Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Waktu Kritis 10 Detik: Dokter Tekankan Pentingnya Masyarakat Kuasai BHD

Basuki Eka Purnama
11/12/2025 11:36
Waktu Kritis 10 Detik: Dokter Tekankan Pentingnya Masyarakat Kuasai BHD
Ilustrasi(Freepik)

DOKTER penyakit dalam dan kardiovaskular, Dr. dr. Birry Karim, Sp.PD., K-KV., menyerukan pentingnya bagi masyarakat umum menguasai teknik pemberian Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau Basic Life Support (BLS). Keterampilan ini merupakan garis pertahanan pertama yang vital dalam penanganan situasi darurat, terutama kasus henti jantung.

Dalam sebuah seminar kesehatan yang diadakan di Rumah Sakit Medistra, Jakarta, Birry menekankan bahwa kemampuan memberikan pertolongan pertama dalam momen krusial adalah faktor penentu utama keselamatan korban henti jantung (cardiac arrest).

Henti Jantung tidak Selalu Serangan Jantung

Kepala Departemen Kardiovaskular Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) ini menjelaskan bahwa henti jantung tidak selalu sama dengan serangan jantung (heart attack).

“Henti jantung (cardiac arrest) sebenarnya tidak selalu disebabkan oleh serangan jantung (heart attack). Apa saja gangguan yang tidak disebabkan serangan jantung? Contohnya banyak, ada penyakit yang disebut channelopathy, HOCM (Hypertrophic Obstructive Cardiomyopathy) yang sebenarnya adalah kelainan genetik,” jelas Birry.

Henti jantung, yang merupakan terhentinya fungsi pompa jantung secara tiba-tiba, sering terjadi karena gangguan listrik atau irama jantung (aritmia). 

Kondisi ini, bahkan pada orang yang tampak sehat, dapat dipicu oleh kelainan genetik seperti HOCM. Sementara itu, faktor gaya hidup seperti obesitas dan sindrom metabolik juga dapat memicu aritmia, seringkali melalui komplikasi seperti Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau gagal jantung kronis.

Batas Waktu Kritis 10 Detik

Menyinggung masalah batas waktu, Birry menyampaikan urgensi tindakan segera saat menyaksikan seseorang mengalami henti jantung.

“Kita hanya diberi waktu 10 detik untuk memulai RJP [Resusitasi Jantung Paru]. Jika lebih dari 10 detik, oksigen tertunda yang jika pasien selamat, otak tidak mendapatkan oksigen, dan kualitas hidupnya berkurang,” ujarnya. 

Oleh karena itu, penguasaan protokol RJP kualitas tinggi (High-Quality CPR) menjadi kunci. Setelah memastikan seseorang mengalami henti jantung, tindakan yang harus dilakukan adalah Resusitasi Jantung Paru yang benar: tekan keras, tekan cepat.

Birry menegaskan kemampuan BHD harus dimiliki oleh semua orang, bukan hanya tenaga medis.

“Kita harus memiliki edukasi terkait Bantuan Hidup Dasar (BHD). BHD tidak harus tenaga medis; semua orang bisa memilikinya. Jika itu Advanced Life Support (Bantuan Hidup Lanjutan), itu harus tenaga medis—paramedis atau dokter. Tetapi jika BHD, itu untuk umum karena bisa terjadi di mana saja: di rumah, di kantor,” kata Birry.

Pencegahan Melalui Skrining Kesehatan

Selain kesiapan darurat, Birry juga menganjurkan masyarakat untuk proaktif melaksanakan skrining kesehatan jantung sebagai langkah pencegahan. 

Penyakit jantung yang disebabkan penumpukan plak adalah kondisi progresif yang umumnya menyerang usia 40 tahun ke atas, namun dapat dipercepat oleh faktor risiko metabolik dan pola hidup tidak sehat seperti kebiasaan merokok.

  1. Pencegahan dimulai dengan langkah Know Your Body Status, yang terbagi menjadi:
  2. Pemeriksaan Dasar (Know Your Number'): Rutin cek kolesterol, gula darah, dan tensi.

Skrining Lanjutan (Know Your Body): Melakukan treadmill test hingga CT Scan jantung untuk memastikan tidak ada penumpukan plak di pembuluh darah.

Inisiatif proaktif dalam skrining kesehatan dan kesiapan memberikan pertolongan pertama adalah dua pilar penting untuk mengurangi risiko fatal akibat insiden kardiovaskular mendadak. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik