Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Jarang Keramas Bisa Bikin Rambut Rontok? Risiko Menurut Pakar & Ilmu Sains

Thalatie K Yani
20/11/2025 10:11
Jarang Keramas Bisa Bikin Rambut Rontok? Risiko Menurut Pakar & Ilmu Sains
Ilustrasi(freepik)

BELAKANGAN, ada kecenderungan tren di media sosial mencuci rambut terlalu sering itu salah, banyak orang justru mengurangi frekuensi keramas bahkan sampai tak memakai sampo sama sekali, dengan alasan menjaga minyak alami dan kesehatan rambut. Namun menurut para ahli dan penelitian terkini, kebiasaan ini bisa jadi berbahaya, terutama untuk kesehatan kulit kepala dan risiko kerontokan.

Mitos “No-Wash” dan Dampaknya pada Folikel Rambut

Menurut American Hair Loss Association, tren tidak keramas dengan harapan agar rambut tetap sehat justru bisa memperburuk kondisi pada orang dengan kerontokan pola (androgenetic alopecia). Karena scalp tidak dibersihkan secara rutin, sebum (minyak alami) menumpuk dan “mengurung” hormon DHT (penyebab utama folikel menyusut), serta sitokin inflamasi, di dekat folikel rambut. 

Akumulasi ini bisa memicu peradangan kronis dan ketidakseimbangan mikroba di kulit kepala. Ketidak seimbangan itu mempercepat miniaturisasi folikel atau proses menyusutnya folikel rambut. 

Sementara itu, kekhawatiran terhadap bahan sampo seperti sulfat juga tidak sepenuhnya berdasar. Meskipun beberapa jenis sulfat dapat membuat kulit kepala kering, bukti ilmiah menunjukkan mereka tidak menyebabkan kerontokan permanen karena efeknya hanya pada lapisan kutikula rambut, bukan folikel. 

  • Efek negatif lain dari tidak mencuci rambut cukup lama antara lain. 
  • Rasa gatal
  • Lemak berlebih
  • Serpihan putih seperti “grit” di sekitar pori-pori folikel
  • Akumulasi mikroba jahat di kulit kepala. 

Risiko dari Gaya Hidup Modern yang Sibuk

Gaya hidup yang padat (multi-use lifestyle) juga memperburuk masalah scalp congestion. Scalp congestion yaitu penumpukan keringat, minyak, sel kulit mati, residu produk styling, dan partikel polusi di kulit kepala. 

Menurut Deveraux Specialties, faktor-faktor seperti sering olahraga, penggunaan dry shampoo berlebihan, polusi udara, dan rutinitas styling berat saling menguatkan dalam menimbulkan kepadatan di kulit kepala. 

Akumulasi tersebut tidak hanya bersifat kosmetik. Akumlasi itu bisa menyebabkan penyumbatan folikel, ketidakseimbangan mikrobioma, peradangan, bahkan memperlambat pertumbuhan rambut. 

Untuk mengatasinya, dibutuhkan perawatan holistik. Seperti eksfoliasi ringan, pembersihan dengan formula yang tepat (tidak terlalu keras), dan menjaga keseimbangan mikrobioma. 

Efek Negatif Langsung Jarang Keramas

Menurut analisis situs AI-Care, jarang mencuci rambut bisa menimbulkan:

  • Penumpukan kotoran, sebum, dan residu produk di kulit kepala. 
  • Timbul bau tidak sedap karena akumulasi minyak dan kotoran. 
  • Potensi gangguan pertumbuhan rambut dan iritasi. 

Sebum dan polutan yang menumpuk bisa memicu ketombe, peradangan kulit kepala, dan meningkatnya risiko kerontokan. 

Tren “hair training” (tidak keramas hingga 30 hari) pun mendapat kritik. Pakar menyebut terlalu jarang mencuci bisa meningkatkan sensitivitas kulit kepala dan memicu kerontokan. 

Menyeimbangkan Kebersihan Kulit Kepala dalam Kehidupan Sehari-hari

Dari berbagai riset dan artikel, ada beberapa poin yang bisa dijadikan pedoman agar kulit kepala tetap sehat tanpa harus “kelewat bersih".

  • Frekuensi keramas disesuaikan dengan jenis rambut, aktivitas, dan gaya hidup. tidak ada aturan baku. 
  • Gunakan sampo yang lembut, terutama bagi yang sensitif, atau yang khusus menjaga kesehatan kulit kepala tanpa menghilangkan semua minyak alami. 
  • Perawatan tambahan, misalnya scrub kulit kepala, toner, atau serum untuk bantu eksfoliasi dan menjaga keseimbangan mikrobioma. Ini penting terutama jika Anda banyak beraktivitas dan memakai banyak produk rambut. 
  • Waspadai penggunaan dry shampoo. Meski praktis, dry shampoo hanya menyerap minyak, bukan membersihkan; residunya bisa menumpuk. 
  • Konsultasi dengan ahli dermatologi/trikotologi, jika mengalami gatal kronis, kerontokan, atau gejala lain seperti peradangan kulit kepala.

Meskipun tren “kurang keramas = menjaga rambut” populer, ilmuwan dan profesional perawatan rambut mengingatkan kebersihan kulit kepala tetap penting. Daripada menahan diri mencuci terlalu lama, strategi yang lebih sehat adalah menyeimbangkan perawatan dengan frekuensi yang sesuai, serta menggunakan produk yang tepat. Kulit kepala yang sehat bisa memberi fondasi kuat untuk pertumbuhan rambut yang optimal. (American Hair Loss Association/Deveraux Specialties/CeraVe/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya