Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
ANAK-anak yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid berisiko lebih tinggi mengalami gejala berat apabila terinfeksi influenza, khususnya influenza tipe A. Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius bagi orang tua, terutama di tengah musim penghujan yang identik dengan meningkatnya kasus penyakit menular.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa influenza pada anak tidak dapat dianggap sebagai penyakit ringan, terlebih pada anak dengan komorbid. Infeksi influenza pada kelompok ini berpotensi berkembang menjadi kondisi serius dan berbahaya.
“Influenza tipe A ini sangat berbahaya apabila mengenai anak dengan komorbid,” ujar dr. Piprim dalam media briefing daring, Senin (29/12).
Menurut dr. Piprim, anak dengan komorbid memiliki daya tahan tubuh yang lebih rentan. Ketika terpapar virus influenza, terutama influenza tipe A, risiko komplikasi yang muncul jauh lebih besar dibandingkan anak tanpa penyakit penyerta.
Kelompok anak dengan komorbid meliputi mereka yang memiliki riwayat:
“Anak-anak dengan komorbid seperti ini apabila tertular influenza A, apalagi yang tipe baru atau subclade K, tentu saja akan berakibat lebih serius dibanding anak-anak tanpa komorbid,” jelasnya.
Dr. Piprim juga menyoroti bahwa beberapa jenis influenza dapat bersifat subklinis atau tidak langsung menunjukkan gejala yang jelas. Kondisi ini membuat infeksi kerap terlambat terdeteksi dan berisiko menembus kekebalan tubuh yang sudah terbentuk sebelumnya.
Oleh karena itu, langkah pencegahan dinilai menjadi kunci utama dalam melindungi anak, khususnya anak-anak dengan komorbid, dari risiko infeksi influenza yang berat.
IDAI menekankan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai langkah dasar pencegahan. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker saat sakit, serta menghindari kerumunan dapat membantu menurunkan risiko penularan influenza, terutama selama musim penghujan.
Selain PHBS, IDAI juga merekomendasikan imunisasi influenza sebagai upaya perlindungan yang efektif. Imunisasi influenza dianjurkan diberikan kepada anak mulai usia enam bulan ke atas.
Sementara itu, untuk bayi yang belum mencapai usia enam bulan, perlindungan dapat dilakukan melalui imunisasi influenza pada ibu hamil. Langkah ini dinilai efektif melindungi bayi, termasuk bayi prematur, dari risiko infeksi influenza berat.
“Imunisasi yang diberikan pada ibu hamil dan orang-orang dewasa di sekitar anak bisa menjadi salah satu upaya untuk melindungi bayi dan anak-anak dengan komorbid yang belum mendapatkan imunisasi,” kata dr. Piprim.
Dr. Piprim menambahkan bahwa meskipun imunisasi influenza tidak selalu sepenuhnya mencegah penularan, manfaatnya tetap sangat besar. Imunisasi terbukti dapat menurunkan risiko komplikasi berat hingga kematian akibat infeksi influenza, terutama pada kelompok rentan.
Berdasarkan hal tersebut, IDAI mendorong masyarakat untuk tidak ragu melakukan imunisasi influenza, khususnya bagi anak-anak dengan komorbid dan kelompok berisiko tinggi lainnya.
Dengan meningkatnya kasus penyakit menular di musim hujan, orang tua diimbau untuk lebih waspada, memastikan anak menerapkan PHBS, serta melengkapi imunisasi sesuai anjuran tenaga kesehatan. (Liputan IDAI/Z-10)
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Superflu merupakan sebutan populer untuk menggambarkan peningkatan signifikan kasus flu yang dipicu oleh strain tertentu.
Terkait perlindungan pada anak, IDAI merekomendasikan pemberian vaksin influenza dimulai sejak usia enam bulan.
Meningkatnya pemberitaan mengenai penyakit yang disebut sebagai super flu memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait perlunya penggunaan obat antivirus untuk influenza.
Belakangan ini istilah Superflu yang menjadi sorotan di berbagai media massa dan media sosial.
Super flu itu label media. Secara ilmiah yang dibahas adalah H3N2 subclade K, laporan lembaga kesehatan menunjukkan tidak ada bukti kuat bahwa varian ini otomatis lebih mematikan
Istilah super flu belakangan ramai diperbincangkan publik seiring meningkatnya kasus influenza di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.
WABAH influenza tengah melanda Malaysia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved