Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Great Lock In Jadi Gaya Hidup Baru, Bantu Sukseskan Resolusi 2026

Abi Rama
27/12/2025 11:56
Great Lock In Jadi Gaya Hidup Baru, Bantu Sukseskan Resolusi 2026
Ilustrasi(Freepik)

Fenomena baru tengah ramai diperbincangkan di TikTok menjelang akhir 2025. Tren tersebut dikenal dengan nama Great Lock In, sebuah challenge yang mengajak pengguna media sosial untuk mengunci fokus sampai tahun baru demi melakukan perubahan positif dalam hidup.

Istilah lock in sendiri berasal dari slang yang berarti memusatkan perhatian secara penuh pada suatu tujuan tanpa terdistraksi. Dalam konteks tren ini, lock in dimaknai sebagai ajakan untuk mengurangi gangguan, utamanya dari ponsel dan media sosial agar seseorang bisa lebih konsisten menjalani target pribadi, hingga meningkatkan produktivitas dalam hidup.

Tren ini mulai viral sejak pertengahan tahun melalui berbagai unggahan video yang menampilkan rutinitas harian, jadwal disiplin, hingga refleksi pribadi para pengguna yang mencoba menjalani Great Lock In sampai akhir tahun. Alih-alih menunggu resolusi Tahun Baru 2026, challenge ini mengajak untuk berubah, bahkan sebelum malam pergantian tahun tiba.

Di balik popularitasnya, konsep lock in sebenarnya mencerminkan kegelisahan generasi muda terhadap derasnya distraksi digital. American Dialect Society bahkan menobatkan istilah lock in sebagai tren paling berguna pada 2025, menandakan betapa luasnya penggunaan dan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari.

Sejumlah pengamat bahasa dan budaya digital menilai bahwa munculnya istilah ini merupakan reaksi terhadap era gadget yang membuat manusia semakin sulit berkonsentrasi. Distraksi yang terus-menerus dari notifikasi, pesan instan, dan media sosial dianggap menggerus kemampuan fokus jangka panjang, terutama di kalangan anak muda.

Dalam konteks tersebut, lock in berfungsi bukan sekadar sebagai challenge, melainkan sebagai cara alternatif untuk menciptakan satu kebiasaan yang lebih bermakna. Alih-alih terus disuguhi pesan bahwa gawai itu buruk, generasi muda justru diajak merasakan sendiri manfaat hidup yang lebih terfokus, teratur, dan tenang. 

Ironisnya, gerakan yang bertujuan mengurangi distraksi digital ini justru lahir dan menyebar melalui TikTok. Namun, banyak yang menilai di sinilah sisi paradoks dari trend ini. Media sosial digunakan sebagai pintu masuk untuk mendorong orang menjauh darinya. (Cal Newport/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik