Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

JPPI Singgung Nilai Matematika yang Jeblok di Hari Guru Nasional 2025

Despian Nurhidayat
25/11/2025 13:19
JPPI Singgung Nilai Matematika yang Jeblok di Hari Guru Nasional 2025
Ucapan terima kasih pada guru(Antara Foto)

HARI Guru Nasional 2025 dibayangi dengan hasil tes Kemampuan Akademik atau TKA  yang menunjukkan nilai matematika secara nasional jeblok. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI)  mengatakan itu bukan salah guru. 

“Bila nilai murid yang buruk itu terjadi di satu sekolah, masalah itu bisa dialamatkan ke guru di sekolah tersebut. Namun, ketika kondisi kompetensi yang buruk dan juga nilai matematika yang jelek terjadi secara masif di seluruh Indonesia, ini jelas merupakan indikator kegagalan sistemik yang dikelola oleh negara, bukan kesalahan guru semata,” ujar Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji.

Ia mengatakan nilai matematika yang jelek secara nasional bukan kegagalan guru sebagai pendidik. Melainkan sistem pendidikan di Tanah Air. 

Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi mutu dan kualitas pendidikan ialah diskriminasi struktural antara guru ASN dan honorer, serta antara guru negeri dan swasta. 

“Bagaimana mungkin mutu pendidikan merata, jika guru sendiri diperlakukan secara tidak adil? Sistem kasta ini adalah penghinaan dan penghambat utama peningkatan kualitas,” tegas Ubaid.

Kampus-kampus keguruan yang merupakan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) menurutnya turut gagal menghasilkan tenaga pendidik yang kompeten. 

“Negara membiarkan "pabrik" ini rusak, tetapi justru menyalahkan "produk"nya. Menyalahkan guru yang dihasilkan LPTK yang bobrok adalah kemunafikan. Tanpa reformasi total LPTK, krisis kualitas guru akan menjadi warisan abadi,” papar Ubaid.

Guru juga dituntut untuk menjadi profesional, namun negara tidak menyiapkan sistem dan menyediakan ekosistem pengembangan profesional yang sistematis, berjenjang, dan berkelanjutan. Setiap pergantian menteri, ganti kebijakan peningkatan kompetensi guru. Masalah itu, menurut dia, diperparah dengan sistemnya yang tidak sistematis dan tidak berkelanjutan. 

“Program pelatihan guru seringkali hanya proyek administratif dan seremonial belaka. Tidak ada transformasi kompetensi yang nyata,” tambahnya. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik