Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Penelitian Baru Ungkap Paus Sperma di Dominika Gunakan “Vokal” dalam Klik Mereka

Thalatie K Yani
24/11/2025 07:30
Penelitian Baru Ungkap Paus Sperma di Dominika Gunakan “Vokal” dalam Klik Mereka
Ilustrasi(Unsplash)

PAUS sperma di perairan Dominika ternyata dapat “mengatakan” lebih banyak melalui klik yang mereka hasilkan dibanding dugaan sebelumnya. Setelah menganalisis lebih dari 1.000 rekaman, para peneliti menemukan pola bunyi baru yang menunjukkan tingkat kompleksitas jauh lebih tinggi dalam sistem komunikasi mereka.

Penelitian yang dipimpin ahli linguistik Gasper Beguš dari University of California, Berkeley, mengungkap paus sperma secara konsisten menghasilkan jenis suara mirip vokal dalam coda. Rangkaian klik singkat yang digunakan untuk komunikasi sosial.

Paus sperma Karibia saling bertukar pola klik yang disebut coda, sinyal pendek yang digunakan terutama untuk berkomunikasi dalam kelompok, bukan untuk berburu. Setiap coda terdiri dari urutan cepat yang bisa diulang berkali-kali saat kelompok berinteraksi. Studi sebelumnya menunjukkan paus sperma hidup dalam unit sosial dengan dialek berbeda, yaitu repertoar klik yang menjadi penanda identitas klan.

Selama ini, para peneliti terutama fokus pada jumlah klik dan jarak waktunya, sementara karakteristik suara yang lebih rinci belum banyak diperhatikan. Temuan baru menggeser fokus tersebut. Dengan menganalisis struktur spektral, pola frekuensi yang menggambarkan distribusi energi dalam suara, peneliti menemukan bentuk teratur yang sebelumnya tersembunyi.

Ketika jeda antarklik dipadatkan dan audio dipercepat, muncul struktur stabil berupa formant, pita frekuensi yang juga membedakan vokal dalam ucapan manusia. Codas dengan satu formant rendah menyerupai pola vokal mirip “a”, sementara yang memiliki dua formant terpisah menyerupai “i”. Beberapa coda bahkan menunjukkan formant yang bergerak naik turun, pola yang mirip diftong.

Untuk memastikan pola tersebut bukan artefak rekaman, tim meninjau kembali data dan membandingkan klik pada berbagai kedalaman dan posisi tubuh. Hasilnya tetap konsisten. Paus sperma terlihat beralih jelas antara pola “a” dan “i” dalam coda yang sama, tanpa campuran acak.

Penelitian anatomi menunjukkan paus sperma mampu mendeteksi frekuensi di atas 30 kilohertz, rentang yang sesuai dengan formant yang ditemukan. Artinya, paus kemungkinan mampu mendengar perbedaan vokal tersebut dengan jelas.

Teknik kecerdasan buatan turut membantu penelitian ini. Model fiwGAN yang digunakan Beguš sebelumnya mampu memetakan pola bunyi manusia secara otomatis. Ketika dilatih pada coda paus sperma, model menyoroti detail spektral yang kemudian dikonfirmasi melalui analisis akustik manual.

Temuan ini memiliki makna besar di dunia bioakustik. Pada berbagai hewan, formant biasanya memberi informasi tentang identitas atau ukuran tubuh. Jika mamalia lain dapat mengubah resonansi secara sadar, kemungkinan paus sperma juga mampu membentuk vokal coda secara fleksibel.

“Sungguh menakjubkan betapa terstrukturnya sistem ini,” kata Beguš. Menurutnya, pola yang sangat teratur menunjukkan bahwa paus mungkin mengatur informasi dengan cara yang lebih rapi daripada yang pernah diperkirakan. Peneliti hingga kini masih belum mengetahui arti spesifik setiap coda. Langkah selanjutnya termasuk membandingkan coda antarklan dan mempelajari bagaimana anak paus mempelajari pola klik dewasa. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik