Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SORE itu, di ruang tamu kecil sebuah rumah di pinggiran kota, seorang balita duduk terpaku di depan layar gawai. Matanya mengikuti gambar yang bergerak cepat, sementara ibunya sibuk menyiapkan makanan untuk anggota keluarga lainnya.
Lima belas menit berlalu tanpa satu pun kata diucapkan. Hanya suara dari layar yang terus mengisi ruangan.
Adegan seperti ini, sayangnya, kini menjadi pemandangan umum di banyak rumah tangga Indonesia. Padahal, tiga tahun pertama kehidupan anak adalah masa emas bagi perkembangan otak dan kemampuan berbahasa.
Di usia ini, otak anak tumbuh sangat cepat dan peka terhadap suara manusia di sekitarnya, terutama suara penuh kasih dari orang tua.
Anggota ECED Council Indonesia sekaligus Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (BAN PDM) 2023-2028, Gutama, menegaskan bahwa percakapan sederhana di rumah memiliki dampak besar bagi masa depan anak.
“Banyak orang tua mengira anak akan belajar bicara dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Padahal, kemampuan bahasa anak sangat bergantung pada seberapa sering ia diajak berinteraksi secara hangat dan bermakna sejak dini,” ujar Gutama.
Para ahli (Kuhl,2010) menyebut usia ini sebagai masa sensitif (sensitive period), waktu krusial ketika otak anak “siap belajar bahasa”, tetapi keberhasilannya sepenuhnya bergantung pada seberapa sering, hangat, dan bermakna percakapan yang mereka dengar.
Ketika anak jarang diajak bicara, bukan hanya kosakatanya yang terhambat. Otaknya kehilangan “bahan bakar” untuk berpikir dan berimajinasi.
Suasana rumah yang hening bisa menjadi tanda awal kemiskinan bahasa, yang kelak berpengaruh pada kemampuan anak memahami pelajaran, berinteraksi, hingga membangun kepercayaan diri.
“Keheningan yang berkepanjangan di rumah bukan sekadar soal anak jadi pendiam. Itu bisa menjadi sinyal awal terganggunya perkembangan kognitif dan sosial anak,” kata Gutama.
Bahasa tidak muncul begitu saja dalam diri anak. Teori Language Input Hypothesis menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa sangat dipengaruhi oleh jumlah, variasi, dan kualitas interaksi verbal yang dialami anak (Rowe, 2012).
Jika anak jarang diajak bicara, tidak cukup mendengar kosakata yang beragam atau tidak mendapat percakapan dua arah, maka otaknya kekurangan “bahan” untuk membangun kemampuan berbahasa.
Berbicara dengan anak bukan hanya soal menambah kosakata, tetapi juga membangun hubungan emosional. Teori Attachment (Ainsworth, 1979) menekankan bahwa anak belajar rasa aman, kasih sayang, dan kepercayaan diri melalui interaksi yang responsif.
“Saat orang tua menanggapi ocehan anak, meski belum jelas artinya, di situlah anak belajar bahwa dirinya didengar dan dihargai. Ini fondasi penting bagi kesehatan emosional dan kepercayaan diri anak,” ujar Gutama.
Berbagai penelitian internasional menunjukkan besarnya pengaruh percakapan sederhana antara orang tua dan anak terhadap masa depan mereka. Anak yang jarang diajak bicara bukan hanya berisiko terlambat berbicara, tetapi juga tertinggal dalam pemahaman bahasa dan kemampuan sosial.
Rescorla dan timnya (2009) menemukan bahwa anak yang tergolong late talkers pada usia 18–34 bulan cenderung tetap tertinggal dalam kemampuan bahasa dan sosial bahkan setelah usia tiga tahun.
Penelitian lain oleh Pears & Fisher (2005) menunjukkan, anak-anak yang tumbuh tanpa cukup percakapan dengan orang dewasa memiliki skor pemahaman bahasa yang jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang hidup dalam lingkungan kaya komunikasi. Dampaknya tak berhenti di situ.
Rice & Hoffman (2015) menemukan bahwa anak berusia dua tahun yang belum bisa menggabungkan kata memiliki risiko lebih tinggi mengalami kesulitan membaca, berhitung, dan memahami pelajaran ketika masuk sekolah. Kesenjangan ini bahkan bisa muncul sejak sangat dini.
Levickis et al. (2020) mengungkapkan bahwa anak dari keluarga dengan tingkat pendidikan rendah mulai mengalami word gap atau kesenjangan jumlah kosakata, sejak usia 12–18 bulan. Semakin sedikit kata yang mereka dengar setiap hari, semakin besar jarak perkembangan bahasanya dibanding anak lain.
Dan bukan hanya aspek akademik yang terdampak. Menurut Paul & Roth (2011), anak yang kesulitan mengekspresikan diri secara verbal lebih mudah frustrasi, cenderung menarik diri, dan mengalami hambatan dalam membangun pertemanan.
“Masalah bahasa di usia dini sering kali baru terlihat dampaknya saat anak masuk sekolah. Padahal, akar persoalannya bisa dimulai dari kurangnya interaksi sederhana di rumah,” kata Gutama.
Keheningan di tahun-tahun awal kehidupan anak bukanlah hal sepele. Anak yang jarang diajak bicara berpotensi mengalami:
Namun, kondisi ini masih bisa diperbaiki.
“Kabar baiknya, otak anak sangat plastis. Dengan stimulasi yang konsisten dan hubungan yang hangat, anak masih bisa mengejar ketertinggalannya, perlahan tetapi pasti,” ujar Gutama.
Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan pola serupa. Di Padang Pariaman, penelitian Universitas Negeri Padang menemukan anak usia 3–4 tahun yang jarang diajak bicara memiliki kemampuan bahasa yang kurang berkembang.
Misalnya di Banjarbaru, riset WPC Publisher mencatat 85 persen anak yang sering diajak berbicara menunjukkan perkembangan bahasa normal.
Sementara di Kabupaten Batang dan Gresik, penelitian menunjukkan bahwa kesibukan orang tua, ketergantungan pada gawai, dan minimnya pemahaman tentang pentingnya komunikasi menjadi penghambat utama stimulasi bahasa.
“Setiap obrolan kecil di rumah memiliki arti besar. Pertanyaan sederhana seperti ‘Kamu main apa hari ini?’ adalah stimulasi yang tidak tergantikan oleh layar apa pun,” kata Gutama.
Kemampuan berbahasa anak dapat terus dikembangkan, bahkan bagi mereka yang sempat tertinggal. Kuncinya terletak pada konsistensi interaksi dan kedekatan emosional.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
Gutama menyebutkan, setiap budaya memiliki cara sendiri dalam memperkenalkan bahasa kepada anak.
Studi Ochs & Schieffelin (2017) tentang komunitas Tseltal di Meksiko menunjukkan bahwa anak-anak di sana mampu belajar bahasa hanya dengan mendengarkan percakapan orang dewasa di sekitar mereka, meski jarang diajak bicara langsung.
“Namun, di masyarakat modern di mana interaksi alami sering digantikan oleh layar dan kesibukan, percakapan langsung antara orang tua dan anak menjadi kebutuhan yang tak tergantikan,” lanjutnya.
Setiap percakapan kecil di meja makan, saat memandikan, menidurkan, atau bermain adalah investasi jangka panjang bagi masa depan anak. Bahasa bukan sekadar suara, melainkan jembatan yang membentuk cara anak berpikir, merasakan, dan memahami dunia.
Jika hari ini anak lebih sering “berdialog” dengan layar dibanding manusia, pertanyaannya sederhana: apakah kita sedang menyiapkan generasi yang cakap berkomunikasi, atau justru generasi yang kehilangan kemampuan mendengar, merespons, dan memahami?
“Masa depan anak tidak dibangun oleh teknologi semata, tetapi oleh percakapan-percakapan kecil yang kita pilih untuk hadirkan setiap hari,” tutup Gutama. (RO/Z-10)
Makanan harian yang tepat bisa membantu perkembangan otak anak, sehingga mereka lebih fokus, daya ingat kuat, dan cepat menangkap pelajaran.
Musik dapat berpengaruh positif terhadap stimulasi area kognitif anak, termasuk untuk pemrosesan bahasa dan suara, stimulasi ada pemikiran dan perhatian, dan koordinasi motorik.
Musik berpengaruh positif terhadap stimulasi area kognitif anak, termasuk untuk pemrosesan bahasa dan suara, stimulasi yang berfokus pada pemikiran dan perhatian, dan koordinasi motorik.
OTAK anak memiliki tempat khusus untuk berimajinasi. Imajinasi merupakan salah satu aspek penting dalam masa tumbuh kembang anak.
Musik bisa merangsang area otak seperti lobus temporal untuk pendengaran, lobus frontal untuk emosi, cerebellum untuk koneksi motorik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved