Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Hilirisasi Hasil Riset Fondasi Pembangunan Bangsa

Media Indonesia
01/10/2025 14:29
Hilirisasi Hasil Riset Fondasi Pembangunan Bangsa
Ilustrasi(Dok Ist)

AMBISI Indonesia untuk menjadi negara maju pada 2045 atau yang dikenal dengan visi Indonesia Emas dinilai sulit terwujud apabila sistem riset nasional masih karut-marut.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute (IMI) Y Paonganan, kemandirian sains dan teknologi yang seharusnya menjadi fondasi kemajuan bangsa justru masih lemah karena tidak adanya visi kuat dari pemerintah dalam membangun riset.

“Revolusi industri adalah kebangkitan dunia menjadi negara maju, dan itu tidak datang tiba-tiba tetapi melalui serangkaian riset panjang. Perkembangan telekomunikasi, energi, hingga teknologi digital semuanya diawali dari riset. Intinya, semua kemajuan dunia lahir dari riset,” kata Y Paonganan dalam keterangannya, Rabu (1/10).

Pria yang akrab disapa Ongen ini menegaskan negara-negara besar di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan kini Tiongkok, bisa menjadi kekuatan global karena sejak awal membangun sistem riset nasional yang solid.

“Adapun di Indonesia, riset dan pengembangan ilmu pengetahuan kerap hanya berhenti pada retorika,” tegasnya.

Data menunjukkan anggaran riset nasional justru mengalami pemangkasan tajam setelah dibentuknya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pada 2017, anggaran riset masih sekitar Rp24,9 triliun atau 0,2% dari produk domestik bruto (PDB), tapi turun drastis menjadi Rp3,1 triliun pada 2022 dan hanya Rp2,2 triliun pada 2023 atau 0,01% PDB.

"Angka tersebut jauh di bawah negara tetangga kita, yakni Malaysia yang mengalokasikan 0,95% PDB, Thailand 0,40%, dan Singapura bahkan mencapai 1,89%," kata Ongen.

Kondisi ini diperparah dengan perampingan lembaga-lembaga riset yang justru membuat ribuan peneliti kehilangan kepastian. Kasus integrasi Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ke BRIN, misalnya, menyebabkan lebih dari seratus peneliti diberhentikan.

“Situasi tersebut menimbulkan kesan BRIN seperti badan riset mati suri, dengan ribuan peneliti dikumpulkan tanpa arah yang jelas,” tegas Ongen.

Meski demikian, sejumlah peneliti Indonesia masih menorehkan prestasi di kancah internasional. Beberapa nama bahkan masuk daftar 2% ilmuwan terbaik dunia versi Stanford University dan Elsevier.

“Namun pencapaian individu ini dinilai tidak cukup menopang ambisi nasional jika sistem riset secara keseluruhan tetap amburadul,” kata dia. 

Sebagian besar, menurut Ongen, riset berhenti di jurnal akademik tanpa dihilirisasi menjadi produk teknologi atau inovasi industri.

“Pemerintah harus segera mengambil langkah revolusioner memperbaiki sistem riset nasional. Jika tidak, visi Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi mimpi di siang bolong,” tutupnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya