Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah lebih mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui," itulah sekelumit firman Allah yang terkandung dalam Al-Quran surat Al-Baqarah aya 116.
Hendaknya kita memahami bunyi kutipan dalam qalam Ilahi ini, tiada seorangpun memahami rahasia atas kehendak Nya. Maka, manusia harus memiliki kesabaran dan bersyukur atas segala kehendak Nya.
Mungkin itulah di antara yang dihadapi sekeluarga besar Nurul Purwanti perempuan asal Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Mengapa tidak, Nurul Purwanti seperti tidak kuasa menelan air mata, membendung keharuan dan tidak sanggup melawan kesedihan ketika mewakili adiknya Fachrul Razi menerima ijazah kedokteran dari Rektor USK (Universitas Syiah Kuala), Profesor Marwan saat wisuda di Gedung AAC Dayan Dawood, Kampus DarussalamDarussalam, Banda Aceh, Kamis (28/8).
Kehadiran Nurul di kebesaran baju toga dan kemegahan perhelatan penuh kenangan itu guna menyempurnakan lukisan kesetiaan seorang kakak mendukung perjuangan adik-adiknya. Perempuan berusia sekitar 30an tahun itu menggantikan adiknya bernama Fachrul Razi. Sang adik yang Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran USK ini meninggal dunia lima hari menjelang Yudisium.
Nurul hadir mengenakan kebaya saat menerima ijazah adiknya itu. Dia tidak menggunakan baju toga seperti wisudawan dam wisudawati lainnya.
Kepergian Fachrul memang telah meninggalkan duka yang mendalam dalam dirinya. Nurul paham betul, ijazah kedokteran ini adalah impian besar adiknya selama ini. Kakak perempuan ini adalah saksi hidup betapa gigih perjuangan adik bungsunya Fachrul Razi untuk menjadi seorang dokter.
“Ia adalah anak yang baik. Kami sekeluarga semua tahu, betapa besar tekadnya untuk menjadi dokter" kenang Nurul.
Fachrul Razi adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Dia lahir pada 20 Mei 2001. Setelah menamatkan SMAN 1 Arongan Lambalek, Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Fachrul melanjutkan studinya di FKG USK.
Selama di USK, Fachrul berhasil meraih beasiswa bidikmisi atau sekarang KIP-K (Kartu Indonesia Pintar Kuliah). Kesempatan beasiswa pendidikan itu dimanfaatkan sebagai jembatan menuju cita-cita untuk jadi dokter.
Sesuai penuturan Nurul, saat ibunya meninggal dunia pada tahun 2017, Fachrul masih duduk di bangku SMA. Sedangkan ayah mereka sakit mengalami stroke. Keberadaan sang ayah pun nun jauh bersama abang pertamanya di Jakarta. Karena demikian, Nurul adalah seorang Kakak, tentu harus memikul beban tanggung jawab pengganti Ibu bagi adik-adiknya di kampung.
“Lima hari sebelum meninggal, Fachrul sempat pulang ke kampung. Pemuda belia itu seperti ingin melepas kerinduan bersama kami di rumah dan anak-anak saya" ungkap Nurul.
Keluarga besar mereka tinggal di kampung pedalaman, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Ketika Fachrul sampai di kampung, Nurul menyambutnya dengan membuat daging rendang Padang, menu kesukaan pemuda itu.
Hari-hari di kampung Fachru Razi tampak riang gembira bercengkrama tertawa bersama. Dia juga saling bercanda ria dengan keponakan atau anak-anak sang kakak. Bahkan sempat memeluk kakak dan sang anak-anak saat henda berangkat kembali ke kampus di Banda Aceh.
“Wajahnya bersih sekali. Bajunya harum mewangi, padahal adik saya itu jarang pakai parfum" tutur Nurul penuh hari.
Hari itu, wajahnya tampak sehat dan bugar, tidak ada tanda-tanda kurang sehat atau sakit. Namun Fachrul memang tampak lebih patuh dan menuruti. Sesekali terlihat diam dari hari hari biasanya. Kadang juga ponsel yang biasanya tidak lepas dari genggaman, diletakkan begitu saja dan memilih bercengkerama.
Adik sempat berpesan “Kak, jaga anak-anak kakak baik-baik ya. Mereka harus kuliah seperti adek"
Nurul pun menjawab dengan senyuman “Adek saja kakak kuliahkan, apalagi anak sendiri"
Beberapa hari kemudian, sekitar pukul 11 siang, Fachrul mengirim pesan via WA, bahwa dirinya kurang sehat.
“Kak, adek menggigil. Adek sudah diinfus di RS USK" tutur Nurul meniru ucapan adiknya Fachrul Razi.
Nurul langsung saja menghubungi teman-temannya yang mendampingi. Beberapa jam kemudian, Fachrul kembali memberi kabar, “Adek sudah enakan, Kak"
Seorang sahabatnya, Aska, memberi tahu bahwa Fachrul sudah lepas infus dan kata dokter ia cukup sehat, tapi perlu beristirahat. Saat itu dia bahkan sempat makan makanan bawaan sang teman.
Ternyata menjelang magrib, perawat melihat Fachrul sudah tidak sadarkan diri. Sekitar lima menit kemudian, temannya Aska kembali menghubungi kakak Nurul menyampaikan kabar memilukan.
“Kak, Fachrul sudah kembali menuju sang khaliq, dia tela tida ada. Kakak harus kuat, banyak sabar dan berdoa, ya” tutur Aska dari seberang telepon genggamnya.
Saat itulah jantung Nurul berdegup kencang. Dunia seakan runtuh. Nurul pun seketika pilu tak kuasa menahan air mata. Semua kenangan tentang Fachrul pun menguap dalam di benaknya.
Nurul ingat bagaimana ketika kecil dulu, dialah yang memandikan Fachrul. Lalu endukung penuh cita-citanya untuk menjadi dokter. Semua dia bantu membantu sekemampunya. Sebab setelah ibunya meninggal, Nurul berjanji untuk menjaga adik-adiknya termasuk Fachrul, hingga mereka berhasil. Bahkan Nurul masih menyimpa pesan terakhir ibunya menjelang ajal selalu:
“Jaga Fachrul. Bantu dia kuliah. Dia pintar dan punya cita-cita jadi dokter,” tutur Nurul sambil terurai air mata.
Karena itu Nurul dan suaminya selalu mengusahakan keberlanjutan pendidikan Fachrul. Menyemangatinya di tengah kekhawatiran biaya, bahkan meyakinkan bahwa kehadiran mereka akan selalu ada untuknya.
Kini, impian Fachrul untuk diwisuda telah terwujud, meski jalannya telah tiada. Ruh pemuda itu telah menghadapi sang Pencipta.
Ketika nama besar nya dipanggil di atas panggung Gedung AAC Dayan Dawood, dimana ribuan mahasiswa diwisuda, suasana sejenak laksana sunyi.
Nurul naik dengan langkah perlahan, matanya sembab, saat menerima ijazah sang adik kebanggaan keluarganya. Perempuan itu tidak menggunakan baju toga laksana wisudawan atau wisudawati lain.
Sambil beranjak meninggalkan panggung, tangan Nurul tampak menggenggam erat ijazah kedokteran sang almarhum Fachrul Razi.
Ijazah itu bukan sekadar dokumen akademik, tapi lebih dari itu. Lembaran naskah kebesaran penuh lika-liku perjuan itu menjadi bukti cinta, pengorbanan dan janji seorang kakak kepada adik tercintanya.
"Lebih penting lagi adalah menjadi saksi bakti menuruti amanah perjuangan sang ibunya dan ayah yang telah tiada. Semoga alam kubur Fachrul Razi, makam sang ibu dan pusara ayah dijadikan Allah sebagai taman syurga" harap Nurul Purwanti.
Rektor Universitas Syiah Kuala, Profesor Marwan, melalui Media Indonesia, Jumat (29/8) menyampaikan rasa suka atas kepergian sang pahlawan penuntut ilmu itu. Fachrul Razi memjadi contoh kegigihan dan semangat seorang mahasiswa melanjutkan pendidikan hingga di gerbang alam kubur.
Semangat mereka yang begitu membara menjadi motivator anak negeri walau terhalang keterbatasan ekonomi. Meskipun jasadnya telah tiada, namun sangat dan kesungguhan pemuda itu terpatri dan menjadi motor penggerak bagi yang lain.
"Sebagai insan yang berkewajiban menuntut ilmu telah ditunaikannya sampai akhir hayat. Dia telah menyahuti perintah Mu ya Allah. Mohon jadikanlah amalannya sebagai pelita di alam kubur serta pelepas dahaga di yaumil hisab," tutur Rektor Marwa. (H-2)
Minat mahasiswa untuk mengembangkan kewirausahaan hijau, yakni usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan, masih tergolong rendah.
Tim mahasiswa UMB berhasil meraih juara pertama dan ketiga dalam Business Plan Competition, serta juara pertama pada Short Video Competition di ajang AFLES 2025.
Kerja sama ini menjadi langkah konkret dalam mengimplementasikan Tridarma Perguruan Tinggi.
Melihat eskalasi itu, aparat kepolisian langsung bertindak tegas dengan menyemprotkan air dari kendaraan taktis water cannon untuk membubarkan massa.
Program ini menghadirkan berbagai track tematik yang dapat dipilih sesuai minat dan rencana pengembangan diri mahasiswa.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved