Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

HUT ke-56 Media Indonesia: Bergerak, Berdampak

Ficky Ramadhan
19/1/2026 13:43
HUT ke-56 Media Indonesia: Bergerak, Berdampak
Perayaan HUT ke-56 Media Indonesia(MI/Ficky Ramadhan)

Media Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-56 dengan penuh rasa syukur dan kebanggaan. Mengangkat tema 'Bergerak, Berdampak', peringatan ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang Media Indonesia sekaligus ajakan untuk terus beradaptasi dan menghadirkan dampak nyata bagi publik, demokrasi, dan peradaban.

Direktur Utama Media Indonesia, Gaudensius Suhardi, mengajak seluruh insan Media Indonesia menengok kembali perjalanan yang telah dilalui, sembari menata langkah ke depan dengan optimisme.

“Tidak terasa, hari ini 56 tahun Media Indonesia berselancar di atas gelombang perubahan. Berselancar itu rasional, karena gelombang perubahan tidak bisa dihentikan. Yang abadi justru perubahan itu sendiri,” ujar Gaudensius dalam acara Syukuran HUT ke-56 Media Indonesia, Senin (19/1).

Gaudensius menegaskan, adaptasi menjadi kunci utama agar media tetap relevan di tengah perubahan zaman. Namun, adaptasi tersebut diarahkan untuk menjaga standar dan kualitas jurnalistik. Menurutnya, hanya media yang konsisten menjaga kualitas yang mampu bertahan. Karena itu, Media Indonesia terus melakukan transformasi, salah satunya dengan mencanangkan diri sebagai Media Indonesia Digital First (MIDF) sejak akhir tahun lalu.

“MIDF mengubah paradigma berpikir dari analog ke digital. Setiap informasi yang diperoleh di lapangan harus pertama-tama dan diutamakan hadir di platform digital,” jelasnya.

Ia berharap, melalui transformasi tersebut, Media Indonesia dapat terus bergerak dan memberi dampak nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Organisme yang Harus Dijaga

Sementara itu, Board of Advisors dan Dewan Pengarah Dewan Redaksi Media Group, Saur Hutabarat, menekankan bahwa media bukan sekadar institusi, melainkan organisme yang harus dijaga kesehatannya dan diperjuangkan umur panjangnya.

“Media itu juga organisme. Karena itu, ucapan yang sama layak diberikan: sehat dan panjang umur. Kesehatan media adalah urusan yang sangat serius,” ujar Saur.

Ia menambahkan, kesehatan media tidak bisa disederhanakan layaknya kesehatan fisik manusia. Faktor keberlanjutan dan usia panjang menjadi sangat krusial.

“Dengan usia Media Indonesia yang telah mencapai 56 tahun, wajar jika kini mulai membayangkan masa depan menuju usia 60 tahun dan seterusnya,” katanya.

Saur juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang belakangan menjadi pembahasan internal. Menurutnya, AI bersifat instrumental, sementara substansi utama media tetap terletak pada kualitas konten jurnalistik.

“Kecerdasan buatan itu alat. Yang harus terus dibicarakan dan diperdalam adalah substansinya, yaitu konten. Jurnalis tidak mati, tetapi medium bisa mati,” tegasnya.

Karena itu, menjaga keberlangsungan Media Indonesia bukan sekadar soal bisnis media, melainkan perjuangan yang lebih besar dan mendasar. Ia menilai, perjuangan tersebut hanya bisa dimenangkan melalui latihan intelektual yang panjang dan berkelanjutan, seraya menegaskan kembali pentingnya kemampuan beradaptasi.

“Bukan yang paling pintar, bukan yang paling hebat, bukan yang paling kaya, tetapi yang mampu beradaptasi,” pungkasnya.

Dengan semangat 'Bergerak, Berdampak', Media Indonesia meneguhkan komitmennya untuk terus berlayar di tengah gelombang perubahan, menjaga kualitas jurnalisme, dan memberikan kontribusi nyata bagi demokrasi serta peradaban Indonesia. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik