Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
MUSIM liburan Natal sering kali identik dengan kemeriahan. Ada antrean bertemu Santa, kerumunan lampu hias, hingga pementasan drama di sekolah. Bagi anak-anak, rangkaian acara ini bisa memicu kelelahan sensorik bahkan sebelum hari H tiba. Akibatnya, munculnya mini-meltdown atau tantrum pada anak justru menambah beban stres orangtua yang sedang sibuk berbelanja dan menyiapkan jamuan keluarga.
Komedian dan ayah tiga anak, George Lewis, mengungkapkan meski anak-anak menyukai konsep Natal, gangguan pada rutinitas bisa menjadi konflik batin bagi mereka. Pakar perilaku anak, San Mehra, menyebut fenomena ini sebagai "Christmas Overwhelm" atau kewalahan akibat Natal.
Berikut adalah empat cara dari George dan San untuk menciptakan suasana Natal yang lebih tenang bagi buah hati Anda:
Liburan memang mengacaukan jadwal, namun San menekankan pentingnya menjaga "titik labuh" seperti waktu bangun tidur, jam makan, dan jam tidur agar tetap konsisten. "Kekacauan sepanjang hari sulit dihadapi anak-anak. Jika satu bagian rutinitas berubah, itu masih bisa dikelola, tapi jika semuanya berubah, rasa kewalahan akan menumpuk dengan cepat," jelas San. Ia menyarankan penggunaan kalender visual agar anak tahu kapan kerabat akan datang atau kapan mereka akan bepergian, sehingga mereka merasa lebih aman.
George Lewis sempat terobsesi dengan Natal "sempurna" layaknya di film. Namun, karena dua anaknya mengidap autisme, kerumunan dan ketidakteraturan justru menjadi mimpi buruk. Ia pun mengubah total strateginya. "Kami berhenti menyantap makan malam Natal di hari Natal," jelas George. Ia memilih memasak jamuan besar pada malam Natal atau Boxing Day. "Di hari Natal sendiri, kami tidak mau stres dengan proyek besar (memasak). Kami hanya bermain dengan anak-anak dan memesan kari di malam hari."
Saat tantrum melanda di tengah antrean panjang atau tempat wisata yang bising, San menyarankan orangtua untuk tenang terlebih dahulu. Setelah itu, turunlah ke level mata anak dan bantu mereka merasa dimengerti. "Jika Anda bisa menyebutkan apa yang mereka rasakan, seperti frustrasi atau bosan, intensitas (tantrum) itu akan berkurang hingga 50%," ujar San. Kalimat sederhana seperti, "Kamu sudah menunggu lama ya? Kamu pasti bosan sekarang," bisa sangat membantu meredakan ketegangan.
Natal sering mempertemukan anak dengan sepupu atau teman yang jarang mereka temui, yang tak jarang memicu pertengkaran. San menyarankan orangtua tidak perlu langsung mengintervensi, namun jika eskalasi meningkat, bimbinglah mereka:
Dengan perencanaan yang lebih santai dan mengutamakan kenyamanan emosional anak, Natal tidak lagi menjadi momen yang melelahkan, melainkan waktu yang benar-benar berkualitas bagi seluruh keluarga. (BBC/Z-2)
Menag Nasaruddin Umar menegaskan bahwa perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 menjadi momentum penting untuk meneguhkan solidaritas dan empati kebangsaan bagi korban bencana
Menag menjelaskan bahwa hakikat Natal adalah memperingati kelahiran sosok teladan, yang harus diwujudkan dalam perilaku dan tindakan nyata.
Mengusung tema Cinta Tanpa Syarat, sekolah di Langkat yang baru berdiri kurang dari satu tahun ini tidak hanya merayakan Natal secara seremonial.
ASDP kembali mengingatkan masyarakat agar mempersiapkan perjalanan sejak jauh hari melalui pemanfaatan sistem tiket online Ferizy.
Total volume lalin yang kembali ke wilayah Jabotabek ini meningkat 15,66% jika dibandingkan lalin normal.
DIREKTUR Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono menyampaikan sebanyak 1.556.310 kendaraan meninggalkan Jakarta. Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabotabek) pada H-7 sampai H+1 Natal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved