Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
POPULASI serangga di berbagai belahan dunia terus mengalami penurunan drastis. Penelitian terbaru di Fiji mengungkap 79% spesies semut endemik di kepulauan tersebut kini berada dalam kondisi penurunan populasi.
Dampak ini sudah terjadi sejak kedatangan manusia ribuan tahun lalu. Semakin parah dalam 300 tahun terakhir akibat perdagangan global, pertanian modern, serta kontak dengan bangsa Eropa.
Fenomena ini sejalan dengan data dari wilayah lain di dunia. Di Jerman, jumlah serangga terbang di kawasan cagar alam berkurang hingga 75% hanya dalam waktu 30 tahun. Di Amerika Serikat, populasi kumbang merosot 83% dalam 45 tahun, sementara 15% spesies kumbang harimau juga ikut menurun. Di Eropa, jumlah kupu-kupu padang rumput menyusut 36% dalam satu dekade terakhir.
Penelitian yang dipimpin oleh Evan Economo, ahli serangga dari Okinawa Institute of Science and Technology, menganalisis ribuan spesimen semut dari Fiji yang tersimpan di museum dan dikumpulkan dalam beberapa dekade terakhir. Dengan metode analisis DNA, para peneliti bisa mengetahui apakah populasi semut bertambah atau berkurang dari waktu ke waktu.
“Ini adalah bukti baru dari apa yang sudah lama dicurigai: spesies serangga yang hidup di pulau-pulau terpencil mengalami penurunan signifikan,” ujar Economo seperti yang dikutip dalam laporan The Guardian.
Para peneliti menyebut beberapa faktor utama di balik merosotnya populasi serangga adalah hilangnya habitat alami akibat alih fungsi lahan. Selain itu, penggunaan pestisida dalam pertanian modern, perubahan iklim, serta polusi cahaya pada malam hari juga semakin menekan keberlangsungan hidup serangga.
Kondisi ini mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati di berbagai ekosistem penting, termasuk lahan basah, hutan, dan padang rumput.
Khusus bagi pulau-pulau tropis seperti Fiji, Galápagos, dan Hawaii, ancamannya bahkan lebih besar. Karena berevolusi secara terisolasi, spesies serangga di wilayah ini memiliki ciri khas yang sangat berbeda dari kerabatnya di daratan besar. Namun, keunikan itu juga membuat mereka lebih rentan terhadap gangguan dari luar, terutama akibat masuknya spesies invasif dan aktivitas manusia.
“Pulau-pulau samudra memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, tetapi justru karena isolasi itulah mereka sangat rentan terhadap kepunahan,” tambah Economo. (The Guardian/Z-2)
Di sekitar kampus IPB Dramaga, setidaknya ada 50 spesies serangga pengunjung bunga berhasil diidentifikasi dari empat ordo Hymenoptera, Lepidoptera, Diptera, dan Coleoptera.
Penemuan ini digali dari sebuah tambang di Ekuador dan merupakan yang pertama di Amerika Selatan. Pemandangan di dalamnya pun sangat lengkap
MIT mengembangkan robot mirip lebah, bagian dari generasi baru robot yang terinspirasi serangga.
Kantong tersebut sebagai tempat perlindungan bagi larva dan kamuflase.
APA kamu pernah merasa kulit terasa gatal saat memikirkan atau membicarakan tentang serangga? Hal ini terjadi bukan tanpa alasan karena ada alasan medis mengapa hal tersebut terjadi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved