Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Rukun Iman yang Keempat Adalah Iman Kepada Rasul, Ini Maknanya

Thalatie K Yani
30/12/2025 06:13
Rukun Iman yang Keempat Adalah Iman Kepada Rasul, Ini Maknanya
Ilustrasi(gemini AI)

Dalam ajaran Islam, fondasi kepercayaan seorang muslim dibangun di atas enam pilar yang dikenal sebagai Rukun Iman. Salah satu pilar yang sangat krusial untuk dipahami dan diamalkan adalah pilar keempat. Rukun iman yang keempat adalah iman kepada Rasul-rasul Allah SWT. Meyakini rukun ini bukan sekadar menghafal nama-nama nabi, melainkan membenarkan dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah mengutus para rasul kepada umat manusia untuk memberikan petunjuk ke jalan yang lurus.

Iman kepada Rasul berarti mempercayai bahwa mereka adalah manusia pilihan yang diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan wahyu (risalah) kepada umatnya. Risalah ini berisi kabar gembira bagi mereka yang taat dan peringatan bagi mereka yang ingkar. Tanpa perantara para Rasul, manusia tidak akan mengetahui tata cara beribadah yang benar dan tidak akan mengenal Sang Pencipta dengan semestinya.

Dalil Naqli Tentang Iman Kepada Rasul

Kewajiban untuk beriman kepada para Rasul tercantum jelas dalam Al-Qur'an. Salah satu landasan utamanya terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 136. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا bَعِيدًا

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (QS. An-Nisa: 136).

Ayat tersebut menegaskan bahwa mengingkari keberadaan dan kerasulan para utusan Allah setara dengan kesesatan yang nyata. Oleh karena itu, integritas keimanan seorang muslim tidak sah jika ia membedakan antara satu rasul dengan rasul lainnya, atau menolak salah satunya.

Perbedaan Antara Nabi dan Rasul

Seringkali masyarakat awam menyamakan istilah Nabi dan Rasul, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam terminologi Islam. Memahami perbedaan ini penting untuk memperdalam pemahaman mengenai rukun iman yang keempat adalah iman kepada Rasul.

  • Nabi (Prophet): Adalah seorang laki-laki yang diberi wahyu oleh Allah SWT untuk dirinya sendiri dan tidak diperintahkan (tidak wajib) untuk menyampaikannya kepada umatnya. Namun, ia tetap wajib mengamalkannya.
  • Rasul (Messenger): Adalah seorang laki-laki merdeka yang diberi wahyu oleh Allah SWT syariat tertentu dan diperintahkan (wajib) untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada umatnya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa setiap Rasul pasti adalah seorang Nabi, namun tidak setiap Nabi adalah seorang Rasul. Jumlah nabi sangatlah banyak, namun yang wajib diketahui namanya oleh umat Islam berjumlah 25 orang.

Sifat Wajib Bagi Para Rasul

Sebagai utusan yang membawa amanah berat, Allah SWT membekali para Rasul dengan sifat-sifat mulia yang menjaga kredibilitas mereka. Ada empat sifat wajib yang pasti dimiliki oleh para Rasul, yaitu:

  1. Siddiq (Benar): Setiap perkataan dan perbuatan Rasul pasti benar. Mustahil bagi mereka untuk berdusta (Kizib). Kebenaran ini mencakup penyampaian wahyu maupun perilaku sehari-hari.
  2. Amanah (Dapat Dipercaya): Rasul adalah sosok yang sangat terpercaya dalam memegang janji dan tugas. Mustahil bagi mereka untuk berkhianat (Khianat).
  3. Tabligh (Menyampaikan): Para Rasul wajib menyampaikan seluruh wahyu yang diterima kepada umatnya tanpa menyembunyikan satu huruf pun. Mustahil mereka menyembunyikan wahyu (Kitman).
  4. Fathonah (Cerdas): Untuk menghadapi berbagai tantangan, argumen kaum kafir, dan mengatur strategi dakwah, seorang Rasul dibekali kecerdasan luar biasa. Mustahil seorang Rasul itu bodoh (Baladah).

Mengenal Rasul Ulul Azmi

Di antara para Rasul, terdapat lima orang yang memiliki gelar istimewa, yaitu Ulul Azmi. Gelar ini diberikan karena ketabahan, kesabaran, dan keteguhan hati mereka yang luar biasa dalam menghadapi ujian berat saat berdakwah. Kelima Rasul tersebut adalah:

  • Nabi Nuh AS: Dikenal dengan kesabarannya berdakwah selama ratusan tahun meski hanya sedikit yang mengikutinya, serta ujian banjir bandang yang besar.
  • Nabi Ibrahim AS: Bapak para Nabi yang diuji dengan perintah menyembelih anaknya dan dibakar oleh Raja Namrud, namun tetap teguh memegang tauhid.
  • Nabi Musa AS: Rasul yang berhadapan langsung dengan kekejaman Fir'aun dan memimpin Bani Israil keluar dari Mesir dengan mukjizat tongkat membelah lautan.
  • Nabi Isa AS: Lahir tanpa ayah atas kuasa Allah, serta diberi mukjizat dapat menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penyakit kusta, namun tetap sabar menghadapi fitnah kaumnya.
  • Nabi Muhammad SAW: Rasul penutup (Khatamul Anbiya) yang menyempurnakan ajaran Islam, menghadapi berbagai boikot, perang, dan caci maki, namun berhasil membawa cahaya Islam ke seluruh dunia.

Hikmah Beriman Kepada Rasul

Meyakini bahwa rukun iman yang keempat adalah iman kepada Rasul memberikan dampak positif yang besar bagi kehidupan spiritual dan sosial seorang muslim. Berikut adalah beberapa hikmahnya:

  • Memiliki Suri Tauladan: Manusia membutuhkan contoh nyata dalam berperilaku. Para Rasul adalah uswatun hasanah (contoh teladan yang baik) dalam segala aspek kehidupan.
  • Mengetahui Cara Beribadah yang Benar: Tanpa Rasul, manusia hanya bisa meraba-raba cara menyembah Tuhan. Rasul membawa syariat yang jelas tentang halal, haram, dan tata cara ibadah.
  • Meningkatkan Kecintaan kepada Allah: Dengan mengikuti ajaran Rasul, seseorang sejatinya sedang membuktikan cintanya kepada Allah SWT.
  • Selamat Dunia dan Akhirat: Ajaran yang dibawa para Rasul adalah pedoman hidup yang menjamin keselamatan manusia di dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat.

Sebagai penutup, memahami rukun iman ini menuntut kita untuk tidak hanya sekadar tahu, tetapi juga meneladani akhlak para Rasul dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita senantiasa ditetapkan dalam iman dan Islam.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya