Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Bentuk Masa Depan Biofarmasi, Etana dan UGM Gelar Indonesia Biopharmaceutical Summit 2025

Naufal Zuhdi
07/11/2025 21:37
Bentuk Masa Depan Biofarmasi, Etana dan UGM Gelar Indonesia Biopharmaceutical Summit 2025
IBS 2025(Dok Etana)

PT Etana Biotechnologies Indonesia bersama Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Indonesia Biopharmaceutical Summit (IBS) 2025. Sebuah forum strategis yang mempertemukan pemangku kepentingan dari sektor akademisi, industri, dan pemerintah. Mengusung tema Shaping the Future of Biopharma in Indonesia kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mendorong inovasi dan memperkuat ekosistem bioteknologi menuju kedaulatan kesehatan di Indonesia.

Dekan Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. Satibi, M.Si., Apt berharap IBS 2025 tidak hanya menciptakan dialog yang berarti, tetapi juga menghasilkan kolaborasi nyata yang dapat berkontribusi pada transformasi kesehatan Indonesia.

Menurutnya, Indonesia memiliki fondasi yang kuat dalam memanfaatkan kekayan biodiversitas dan kapasitas penelitian nasional dalam pengembangan produk biopharmaceutical berkualitas tinggi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai hub regional untuk inovasi kesehatan.

"Masa depan biofarmasi bergantung pada kemampuan kita untuk berkolaborasi. Penemuan di Universitas harus bisa diterjemahkan menjadi produk nyata yang bermanfaat bagi masyarakat, dan hal ini memerlukan kemitraan yang kuat antara akademisi, industri, serta regulator,” Satibi dikutip dari siaran pers yang diterima, Jumat (7/11).

Sesi utama IBS 2025 menghadirkan General Manager Technical Operations Etana Dr. Miles Shi, Ph.D, yang membagikan pengalaman Etana dalam membawa inovasi global menuju kemandirian produksi lokal. Dalam paparannya yang berjudul Bridging Global Innovation to Local Manufacturing: Best Practice for Technology Transfer, Miles menjelaskan pendekatan phase-gated frameworkyang diterapkan Etana untuk memastikan proses transfer teknologi berjalan efisien, sesuai standar global, dan berorientasi pada mutu.

“Transfer teknologi bukan sekadar proses teknis, melainkan perjalanan kolaborasi dan pembelajaran bersama. Etana mengintegrasikan praktik terbaik WHO dan PDA untuk membangun ekosistem manufaktur biofarmasi yang memenuhi standar internasional,” jelas Miles.

Ia menambahkan, keberhasilan transfer teknologi Etana tidak hanya mempercepat akses masyarakat terhadap obat dan vaksin berkualitas, tetapi juga memperkuat kemampuan bangsa dalam memproduksi produk bioteknologi secara mandiri.

"Dengan menggabungkan keahlian global dan eksekusi lokal, kami berupaya mempercepat kemandirian dan menghadirkan produk biofarmasi kelas dunia buatan Indonesia,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Dr. Jeffri Ardiyanto, M.App.Sc mengungkapkan bahwa keterbatasan dalam teknologi, ketergantungan pada bahan baku impor dan kurangnya kualitas sumber daya manusia merupakan tantangan produksi lokal di Indonesia.

Namun, sambung dia, pemerintah juga terus berupaya memperkuat kemandirian bahan baku obat dan bioteknologi melalui startegi transformasi kesehatan, khususnya pilar ketiga yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan produk kesehatan dengan memperkuat kapasitas riset, manufaktur, dan pengembangan pasar serta menjalin kemitraan dengan berbagai mitra regional dan global.

"Kebijakan ini adalah upaya besar untuk memperkuat sistem layanan kesehatan Indonesia dari hulu ke hilir, mulai dari bahan baku, riset, produksi, hingga distribusi. Namun yang terpenting, seluruh pihak dalam ekosistem biofarmasi harus bekerja bergandengan tangan. Dengan kolaborasi, kita dapat memperkuat ketahanan kesehatan nasional dan meningkatkan kualitas layanan bagi masyarakat,” pungkas Jeffri. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik