Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Pakar UGM Bilang Superflu Bisa Berakibat Fatal Bagi yang Rentan

Agus Utantoro
09/1/2026 20:51
Pakar UGM Bilang Superflu Bisa Berakibat Fatal Bagi yang Rentan
Tenaga kesehatan dengan melakukan tes usap atau swab test pasien saat penapisan gejala influenza di Puskesmas Serpong 1.(Antara)

KASUS influenza subclade K atau yang dikenal dengan sebutan superflu ditemukan ada 62  kasus di Indonesia. Kasus terbanyak tercatat di Jawa Timur, disusul Kalimantan Selatan dan Jawa Barat.

Hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) kasus Influenza A subclade K telah terdeteksi sejak Agustus 2025 dan per Desember 2025 telah terkumpul sebanyak 62 kasus. Meskipun virus influenza A subclade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan, akan tetapi potensi dari virus ini akan mengakibatkan pandemi sehingga perlu diwaspadai. Berdasarkan kabar terbaru, 1 orang meninggal dunia di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung usai terjangkit superflu.

Dosen Mikrobiologi FK-KMK UGM, Tri Wibawa, mengatakan bahwa virus influenza A subclade K secara genetik memiliki perbedaan dengan virus yang sebelumnya bersirkulasi. Meskipun begitu, dapat dipastikan bahwa subclade K ini tetap memiliki kekerabatan yang dekat dengan virus flu musiman yang kerap dialami oleh banyak orang. 

Para ahli virus menganggap bahwa saat ini belum ada tanda yang menunjukkan sesuatu yang tidak biasa dalam cara virus ini berevolusi, sebab virus tersebut selalu berubah dalam rangka revolusinya. 

“Sejauh ini, tidak ada bukti dari studi laboratorium maupun studi populasi bahwa varian ini dapat menghindari kekebalan tubuh manusia yang terbentuk oleh infeksi influenza sebelumnya atau dari vaksin yang telah didapatkan,” jelasnya, Jumat (9/1). 

Menurut Tri penggunaan nama superflu’pada varian virus ini bukanlah istilah ilmiah. Berdasarkan bukti yang ada selama ini, belum indikasi bahwa influenza A subclade K dibandingkan virus influenza H3N2 lain yang telah beredar selama ini. Tetapi, tetap perlu waspada dengan virus ini. “Harus tetap waspada, karena virus influenza H3N2 memang dapat berakibat fatal pada orang yang rentan, seperti lansia,” jelasnya. 

TERUS BERUBAH
Tri menjelaskan bahwa varian influenza A subclade K mengalami perubahan dari waktu ke waktu, berdasarkan dari sifat materi genetik (RNA) yang dibawanya. Dari perubahan genetik kecil yang terjadi tersebut, dapat menghasilkan virus-virus varian baru yang berkerabat dekat. 

Menurut Tri dengan perubahan virus yang cepat dan muncul varian baru yang secara signifikan berbeda akan memengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia. “Ada potensi akan menyebabkan sistem kekebalan manusia menjadi tidak mampu untuk melawan, dan konsekuensi lainnya, seperti penularan yang lebih cepat,” terang Tri. 

Ditegaskan dari penularan varian virus ini dengan cara menerapkan etika batuk yang baik, menggunakan masker bagi untuk orang yang sedang mengalami gejala flu, mencuci tangan secara periodik, beristirahat cukup, serta memastikan ruangan memiliki ventilasi yang cukup. 

Menurutnya vaksinasi tetap dilakukan untuk kelompok rentan. “Vaksinasi tetap dianjurkan untuk kelompok rentan, seperti anak-anak, orang lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis,” ujarnya.

PENYEBAB SUPERFLU
Sehari sebelumnya, di RS Sardjito Yogyakarta, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengemukakan penyebab superflu bukanlah virus baru seperti covid-19, melainkan varian baru dari virus influenza A yang sudah lama dikenal dunia medis.

Menurut Menkes, Superflu yang saat ini ramai dibicarakan merupakan varian K dari virus H3N2. Virus ini telah ada selama puluhan tahun dan berbeda dengan covid-19 yang sebelumnya muncul sebagai virus baru sehingga daya tahan tubuh manusia belum mengenalnya. 

“Kalau superflu ini sebenarnya influenza A, H3N2. Virusnya sudah ada puluhan tahun, hanya varian baru,” jelas Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin di Yogyakarta, Kamis (8/1).

Karena virusnya bukan hal baru, imunitas masyarakat dinilai sudah cukup mengenal karakter virus tersebut. Menkes menyebut, selama kondisi tubuh sehat, risiko dampak berat relatif kecil dan tidak perlu menimbulkan kepanikan berlebihan. “Kalau badan sehat, makan cukup, tidur cukup, olahraga cukup, seharusnya tidak ada masalah,” ujar Menkes.

Menkes juga menekankan bahwa hingga saat ini belum ada laporan kematian akibat superflu. Gejala yang muncul pun serupa dengan flu biasa, sehingga tingkat kesembuhannya tinggi. (E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya