Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA Komisi II DPR RI dari fraksi PKB, Muhammad Khozin, menilai peristiwa robohnya bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny harus menjadi bahan refleksi bagi negara terkait peranannya dalam pembangunan infrastruktur pesantren.
“Selama ini pesantren itu sangat terbatas sekali, negara (kurang) hadir dalam setiap proses infrastruktur bangunan yang ada di pesantren,” ujar Khozin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (3/10).
Khozin menjelaskan, mayoritas bangunan di pesantren selama ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Menurutnya, keterbatasan dukungan negara membuat pesantren lebih banyak mengandalkan jariyah wali santri, donatur, maupun inisiatif internal.
“Mayoritas pesantren itu swadaya. Ibaratnya, hasil ‘cerekan’ dari wali santri, jariah dari masyarakat, dan donatur untuk membangun,” jelasnya.
Politisi dari dapil Jawa Timur IV itu menegaskan, momentum musibah di Ponpes Al Khoziny harus menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang pesantren di Indonesia tidak berbanding lurus dengan keterlibatan negara dalam penyediaan sarana prasarana.
“Negara harus menjadikan ini alarm. Pesantren sudah lama hadir, tapi kehadiran negara dalam pembangunan infrastrukturnya sangat minim,” tegas Khozin.
Khozin juga menyampaikan bahwa PKB telah lebih dulu turun tangan memberikan bantuan langsung.
“PKB terdepan, di tingkat DPW sudah hadir. Kalau tidak salah Ketum juga hadir untuk menyampaikan belasungkawa dan membantu perbaikan,” katanya.
Lebih lanjut, Khozin menuturkan bahwa fraksi PKB telah menginstruksikan seluruh anggotanya untuk turun ke dapil masing-masing guna memotret kondisi infrastruktur pesantren.
“Tadi kita rapat fraksi, dapat arahan dari pimpinan, besok saat reses kita turun ke dapil masing-masing. Kita akan meninjau fasilitas pesantren, jangan sampai kejadian di Al Khoziny ini terulang di pesantren lain,” pungkasnya. (P-4)
PEMERINTAH memulai pembangunan ulang pondok pesantren Al Khoziny Sidoarjo, Jawa Timur, yang sempat ambruk pada September 2025 lalu.
PELETAKAN batu pertama rekonstruksi Pesantren Al-Khoziny menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola, kualitas pendidikan, sarana dan prasarana serta integritas lembaga.
PEMBANGUNAN gedung baru Pondok Pesantren Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, resmi mulai dikerjakan, Kamis (11/12).
SEBANYAK 80 pondok pesantren (Ponpes) di Indonesia memiliki kondisi bangunan dengan tingkat kerawanan tinggi atau berisiko ambruk.
Kasus Ponpes Al Khoziny menyingkap problem serius mengenai ketidakpatuhan terhadap aturan perizinan bangunan di Indonesia.
KANTOR Wilayah Kementerian Hukum Jawa Timur berkomitmen untuk memberikan pendampingan dan solusi hukum dalam percepatan pembangunan Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur.
Sebanyak 150 personel Tagana memasak 4.500 porsi per hari di dapur umum Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Jawa Timur. Makanan disediakan untuk keluarga santri, petugas, dan relawan.
PROSES pencarian korban ambruknya Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, masih menggunakan gabungan tenaga manual dan alat berat.
Proses identifikasi santri korban ambruknya Ponpes Al Khoziny menggunakan metode pencocokan DNA yang hasilnya baru diketahui dua hingga tiga minggu. Saat ini terdapat 14 korban meninggal.
Hingga Sabtu (4/10), total korban peristiwa ambruknya musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo sudah mencapai 118 orang, termasuk 14 orang meninggal dunia. Diperkirakan masih ada 49 orang tertimbun.
Data terakhir pihak BPBD Jatim, terdapat 100 korban, termasuk 3 meninggal, akibat ambruknya Ponpes Al-Khozyni, Sidoarjo. Ambruknya bangunan tiga lantai ponpes itu terjadi pada Senin (29/9).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved