Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Riset Ungkap Mekanisme Bagaimana Paparan Sinar Matahari Berlebih Picu Peradangan dan Risiko Kanker Kulit

Thalatie K Yani
01/12/2025 09:54
Riset Ungkap Mekanisme Bagaimana Paparan Sinar Matahari Berlebih Picu Peradangan dan Risiko Kanker Kulit
Ilustrasi(freepik)

PARA ilmuwan menemukan bagaimana paparan sinar matahari berlebih dapat memicu reaksi berantai di dalam sel kulit yang membuat peradangan sulit dikendalikan dan meningkatkan risiko kanker. Temuan tersebut menunjukkan radiasi ultraviolet (UV) merusak protein pelindung bernama YTHDF2, yang biasanya mencegah sinyal RNA tertentu mengaktifkan sensor imun pemicu peradangan berbahaya. Ketika perlindungan ini hilang, kerusakan akibat sinar matahari dapat berkembang menjadi pemicu kanker.

Sinar matahari memiliki manfaat bagi tubuh, termasuk membantu produksi vitamin D. Namun, paparan berlebih dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker kulit. Dalam studi baru yang dipublikasikan di Nature Communications, peneliti dari University of Chicago menjelaskan bagaimana paparan UV jangka panjang memicu reaksi inflamasi pada sel kulit dengan menghancurkan protein kunci YTHDF2. Protein ini berperan sebagai penjaga yang memastikan metabolisme RNA tetap terkontrol agar sel tidak berubah menjadi sel kanker.

Paparan UV, Peradangan, dan Lonjakan Kasus Kanker Kulit

Setiap tahun, sekitar 5,4 juta orang di Amerika Serikat didiagnosis menderita kanker kulit, dan lebih dari 90% kasus terkait paparan UV berlebih. Radiasi UV dapat merusak DNA dan memicu stres oksidatif pada sel kulit, sehingga menimbulkan peradangan, ditandai dengan kulit kemerahan, perih, hingga melepuh.

“Kami tertarik memahami bagaimana peradangan akibat paparan UV berkontribusi pada perkembangan kanker kulit,” ujar Yu-Ying He, PhD, Profesor Kedokteran di Seksi Dermatologi University of Chicago.

RNA memainkan peran penting dalam menerjemahkan informasi genetik menjadi protein. Kelompok RNA non-coding berfungsi mengatur aktivitas gen. Biasanya, RNA jenis ini bekerja di inti sel atau sitoplasma, bukan di tempat lain.

Peran Protein YTHDF2 dalam Melindungi Sel Kulit

Laboratorium He meneliti bagaimana stres lingkungan, termasuk paparan UV dan arsenik dalam air minum, mengganggu jalur molekuler yang dapat mendorong pertumbuhan kanker. Penelitian mereka menemukan paparan UV menurunkan kadar protein YTHDF2 secara signifikan. Protein ini mengenali RNA yang memiliki modifikasi kimia tertentu, dikenal sebagai m6A.

“Ketika kami menghilangkan YTHDF2 dari sel kulit, peradangan yang dipicu UV menjadi jauh lebih buruk,” ujar He. “Ini menunjukkan protein YTHDF2 memegang peran penting dalam menekan respons inflamasi.”

RNA Non-Coding, Sensor Imun, dan Reaksi Berlebih akibat UV

Dengan pendekatan multi-omics dan uji seluler, tim menemukan bahwa YTHDF2 berikatan dengan RNA non-coding bernama U6, yang membawa modifikasi m6A dan termasuk kelompok small nuclear RNA (snRNA). Di bawah stres UV, U6 menumpuk dan berinteraksi dengan toll-like receptor 3 (TLR3), sensor imun yang memicu jalur peradangan terkait kanker. Interaksi tersebut terjadi di endosom, lokasi yang tidak biasa bagi RNA tipe U6.

“Kami menghabiskan banyak waktu mencari tahu bagaimana RNA non-coding ini bisa berada di endosom,” kata He. “Untuk pertama kalinya, kami menunjukkan protein bernama SDT2 mengangkut U6 ke endosom, dan YTHDF2 ikut bergerak bersama.”

Sistem Pengawasan Seluler untuk Mencegah Peradangan Berlebih

Setelah masuk ke endosom, YTHDF2 mencegah U6 mengaktifkan TLR3. Ketika YTHDF2 rusak akibat paparan UV, U6 bebas mengaktifkan sensor tersebut dan memicu peradangan berbahaya.

“Studi kami mengungkap lapisan baru regulasi biologis, sebuah sistem pengawasan melalui YTHDF2 yang membantu melindungi tubuh dari peradangan berlebih,” ujar He.

Penemuan ini membuka potensi strategi baru dalam mencegah atau mengobati kanker kulit akibat UV dengan menargetkan interaksi RNA dan protein yang mengatur peradangan. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik