Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) prihatin atas kejadian luar biasa (KLB) campak yang kini meluas hingga 14 provinsi dengan 46 wilayah terdampak. Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso menegaskan bahwa KLB ini menjadi bukti adanya penurunan cakupan imunisasi yang signifikan di masyarakat.
"Campak adalah penyakit yang sangat menular, jauh lebih menular daripada Covid-19. Untuk timbulnya KLB tidak perlu sampai cakupan imunisasi turun hingga nol, penurunan hingga 60 persen saja sudah bisa memicu KLB di banyak tempat," kata Piprim, Rabu (27/8).
Oleh karenanya, Piprim menekankan, cakupan imunisasi Measles Rubbela (MR) harus di atas 95 persen agar terbentuk herd immunity atau kekebalan komunitas.
"KLB ini sebetulnya bisa diatasi dengan mengedukasi, memotivasi kembali masyarakat yang galau dengan imunisasi. Harus sama-sama kita ingatkan dan sadarkan," ujarnya.
Lebih lanjut, Piprim juga mengkritik pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan agar tidak hanya fokus pada urusan birokrasi semata. Menurutnya, penyakit seperti ini dapat berakibat fatal, bahkan menyebabkan kematian bila tidak dicegah dengan imunisasi.
"Pak Menkes ini jangan sibuk mutasi-mutasi melulu nih. Masalah begini ini kerjaan Menkes seharusnya juga. Jangan sampai upaya promotif preventif dilupakan," ucapnya.
IDAI pun mendorong pemerintah memastikan ketersediaan vaksin hingga pelosok, serta melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam meningkatkan kembali kepercayaan publik terhadap imunisasi. Menurutnya, imunisasi bukan hanya pencegahan penyakit menular, tapi juga bagian dari pemenuhan hak dasar anak.
"Imunisasi adalah hak anak. Anak berhak untuk hidup sehat dan terlindungi dari penyakit berbahaya," tegasnya.
"IDAI siap berkolaborasi demi kesehatan anak Indonesia. Kami juga berharap media membantu menyebarkan informasi yang akurat agar masyarakat semakin percaya pada imunisasi," imbuhnya. (H-4)
IDAI juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam pemenuhan fasilitas kesehatan anak.
IDAI menganjurkan masyarakat untuk segera mandi air hangat setelah kehujanan, terutama bagi anak-anak yang terpapar hujan, genangan air, atau banjir.
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh penyakit campak dan cacar air pada anak, terutama saat musim hujan.
MUSIM hujan meningkatkan risiko berbagai penyakit infeksi, mulai dari flu hingga leptospirosis, dengan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Secara umum PHBS berlaku universal membersihkan semua sesuatu yang menempel yang bukan dari anggota tubuh.
Air kelapa memang memiliki manfaat kesehatan yang nyata, namun fungsinya lebih bersifat sebagai pendukung cairan tubuh.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Vaksin seperti RSV, hepatitis A, hepatitis B, dengue, serta meningokokus diberikan berdasarkan risiko tertentu.
Difteri masih berbahaya dan bisa muncul diam-diam. Kenali gejala awal, cara penularan, dan risiko fatal penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini.
Pemerintah memperluas imunisasi heksavalen melalui penguatan Program Imunisasi Nasional. Imunisasi terbukti efektif melindungi anak dari penyakit menular berbahaya.
Para orangtua diingatkan untuk mewaspadai penyakit umum selama masa liburan dengan melengkapi imunisasi, terutama penyakit respiratori.
Imunisasi dengan Palivizumab direkomendasikan oleh IDAI untuk mencegah bayi yang lahir prematur mengalami penurunan kesehatan karena infeksi RSV.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved