Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PERAN kecerdasan buatan (AI) dalam mendiagnosa penyakit kian meluas seiring meningkatnya minat masyarakat mencari jawaban yang cepat dan murah meriah. Daya tarik yang efisien menjadikan AI memang pilihan yang terbaik untuk masyarakat saat ini.
Berbagai platform digital kini mampu membaca gejala, menganalisis pola, hingga memberikan rekomendasi obat secara cepat. Namun, kemudahan ini memunculkan kekhawatiran baru karena tidak ada pendekatan humanis, tidak ada observasi secara mendalam, dan akurasinya belum sepenuhnya dapat disamakan dengan pemeriksaan medis secara langsung.
Staf Ahli bidang Teknologi Kesehatan sekaligus Chief of Digital Transformation Office (DTO) Kementerian Kesehatan, Setiaji, mengatakan penggunaan AI untuk diagnosa penyakit dan mencari rekomendasi obat memang bisa digunakan, tetapi ada batasan dan caranya.
"AI bisa menjadi alat bantu yang berguna, tapi saat ini belum bisa menggantikan peran dokter atau tenaga medis profesional. AI dapat membantu memberikan informasi awal, tapi untuk diagnosa yang akurat dan pengobatan yang tepat, konsultasi dengan dokter tetap diperlukan," kata Setiaji saat dihubungi, Senin (8/12).
Untuk Informasi awal suatu penyakit dan mengetahui detail tentang obat maka AI bisa menjadi teknologi yang tepat. Namun untuk mengetahui detail penyakit, rekomendasi terapi obat, dan lainnya maka pasien harus pergi ke dokter.
"Masyarakat perlu diinformasikan untuk selalu berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum mengambil keputusan terkait kesehatan. Hal ini juga sejalan dengan prinsip atau pedoman AI Etikal untuk kesehatan yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) otonominya ada di manusia sementara AI hanya sebagai pemandu," ujar dia.
Setiaji menjelaskan masyarakat bisa menggunakan AI sebatas untuk informasi kesehatan umum, pemantauan aktivitas kesehatan harian seperti langkah kaki; kalori; dan sebagainya, kemudian edukasi kesehatan, serta eksistensi administratif termasuk penjadwalan konsultasi. Sementara untuk diagnosa penyakit, pengobatan, atau keputusan medis lainnya, tetap konsultasi langsung dengan dokter atau tenaga medis profesional.
Dihubungi terpisah, Pengurus Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dr Iqbal Mochtar menekankan maraknya penggunaan AI di dalam bidang kesehatan perlu ditanamkan dan dipahami masyarakat, bahwa AI bukan dokter. AI hanya alat untuk membantu manusia untuk memberikan informasi dan sebagainya.
"Karena AI bukan dokter, maka ketika kita menggunakan obat atau melakukan tindakan sebagaimana yang disarankan oleh AI kemungkinan keliru yang lebih besar atau kesalahan diagnosis karena AI tidak melihat kondisi secara keseluruhan. AI tidak melihat dinamika tubuh, tidak mengukur tanda vital, tidak melihat perjalanan penyakit. Jadi AI hanya semata-mata memberikan informasi terkait apa yang kita berikan," kata Iqbal.
Padahal, lanjut Iqbal, tubuh manusia sangat kompleks. Seorang dokter yang memeriksa pasien akan melihat pasien secara utuh dan hal itu tidak bisa dilakukan oleh AI. Kemudian, AI juga tidak bisa melihat kondisi-kondisi yang mengharuskan tindakan yang sangat serius atau kritis. Jadi informasi yang diberikan oleh AI biasanya hanya informasi bersifat umum.
Selanjutnya, AI tidak bisa melihat tindakan kegawatdaruratan, tidak bisa melihat perkembangan penyakit yang berubah dari menit ke menit atau kondisi kesehatan yang fluktuatif dan AI tidak bisa menembus itu.
"Sekali lagi bahwa AI bukan manusia karena itu walaupun AI tidak bisa menjawab, dia akan melakukan upaya untuk selalu bisa menjawab. Termasuk melakukan 'halusinasi'. Jadi halusinasi itu adalah istilah, di mana AI ini memberikan jawaban yang seadanya sekadar untuk memenuhi target bahwa dia harus menjawab, karena itu kalau kita tuntut terus AI untuk menjawab, itu lama-lama dia akan melakukan halusinasi," jelasnya.
"Jika AI menjawab yang tidak tepat dan itu sangat berbahaya karena itu terkait dengan tubuh manusia," sambungnya.
Kemudian belum ada kejelasan jika terjadi kesalahan diagnosa atau rekomendasi dari AI. Siapa yang akan bertanggung jawab jika AI memberikan masukan atau memberikan saran penggunaan obat, tetapi kemudian obat ini itu justru menimbulkan efek samping yang serius atau bahkan kematian. Sehingga batasan-batasan penggunaan AI itu sebenarnya untuk edukasi saja.
Batasan penggunaan yang dimaksud seperti mencari informasi yang ringan terkait perjalanan penyakit, ujung dari sebuah penyakit, hingga gejala. Sehingga semacam edukasi informasi saja tidak lebih dan tidak bisa dijadikan rekomendasi.
DAMPAK BERGANTUNG PADA AI
Iqbal menjelaskan jika menggantungkan informasi kesehatan pada AI tanpa adanya pemeriksaan atau rekomendasi dari profesional maka akan sangat berbahaya. Ia menegaskan apapun rekomendasi dari AI jangan ditelan mentah-mentah karena dampaknya bisa serius karena obat yang direkomendasikan bisa salah, atau menghentikan obat yang sudah diberikan oleh dokter, atau mengganti dengan obat lain.
"Itu semuanya hal-hal yang tidak boleh dilakukan dengan menggunakannya AI. Sekali lagi saya sampaikan bahwa AI itu hanya memberikan informasi. Tetapi dia tidak menangkap kondisi komprensif yang ada di dalam tubuh manusia. Padahal tubuh manusia itu kan sangat dinamis dan sangat kompleks. Seperti tekanan darah saja bisa berubah dalam hitungan detik. Sehingga AI tidak bisa menangkap momen tersebut," tegasnya.
Ia menjelaskan untuk memberikan diagnosa penyakit pada seseorang, dokter memegang teguh prinsip dasar yaitu manusia sebagai somato psikososial atau pendekatan holistik sehingga manusia harus dilihat scara utuh. Tidak hanya fisiknya, tetapi juga kejiwaannya, cara bertutur kata, hingga perasaannya. Itu semua mempengaruhi pembuatan diagnosis dan itu tidak bisa dilakukan oleh AI.
Oleh karena itu, disarankan agar tetap meminta pemeriksaan jika terjadi gejala dan meminta rekomendasi pada dokter sehingga pasien bisa berdiskusi dengan dokter secara bebas.
DIAGNOSA KEJIWAAN
Psikiater Sub Spesialis Adiksi FKUI-RSCM, dr. Kristiana Siste, mengatakan AI seringkali digunakan oleh gen Z dan juga gen Alpha untuk menanyakan kepribadian, introvert atau extrovert, depresi atau tidak, merasa kesepian, hingga memilih menjadikan AI sebagai teman ngobrol.
"Saya pernah mendapatkan pasien yang sering kesepian, sehingga setiap malam hanya ngobrol dengan AI dan dia bisa tidur kalau curhat sama AI. Jadi orang tuanya, terlalu sibuk, tidak bisa berbicara sepanjang hari dengan anaknya, jadi dia memilih curhat dengan AI dan merasakan hangatnya perhatian meski dari AI," ungkap Kristiana.
Melihat kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa di satu sisi AI memiliki peran yang baik jika digunakan sesuai batasnya. AI juga bisa memberikan diagnosa awal seperti pertanyaan awal mengenai kecanduan internet, kecanduan gim, atau kecanduan judi online yang sekarang ini beredar luas.
"Tapi jangan lupa bahwa ternyata AI itu kan bisa salah. Artinya bisa over diagnosis, Lalu nanti treatmentnya jadi self-treatment juga, itu yang menjadi suatu kendala juga. Satu sisi ada sisi bagusnya, deteksi dini bagus sekali. Namun sisi lain adalah self-diagnosis menjadi pedang bermata dua juga," ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengatakan medical is combination between science and art (kedokteran adalah kombinasi antara sains dan seni) sehingga keputusan di bidang kedokteran tidak bisa diambil hanya dari sumber informasi saja. Tetapi di dalamnya ada critical reasoning of medicine.
Adapun yang dimaksud dengan critical reasoning itu, jika pasien mengeluhkan demam, batuk, dan pilek maka bisa jadi infeksi flu atau covid-19 atau bisa karena infeksi bakteri dan sebagainya.
Di dalam dunia kedokteran informasi yang ada di dalam AI dan dimasukkan ke dalam chatbook AI tidak bisa dijadikan sebagai sumber data yang sahih. Kemudian diputuskan sebagai diagnosis yang pasti.
"Kemudian AI ini juga sebenarnya di dalam kesehatan masyarakat atau dalam kesehatan primer intinya ada di dalam keluarga. Kebiasaan untuk melakukan ngobrol dengan AI itu akan membuat anak-anak menjadi tidak ada komunikasi verbal dengan orangtua dan keluarga," ucapnya.
Karena yang paling penting dalam usia perkembangan apalagi seribu hari pertama kehidupan. Itu adalah kontak sosial, kontak verbal, stimulasi otak dan sebagainya. Perkembangan otak ini akan jadi terhabat.
Kementerian Kesehatan merekomendasikan kepada para orangtua bahwa anak berusia 0-2 tahun, kalau bisa jangan bermain dengan gawai sehingga belum terkontaminasi dengan AI. Kemudian usia 2-4 tahun, hanya boleh kurang dari 1 jam sehari untuk menggunakan gawai. Rekomendasi yang ditetapkan Kementerian Kesehatan tersebut untuk menjaga anak-anak bisa tumbuh dengan interaksi sosial, dengan interaksi budaya dan interaksi etika dengan keluarga dan lingkungan sekelilingnya.
Sementara itu, dari sisi regulasi bahwa obat-obat yang dikeluarkan harus distratifikasi, mulai dari obat-obat yang boleh digunakan secara bebas sampai obat-obat yang digunakan secara terbatas, dan obat-obat yang harus dilakukan pengobatannya secara diawasi.
"Dengan menggunakan regulasi tersebut. Maka tidak semua informasi AI yang direkomendasikan oleh AI. Itu akan bisa diimplementasikan secara langsung oleh pasien. Jadi memang harus ada filtering di dalamnya untuk mengambil keputusan," ungkap Dante.
CARA MEMANFAATKAN AI
Saat ini fasilitas pelayanan kesehatan masih mengalami ketimpangan. Di Pulau Jawa dan Sumatra fasilitas pelayanan kesehatan relatif lebih maju daripada di Indonesia bagian timur. Dengan teknologi saat ini membuat pelayanan-layanan yang ada di Pulau Jawa dan Sumatra itu juga bisa mengampu rumah sakit lain yang lebih jauh posisinya.
"Penggunaan AI di sini dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk dokter, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dokter juga perlu referensi atau perlu masukan, tetapi pengambilan keputusan tetap ada di tangan dokter," kata Pembina Perhimpunan Digital Medis Indonesia, Tony Seno Hartono.
Terlepas dari itu, Tony mengatakan setiap orang dapat memanfaatkan AI sebagai kemajuan teknologi. Tetapi dibutuhkan pengetahuan dan juga berpikir kritis yang harus dimiliki pengguna.
Tony menjelaskan teknologi federated learning kini menjadi metode paling maju dalam pemanfaatan AI di sektor kesehatan. Sistem ini bekerja dengan menempatkan model AI utama di pusat, sementara model-model kecil dipasang secara on-premise di rumah sakit atau fasilitas lokal.
Model lokal tersebut akan mempelajari pola penyakit di daerah masing-masing, seperti Demam Berdarah Dengue (DB) di Jakarta atau malaria di Papua. Setelah proses belajar selesai, model hanya mengirimkan hasil pembelajaran ke pusat tanpa menyertakan data pribadi pasien. Informasi yang terkirim kemudian digabungkan untuk menyempurnakan model utama agar semakin cerdas.
"Model pusat yang telah diperbarui itu selanjutnya didistribusikan kembali ke rumah sakit dalam bentuk versi kecil yang siap digunakan. Dengan cara ini, AI dapat dimanfaatkan secara luas tanpa menimbulkan risiko kebocoran data pasien," pungkasnya. (H-1)
Untuk covid-19 ini, menurutnya, pemeriksaan tidak Langsung di dalam di Asrama haji, ada pemeriksaan lebih lanjut, tapi kalau pengambilan swabnya saat jemaah haji tiba.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved