Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Peledakan di SMAN 72 Jakarta Dampak Kekerasan Sosial

M Ilham Ramadhan Avisena
11/11/2025 13:02
Peledakan di SMAN 72 Jakarta Dampak Kekerasan Sosial
SMAN 72 Jakarta(Dok.MI)

PENGAMAT terorisme dan Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menilai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak, termasuk dugaan perakitan bahan peledak oleh remaja berinisial F, di SMAN  72 Jakarta tidak muncul begitu saja. Menurutnya, perilaku tersebut merupakan hasil dari spiral kekerasan sosial yang melibatkan berbagai lingkungan tempat anak tumbuh.

"Kekerasan itu tidak lahir dari ruang kosong. Biasanya, kekerasan akan melahirkan kekerasan berikutnya," ujar Harits saat dihubungi, Selasa (12/11).

Ia menjelaskan, pembentukan karakter anak dipengaruhi oleh tiga sektor utama, yakni keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Ketiganya berperan besar dalam membentuk cara pandang dan perilaku seorang anak.

Di ruang keluarga, kekerasan bisa muncul dari orang tua terhadap anak, baik fisik maupun verbal. Di sekolah, kasus kekerasan bisa terjadi antara guru dan murid atau antarsiswa. 

Sementara di lingkungan sosial, anak-anak dapat terlibat dalam aksi kekerasan kelompok atau menjadi korban perundungan. "Semua sektor punya potensi memunculkan kekerasan, dan itu berpengaruh besar pada pertumbuhan mental anak," jelasnya.

Harits menegaskan, sebagian besar kekerasan yang terjadi pada anak tidak berkaitan dengan intoleransi atau radikalisme, melainkan lebih pada bentuk kekerasan fisik, verbal, maupun seksual.

"Data menunjukkan kekerasan yang paling dominan adalah fisik dan non-fisik, serta kekerasan seksual. Tidak ada kaitannya dengan intoleransi," kata dia. 

Ia juga mengingatkan, paparan kekerasan di media sosial memperparah kondisi tersebut. Konten-konten kekerasan yang mudah diakses bisa menjadi pemicu perilaku meniru atau bahkan memunculkan dorongan balas dendam. Dalam konteks ekstrem, hal ini dapat berkembang menjadi tindakan berbahaya seperti perakitan bahan peledak.

Harits mencontohkan, bahan seperti sulfur atau petasan dapat dengan mudah dibeli dan disalahgunakan karena belum ada sistem pengawasan yang ketat. "Perlu pembatasan dan verifikasi terhadap pembelian bahan-bahan semacam itu, agar penggunaannya tepat sasaran," kata dia. 

Menurutnya, solusi atas persoalan ini bukan dengan mendramatisasi isu radikalisme di sekolah, melainkan membangun sistem pendidikan yang menanamkan nilai keadaban dan moralitas. 

Ia mengusulkan agar kurikulum sekolah memuat pendidikan karakter yang kuat serta pemberian sanksi tegas terhadap perilaku menyimpang.

"Yang kita butuhkan adalah kurikulum keadaban. Anak-anak harus tumbuh dengan integritas, moral, dan attitude yang baik," ujar Harits.  (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya