Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu penyakit berbahaya di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Sayangnya, banyak mitos seputar DBD yang beredar di masyarakat dan menyesatkan. Jika terus dipercaya, informasi keliru ini bisa memperburuk kondisi pasien sekaligus menghambat proses penyembuhan.
Mengenali perbedaan antara mitos dan fakta tentang DBD sangat penting untuk pencegahan dan penanganan yang tepat. Berikut 4 mitos populer tentang DBD beserta faktanya, dikutip dari Halodoc.
Banyak orang menganggap DBD sama dengan flu biasa. Faktanya, gejala DBD lebih serius dan bervariasi.
Pada tahap awal, penderita bisa memang mirip flu.
Jika diabaikan, DBD dapat menyebabkan perdarahan, kebocoran plasma, kerusakan organ, hingga kematian.
👉 Fakta: DBD adalah penyebab utama rawat inap dan kematian, terutama pada anak-anak. Membedakan gejala DBD dan flu sangat penting agar segera mendapat penanganan medis.
Banyak yang percaya DBD bisa menular antar manusia.
👉 Fakta: Penularan hanya terjadi melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti yang sebelumnya sudah menggigit orang terinfeksi. Jadi, kontak langsung antar manusia tidak menularkan DBD.
Ada anggapan seseorang yang pernah sembuh dari DBD tidak akan terinfeksi lagi.
👉 Fakta: Terdapat 4 serotipe virus dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4). Setelah sembuh dari satu serotipe, tubuh hanya kebal terhadap tipe tersebut. Artinya, seseorang bisa terkena DBD hingga empat kali dalam hidupnya.
Turunnya demam sering disalahartikan sebagai tanda kesembuhan.
👉 Fakta: Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), fase kritis justru muncul ketika suhu tubuh mulai turun (hari ke-4 sampai ke-10 setelah digigit nyamuk). Pada fase ini, pasien berisiko mengalami:
Oleh karena itu, pasien tetap perlu pemantauan medis meskipun demam sudah turun.
Pencegahan tetap menjadi langkah paling ampuh menghadapi DBD, terutama saat musim hujan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
Dengan mengenali mitos dan fakta seputar DBD, masyarakat bisa lebih bijak dalam mengambil langkah pencegahan dan pengobatan. Jangan sampai percaya mitos yang bisa berakibat fatal, segera konsultasikan dengan tenaga medis bila mengalami gejala mencurigakan. (Z-10)
Kemitraan ini bertujuan untuk memperkuat pencegahan, kesiapsiagaan, dan ketahanan masyarakat terhadap bahaya demam berdarah melalui aksi nyata berbasis komunitas.Â
Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tasikmalaya petugas kesehatan dan beberapa puskesmas harus terlibat menggerakan masyarakat supaya lingkungan bersih.
Pada Januari dilaporkan terjadi 54 kasus DBD. Jumlahnya turun signifikan dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Dinas Kesehatan Garut masih melakukan edukasi kepada masyarakat supaya kasus DBD dapat ditekan dan menceggah ada korban jiwa.
Data menunjukkan bahwa kelompok umur 15-44 tahun menyumbang 42% dari total kasus dengue, sementara 41% kematian justru ditemukan pada anak-anak usia 5-14 tahun.
Case fatality rate (CFR) atau jumlah angka kematian karena demam berdarah dengue (DBD) menurun signifikan dari 2021 di kisaran 0,9%, menjadi 0,4% pada 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved