Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA kembali berhadapan dengan kenyataan bahwa kerusakan besar akibat Siklon Senyar bukan semata urusan cuaca yang ekstrem, melainkan kegagalan mitigasi yang seharusnya bisa mencegah jatuhnya korban dan kerusakan masif.
Profesor Riset Bidang Iklim dan Cuaca Ekstrem, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Erma Yulihastin, menegaskan siklon senyar memiliki energi relatif kecil dibanding siklon lain, namun dampaknya menjadi katastrofik karena tidak adanya langkah pra-bencana yang memadai.
“Problem kita itu di mitigasi. Apa yang terjadi sekarang adalah proses mitigasi yang tidak berjalan dengan baik,” ujarnya dalam diskusi bertajuk Ketika Indonesia Diguncang Siklon Tropis: Pembelajaran Bersama dan Kesiapsiagaan, Selasa (9/12).
Ia menjelaskan, pembentukan Senyar sebenarnya terdeteksi jauh sebelum siklon itu mendarat di wilayah Sumatra. Sistem prediksi Sadewa yang dikembangkan BRIN telah menangkap anomali angin sejak 19 November 2025, sementara model global ECMWF memprediksi potensi pendaratan dua hari sebelum kejadian.
“Ini bisa di-capture atau diprediksi satu hingga dua bulan sebelum Seroja, dan juga kemarin sebelum Senyar,” katanya.
Menurutnya, masalah utama muncul ketika informasi ilmiah tidak diterjemahkan menjadi aksi mitigasi. Tidak ada peringatan dini masif, tidak ada simulasi respons cepat, dan tidak ada langkah evakuasi padahal pola cuaca menunjukkan kombinasi berbahaya antara cold surge, westerly burst, suhu muka laut hangat, serta gelombang Rossby yang memperkuat pusaran angin Senyar.
Erma menekankan bahwa Indonesia kini memasuki era baru cuaca ekstrem. Sejak Topan Seroja pada 2020, badai tropis bukan lagi fenomena langka yang muncul ratusan tahun sekali. “Sejak ada Seroja, tahun 2020 saya sudah konsisten memberikan judul ini: Indonesia tak lagi free dari terobos,” tuturnya.
Dalam proyeksinya terhadap periode 2020–2040, wilayah Sumatra menjadi kawasan paling rentan dengan peningkatan hujan ekstrem dan angin ekstrem secara signifikan. Keduanya meningkat secara signifikan. Ia juga mengkritik ketiadaan struktur kelembagaan yang mampu merespons badai ekstrem secara cepat dan terkoordinasi. Ia mencontohkan Filipina dan Taiwan yang memiliki forum cuaca ekstrem lintas lembaga, dipimpin langsung kepala negara ketika siklon terbentuk.
“Di sana, kalau gagal ya langsung dipecat pemimpinnya. Saking bahwa ini sudah dianggap ancaman,” imbuhnya.
Menurutnya, Indonesia memerlukan pusat krisis yang menyatukan kemampuan BRIN, BMKG, dan BNPB dalam satu rantai komando. Dampak Senyar menjadi pengingat keras bahwa bencana besar tidak harus terjadi jika mitigasi dijalankan sesuai rekomendasi ilmiah. Ia menegaskan bahwa Indonesia harus berhenti menganggap cuaca ekstrem sebagai kejadian alam biasa yang tidak dapat diprediksi.
“Kalau saya, kita sudah harus anggap ini ancaman. Ribuan orang meninggal dengan efek dari cuaca ekstrem, itu kan sesuatu,” tukasnya.(M-2)
Bencana yang menimbulkan ribuan jiwa meninggal, tidak hanya dilihat dari pelanggaran hukum administratif tetapi sudah bisa dinaikkan levelnya ke pelanggaran HAM berat.
Menurut analisis dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, kondisi cuaca yang memicu banjir di Sumatra bukanlah gejala umum.
Jumlah korban jiwa banjir Sumatra mencapai 1.053 jiwa. Sementara bencana akibat Siklon Senyar menyebabkan 10 korban jiwa di Malaysia, dan 20 korban jiwa di Thailand.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved