Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

6 Kontroversi Guncang Panggung Miss Universe 2025 Thailand

Cornelius Juan Prawira
15/11/2025 13:06
6 Kontroversi Guncang Panggung Miss Universe 2025 Thailand
Ilustrasi(SuaraThailand)

​Ajang kecantikan Miss Universe bukan lagi sebatas menampilkan rupa yang menawan. Panggung ini merupakan momen setiap wanita dari berbagai negara mengedepankan nilai kebaikan universal seraya mempromosikannya.

Namun, perhelatan Miss Universe 2025 yang diselenggarakan di Thailand justru diwarnai oleh serangkaian drama dan kontroversi yang menarik perhatian dunia, menunjukkan bahwa panggung ini tak luput dari isu sosial, politik, hingga tuntutan hukum.

Berikut sejumlah kontroversi utama jadi sorotan selama Miss Universe 2025 berlangsung, antara lain:

​1. Dugaan manipulasi hasil karantina

Kontroversi terbesar muncul ketika dugaan manipulasi hasil karantina merebak di media sosial. Pihak yang menuduh adalah Beberapa Delegasi dan Penggemar dari berbagai negara. Mereka menuduh adanya perlakuan tidak adil atau intervensi dalam proses penilaian awal yang dilakukan oleh Dewan Juri dan Organisasi Miss Universe, menciptakan suasana tegang dan mempertanyakan integritas kompetisi.

2. Wawancara tidak profesional

Kritik pedas terhadap komentar pembawa acara Pembawa acara (host) Malam Final menjadi sasaran kritik karena komentar yang dinilai tidak sensitif dan tidak profesional, khususnya saat sesi wawancara. Komentar tersebut menyinggung Kontestan tertentu memicu kemarahan publik dan tuntutan agar Organisasi Miss Universe meninjau ulang kebijakan pemilihan host.

3. Insiden walk-out massal menentang CEO

Ini adalah puncak dari ketegangan yang melibatkan Nawat Itsaragrisil, CEO Miss Grand International dan Ketua Komite Penyelenggara Miss Universe Thailand. Ia dituduh melontarkan kata-kata yang merendahkan terhadap Fatima Bosch, Miss Universe Meksiko 2025. Perlakuan tidak pantas ini memicu walk-out massal oleh Bosch dan sejumlah kontestan serta Miss Universe sebelumnya, sebagai bentuk protes keras terhadap pelecehan verbal.

4. Tuntutan Hukum

Tuntutan hukum dan ancaman pembatalan acara Beberapa hari menjelang malam final, Organisasi Miss Universe (MUO) dan penyelenggara lokal sempat menghadapi tuntutan hukum dari pihak ketiga yang mengklaim adanya pelanggaran hak cipta atas materi promosi. Ancaman pembatalan acara mencuat, meskipun akhirnya tuntutan tersebut berhasil diselesaikan melalui negosiasi, namun isu ini sempat menggoyahkan persiapan dan kepercayaan sponsor.

5. Perdebatan tentang pakaian tradisional (National Costume)

Sesi National Costume selalu menjadi bagian yang paling ditunggu, namun pada tahun ini, sesi tersebut diwarnai perdebatan sengit. Beberapa Kostum dianggap terlalu provokatif atau justru melenceng jauh dari representasi budaya negara asalnya, memicu kritik dari tokoh budaya dan masyarakat di negara kontestan tersebut. Kritik ini menyoroti batas antara kreativitas seni dan penghormatan tradisi.

6. Kesehatan mental kontestan

Sejumlah kontestan secara terbuka membagikan pengalaman mereka tentang tekanan mental yang ekstrem selama masa karantina. Jadwal yang sangat padat, kritik tanpa henti dari penggemar dan media sosial, serta suasana kompetisi yang sangat ketat, menyebabkan beberapa delegasi menunjukkan tanda-tanda kelelahan emosional. Isu ini memaksa Organisasi Miss Universe untuk berjanji meninjau ulang protokol dukungan kesehatan mental untuk kontestan di masa depan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik