Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Pengertian Qalqalah: Hukum Bacaan, Jenis, dan Contoh Lengkap

Thalatie K Yani
15/1/2026 13:00
Pengertian Qalqalah: Hukum Bacaan, Jenis, dan Contoh Lengkap
Ilustrasi(Pinterest)

Dalam mempelajari cara membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar (tartil), memahami hukum bacaan tajwid adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Salah satu hukum yang paling sering dijumpai adalah pengertian qalqalah. Secara bahasa, qalqalah (قَلْقَلَة) memiliki arti gerak, getaran, atau pantulan. Sedangkan secara istilah dalam ilmu tajwid, qalqalah didefinisikan sebagai membunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara yang memantul atau bergetar ketika huruf tersebut mati (sukun), baik karena sukun asli maupun karena waqaf (berhenti).

Pantulan bunyi ini terjadi karena adanya tekanan kuat pada makhraj (tempat keluarnya huruf) saat melafalkannya. Tanpa pantulan ini, huruf-huruf tersebut akan terdengar samar atau bahkan hilang, yang dapat berpotensi mengubah makna ayat. Oleh karena itu, menguasai teknik pantulan ini sangat krusial untuk menjaga keaslian bunyi huruf Al-Qur'an.

Huruf-Huruf Qalqalah

Tidak semua huruf hijaiyah dibaca dengan cara memantul. Hukum bacaan qalqalah hanya berlaku pada lima huruf tertentu. Untuk memudahkan dalam menghafal, para ulama tajwid sering merangkainya dalam kalimat singkatan "Baju Di Toko" atau dalam bahasa Arab "Qutbu Jaddin" (قُطْبُ جَدٍّ). Kelima huruf tersebut adalah:

  • Qaf (ق)
  • Tha (ط)
  • Ba (b)
  • Jim (ج)
  • Dal (d)

Apabila salah satu dari kelima huruf ini berharakat sukun (mati), maka wajib bagi pembaca Al-Qur'an untuk melafalkannya dengan suara yang memantul.

Pembagian Jenis Qalqalah

Dalam praktiknya, hukum bacaan qalqalah terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu Qalqalah Sugra (kecil) dan Qalqalah Kubra (besar). Namun, sebagian ulama juga menambahkan kategori ketiga yaitu Qalqalah Akbar untuk kondisi yang lebih spesifik. Berikut adalah penjelasannya:

1. Qalqalah Sugra (Kecil)

Qalqalah Sugra terjadi apabila salah satu huruf qalqalah berharakat sukun (mati) asli dan posisinya berada di tengah kata. Disebut "sugra" atau kecil karena pantulan suaranya tidak terlalu kuat, melainkan hanya getaran ringan untuk memperjelas huruf tersebut tanpa memutus bacaan.

Contoh penerapannya dapat ditemukan pada Surat Al-Quraysh ayat 4, pada kata ath'amahum (huruf Tha sukun):

الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ

Pada ayat di atas, huruf Tha (ط) dibaca memantul dengan ringan karena berada di tengah kalimat dan memiliki sukun asli.

2. Qalqalah Kubra (Besar)

Qalqalah Kubra terjadi apabila huruf qalqalah berada di akhir kata atau ayat, dan dimatikan karena waqaf (berhenti), padahal harakat asalnya adalah hidup (fathah, kasrah, atau dammah). Disebut "kubra" karena pantulannya harus terdengar lebih jelas dan kuat dibandingkan sugra.

Contoh yang paling populer terdapat dalam Surat Al-Ikhlas ayat 1, pada kata Ahad (huruf Dal diwaqafkan):

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

Huruf Dal (د) pada akhir ayat tersebut aslinya berharakat dammahtain, namun karena berhenti (waqaf), maka dibaca sukun dengan pantulan yang kuat.

3. Qalqalah Akbar (Paling Besar)

Tingkatan tertinggi adalah Qalqalah Akbar. Hukum ini berlaku jika huruf qalqalah berada di akhir kalimat dalam keadaan bertasydid dan diwaqafkan. Pantulannya harus lebih menekan dan lebih kuat daripada Qalqalah Kubra.

Contoh nyata terdapat pada Surat Al-Lahab ayat 1, pada kata watabb:

تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ

Pada kata terakhir, huruf Ba (ب) memiliki tasydid. Saat berhenti, penekanannya harus ditahan sejenak (karena tasydid) baru kemudian dipantulkan dengan kuat.

Cara Membaca Qalqalah yang Benar

Kesalahan umum yang sering terjadi saat membaca qalqalah adalah menambahkan bunyi harakat lain atau memantulkannya seperti huruf vokal tertentu. Berikut adalah panduan agar bacaan tetap fasih:

  1. Jangan Menambah Hamzah: Pantulan tidak boleh diakhiri dengan suara hamzah mati (seperti bunyi 'k' di akhir kata dalam bahasa Indonesia). Pantulan harus murni bunyi huruf tersebut.
  2. Tidak Condong ke Harakat Lain: Suara pantulan harus netral, tidak condong ke bunyi fathah, kasrah, atau dammah, kecuali menurut sebagian pendapat ulama yang mengatakan jika qalqalah kubra boleh sedikit condong ke harakat sebelumnya atau fathah, namun pendapat yang masyhur adalah memantul murni.
  3. Perhatikan Tempo: Pada Qalqalah Sugra, pantulan dilakukan dengan cepat dan mengalir. Sedangkan pada Qalqalah Kubra dan Akbar, pantulan dilakukan setelah huruf tersebut benar-benar mati sempurna.

Pentingnya Mempelajari Hukum Qalqalah

Mempelajari pengertian qalqalah dan cara bacanya bukan sekadar teori, melainkan praktik ibadah. Kesalahan dalam memantulkan huruf atau mengabaikannya dapat mengubah struktur kata dalam bahasa Arab. Misalnya, membedakan antara huruf yang harus dipantulkan dan yang tidak, akan sangat berpengaruh pada kejelasan makna ayat yang dibaca.

Dengan memahami pembagian qalqalah sugra dan kubra, kita dapat membaca Al-Qur'an dengan lebih tartil, indah, dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Teruslah berlatih dengan mendengarkan murottal dari para Syekh yang fasih atau belajar langsung dengan guru (talaqqi) untuk menyempurnakan bacaan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya