadi Kunci Distribusi Susu dalam Program MBG Nasional
Managing Director PT Lami Packaging Indonesia Hongbiao Li (ketiga dari kiri) dan PR Manager PT Lami Packaging Indonesia, Ahmad Rizalmi (keempat dari kiri) saat menunjukkan contoh kemasan aseptik produk Lamipak di sela acara Konferensi Pers Anugerah Jurnal(Dok. PT Lami Packaging Indonesia)

RENDAHNYA tingkat konsumsi susu nasional masih menjadi salah satu tantangan dalam upaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia. Di tengah keterbatasan infrastruktur rantai dingin, khususnya di wilayah kepulauan dan daerah terpencil, distribusi susu yang aman dan bernutrisi menjadi persoalan krusial.

Dalam konteks inilah, kemasan aseptik dinilai memegang peranan strategis untuk mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi susu masyarakat Indonesia saat ini masih berada di kisaran 16,3 kilogram per kapita per tahun, jauh tertinggal dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Rendahnya konsumsi ini berpotensi menghambat upaya penurunan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, implementasi MBG yang menargetkan pemenuhan gizi anak-anak membutuhkan sistem distribusi pangan yang andal, termasuk untuk produk susu. Tantangan geografis Indonesia membuat ketergantungan pada rantai dingin tidak selalu memungkinkan, sehingga dibutuhkan solusi distribusi yang lebih adaptif.

Public Relations Manager PT Lami Packaging Indonesia, Ahmad Rizalmi, menjelaskan bahwa teknologi kemasan aseptik memungkinkan susu didistribusikan tanpa pendinginan, namun tetap menjaga kualitas dan keamanan nutrisi.

"Logistik di Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan suhu dan waktu. Kemasan aseptik dirancang dengan teknologi perlindungan berlapis yang memastikan nutrisi susu tetap utuh meski didistribusikan ke wilayah pelosok tanpa rantai dingin," ujarnya.

Kemasan aseptik melindungi susu dari paparan cahaya, udara, dan mikroorganisme, sehingga produk dapat memiliki masa simpan lebih panjang tanpa bahan pengawet. Hal ini dinilai penting untuk memastikan susu yang didistribusikan dalam program MBG memiliki kualitas yang seragam, baik di wilayah perkotaan maupun daerah terpencil.

Urgensi integrasi susu dalam MBG juga ditegaskan oleh Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia, Hongbiao Li. Menurutnya, susu memiliki peran strategis dalam pembangunan kualitas generasi muda.

"Susu bukan sekadar pelengkap, melainkan instrumen vital untuk memerangi stunting dan meningkatkan kecerdasan kognitif generasi muda. Integrasi susu dalam program Makan Bergizi Gratis menjadi langkah strategis untuk mendukung Indonesia Emas 2045," ujarnya dalam jumpa pers di Cikande, Serang, Banten, Selasa (20/1).

Namun demikian, Hongbiao menekankan bahwa keberhasilan integrasi susu dalam MBG tidak hanya bergantung pada ketersediaan produk, tetapi juga pada kesiapan sistem distribusi. Tanpa dukungan pengemasan yang memadai, manfaat gizi yang diharapkan berisiko tidak tersampaikan secara optimal kepada penerima manfaat.

Dari sisi industri, penguatan kapasitas produksi kemasan aseptik dalam negeri juga dinilai penting. Selama ini, kebutuhan kemasan aseptik Indonesia masih banyak bergantung pada impor. Dimulainya produksi kemasan aseptik lokal sejak 2024 menjadi tonggak dalam memperkuat kemandirian industri, meningkatkan efisiensi rantai pasok, serta mendukung keberlanjutan program pangan dan gizi nasional.

Anugerah jurnalistik
Sejalan dengan pentingnya peran kemasan aseptik dan urgensi peningkatan konsumsi susu, PT Lami Packaging Indonesia juga menyelenggarakan Anugerah Jurnalistik LamiPak (AJL) 2026. Ajang ini menjadi wadah bagi insan pers untuk mengawal isu ketahanan gizi nasional, termasuk integrasi susu dalam Program MBG, secara kritis dan berimbang.

Mengusung tema 'Satu Kotak Susu, Sejuta Harapan: Mengawal Ketahanan Gizi Menuju Indonesia Emas 2045', AJL 2026 mendorong jurnalis media cetak, daring, dan televisi untuk mengangkat isu nutrisi, distribusi susu, serta peran teknologi pengemasan dalam pemerataan akses gizi.

Melalui kategori Hard News dan Feature, karya jurnalistik yang dihasilkan diharapkan dapat memperkaya diskursus publik dan mendorong kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat. Sinergi tersebut dinilai menjadi kunci agar kebijakan pemenuhan gizi, termasuk MBG, dapat berjalan efektif dan berkelanjutan demi mendukung tercapainya Indonesia Emas 2045. (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Mirza
Berita Lainnya