Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Memahami Sifat dan Hakikat Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan

Akmal Fauzi
06/12/2025 22:30
Memahami Sifat dan Hakikat Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan
ilustrasi(freepik)

SOSIOLOGI merupakan disiplin ilmu yang memegang peranan vital dalam memahami dinamika kehidupan bermasyarakat. Sebagai sebuah ilmu pengetahuan, pemahaman mengenai sifat dan hakikat sosiologi menjadi fondasi utama bagi siapa saja yang ingin mendalami interaksi sosial, struktur masyarakat, hingga perubahan sosial yang terjadi secara terus-menerus. Tanpa memahami karakteristik dasarnya, analisis terhadap fenomena sosial akan cenderung dangkal dan tidak objektif.

Dalam perkembangannya, sosiologi telah memisahkan diri dari filsafat dan berdiri sebagai ilmu yang mandiri. Hal ini dipelopori oleh Auguste Comte, yang dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Untuk mengkaji masyarakat secara ilmiah, sosiologi memiliki batasan-batasan yang jelas mengenai apa yang menjadi wilayah kajiannya dan bagaimana metode pendekatannya. Artikel ini akan mengulas secara komprehensif mengenai karakteristik (sifat) dan esensi (hakikat) dari sosiologi agar pembaca dapat membedakannya dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.

Sifat Dasar Sosiologi

Menurut sosiolog terkemuka Indonesia, Soerjono Soekanto, sosiologi memiliki empat sifat dasar atau karakteristik utama yang membedakannya dari ilmu pengetahuan lain yang bersifat spekulatif. Keempat sifat ini menjadikan sosiologi sebagai ilmu yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

1. Bersifat Empiris

Sifat pertama dan yang paling mendasar adalah empiris. Artinya, sosiologi didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat, serta hasilnya tidak bersifat spekulatif. Seorang sosiolog tidak boleh menduga-duga tanpa data. Semua kesimpulan harus ditarik dari penelitian faktual di lapangan tentang apa yang benar-benar terjadi dalam masyarakat, bukan apa yang 'seharusnya' terjadi atau apa yang diinginkan oleh peneliti.

2. Bersifat Teoretis

Sosiologi adalah ilmu yang selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat sehingga menjadi sebuah teori. Sifat teoretis ini menegaskan bahwa sosiologi tidak hanya menumpuk data mentah, melainkan mengolahnya menjadi sebuah konsep yang dapat menjelaskan fenomena sosial secara sistematis.

3. Bersifat Kumulatif

Teori-teori dalam sosiologi tidak muncul dari ruang hampa. Sifat kumulatif berarti teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori-teori yang sudah ada sebelumnya. Teori baru hadir untuk memperbaiki, memperluas, serta memperhalus teori-teori lama. Misalnya, teori perubahan sosial di era digital saat ini merupakan pengembangan dari teori perubahan sosial klasik yang dicetuskan oleh para pendahulu seperti Max Weber atau Emile Durkheim.

4. Bersifat Non-Etis

Ini adalah sifat yang sering disalahpahami. Non-etis dalam sosiologi bukan berarti tidak bermoral, melainkan sosiologi tidak mempersoalkan baik atau buruknya suatu fakta tertentu. Tugas seorang sosiolog adalah menjelaskan fakta tersebut secara analitis dan mendalam. Contohnya, ketika meneliti fenomena kemacetan atau tawuran, sosiolog tidak bertugas menghakimi pelaku tawuran sebagai 'orang jahat', melainkan mencari tahu akar masalah, struktur sosial, dan pemicu mengapa peristiwa tersebut terjadi.

Hakikat Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan

Selain sifat-sifat di atas, sosiologi juga memiliki hakikat yang menempatkan posisinya dalam peta ilmu pengetahuan (body of knowledge). Berikut adalah tujuh hakikat sosiologi yang perlu dipahami:

  • Sosiologi adalah ilmu sosial: Hakikat yang paling jelas adalah sosiologi termasuk dalam rumpun ilmu-ilmu sosial (social sciences), bukan ilmu pengetahuan alam (natural sciences) ataupun ilmu kerohanian. Hal ini dikarenakan objek kajiannya adalah manusia dan interaksinya.
  • Bersifat kategoris, bukan normatif: Sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi (das sein) dan bukan pada apa yang seharusnya terjadi (das sollen). Sosiologi tidak menetapkan aturan-aturan normatif yang harus dipatuhi masyarakat, melainkan memotret realitas yang ada.
  • Ilmu pengetahuan murni (Pure Science): Meskipun sosiologi memiliki banyak kegunaan praktis (terapan), pada hakikat dasarnya sosiologi adalah ilmu pengetahuan murni. Tujuannya adalah untuk mengembangkan dan membentuk pengetahuan yang abstrak demi mempertinggi mutunya, bukan semata-mata untuk digunakan secara langsung dalam memecahkan masalah praktis (meskipun kini sosiologi terapan semakin berkembang).
  • Bersifat abstrak: Sosiologi lebih tertarik pada pola-pola dan peristiwa yang terjadi di masyarakat daripada wujud konkret individunya. Yang diperhatikan adalah bentuk dan pola-pola peristiwa dalam masyarakat.
  • Bertujuan menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum: Sosiologi meneliti dan mencari apa yang menjadi prinsip atau hukum umum dari interaksi antarmanusia serta perihal sifat, bentuk, isi, dan struktur masyarakat.
  • Ilmu pengetahuan yang rasional: Metode yang digunakan dalam sosiologi harus masuk akal dan logis. Segala fenomena yang dikaji harus dapat dinalar oleh akal manusia dan melalui prosedur ilmiah yang ketat.
  • Mempelajari gejala umum: Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang umum, bukan khusus. Artinya, ia mempelajari gejala umum yang ada pada setiap interaksi antarmanusia, berbeda dengan ilmu sejarah yang mungkin berfokus pada peristiwa spesifik di masa lampau.

Pentingnya Memahami Karakteristik Sosiologi

Memahami sifat dan hakikat sosiologi bukan hanya kebutuhan akademis bagi mahasiswa atau pelajar, tetapi juga penting bagi masyarakat umum dan pembuat kebijakan. Dengan memahami bahwa sosiologi bersifat empiris dan non-etis, kita diajak untuk melihat masalah sosial—seperti kemiskinan, kriminalitas, atau konflik antarsuku—dengan kacamata yang objektif dan berbasis data.

Pendekatan ini menghindarkan kita dari penghakiman sepihak dan solusi yang tidak tepat sasaran. Sebagai ilmu yang kumulatif dan teoretis, sosiologi menawarkan kerangka berpikir yang terus berkembang mengikuti zaman, menjadikannya alat yang ampuh untuk membedah kompleksitas masyarakat modern di Indonesia.

(P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya