Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Industri Makanan dan Minuman RI Tumbuh 6,4 Persen, Konsumsi Susu Jadi Tantangan

Muhammad Ghifari A
16/12/2025 08:08
Industri Makanan dan Minuman RI Tumbuh 6,4 Persen, Konsumsi Susu Jadi Tantangan
Merrijantij Punguan Pintaria Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Republik Indonesia(MI/Muhammad Ghifari A)

INDUSTRI makanan dan minuman di Indonesia berpotensi mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hal itu didukung sumber daya alam yang melimpah dan meningkatnya permintaan domestik.

Merrijantij Punguan Pintaria, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin RI) mengungkapkan sektor makanan dan minuman mencatat kinerja kuat dengan pertumbuhan 6,4% pada Triwulan III tahun 2025. Sektor ini menyumbang sebesar 41,09% terhadap PDB industri pengolahan, menjadikannya subsektor dengan kontribusi PDB terbesar. 

Selain itu, ekspor makanan dan minuman dari Januari hingga September 2025 mencapai US$32,79 miliar. Di mana berkontribusi 22,31% terhadap total ekspor industri pengolahan.

Tantangan Konsumsi dan Bahan Baku

Di balik kinerja konsumsi yang positif, Indonesia masih ada tantangan di industri susu nasional. Tantangan itu terkait konsumsi dan ketersediaan bahan baku susu. Tercatat  sampai triwulan III 2025, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya 17,76 liter per kapita per tahun. Angka itu jauh di bawah negara-negara Asia. Di Malaysia konsumsi susu mencapai 42,71 liter, Singapura 46,1 liter, dan Vietnam (37,21 liter).

"Seiring dengan tren hidup sehat, kami yakin permintaan pasar untuk produk susu seperti susu cair akan terus tumbuh tinggi," ujar Merri dalam acara 50 tahun Kemintraan Nestle dengan Peternak Sapi di FX Sudirman, Jakarta, Senin (15/12).

Industri pengolahan susu dalam negeri membutuhkan bahan baku 5,05 juta ton per tahun. Sayangnya, 80% kebutuhan itu dipenuhi melalui impor. Sehingga diperlukan penguatan rantai pasokan susu segar dalam negeri.

Digitalisasi dan Restrukturisasi

Kemenperin telah mengambil langkah-langkah strategis untuk memperkuat rantai pasok bahan baku susu segar ,seperti Peningkatan Teknologi dan Digitalisasi. Pemerintah memberikan bantuan mesin, peralatan cooling unit, dan Tempat Penerimaan Susu (TPS). Tahun 2024, digitalisasi telah diterapkan pada 96 TPS di 9 lokasi di Jawa Barat dan Jawa Timur, melibatkan lebih dari 12.000 peternak sapi perah. 

Aplikasi khusus juga dikembangkan untuk memantau kemanfaatan bantuan dan kualitas susu segar. Pada Desember 2025, data dari 37 TPS telah terintegrasi dalam aplikasi ini.

Ada pula program restrukturisasi mesin dan peralatan yang di lakukan pada 2024. Kemenperin menginisiasi program restrukturisasi melalui skema reimbursement hingga 35% untuk pembelian mesin atau peralatan di industri mamin. 

Khusus sektor pengolahan susu, program ini dapat dimanfaatkan untuk mesin maupun peralatan pendukung bagi peternak binaan industri.

Kolaborasi dengan Industri

Guna meningkatkan produksi, Merri tekankan pentingnya sinergi peternak dan industri. Seperti yang dilakukan PT Nestle Indonesia yang selama lima dekade yang bekerja sama dengan koperasi dan 26.000 peternak di 28 lokasi di Jawa Timur.

"Kerja sama ini merupakan bagian penting dalam penciptaan rantai pasok dan peningkatan investasi industri pengolahan susu nasional, dengan fokus pada penggunaan bahan baku lokal, penciptaan lapangan pekerjaan, dan diversifikasi produk," kata Merri. 

Kemenperin berharap industri pengolahan susu menumbuhkan model kemitraan dengan peternak. (Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya