Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu penyakit berbahaya di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Sayangnya, banyak mitos seputar DBD yang beredar di masyarakat dan menyesatkan. Jika terus dipercaya, informasi keliru ini bisa memperburuk kondisi pasien sekaligus menghambat proses penyembuhan.
Mengenali perbedaan antara mitos dan fakta tentang DBD sangat penting untuk pencegahan dan penanganan yang tepat. Berikut 4 mitos populer tentang DBD beserta faktanya, dikutip dari Halodoc.
Banyak orang menganggap DBD sama dengan flu biasa. Faktanya, gejala DBD lebih serius dan bervariasi.
Pada tahap awal, penderita bisa memang mirip flu.
Jika diabaikan, DBD dapat menyebabkan perdarahan, kebocoran plasma, kerusakan organ, hingga kematian.
👉 Fakta: DBD adalah penyebab utama rawat inap dan kematian, terutama pada anak-anak. Membedakan gejala DBD dan flu sangat penting agar segera mendapat penanganan medis.
Banyak yang percaya DBD bisa menular antar manusia.
👉 Fakta: Penularan hanya terjadi melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti yang sebelumnya sudah menggigit orang terinfeksi. Jadi, kontak langsung antar manusia tidak menularkan DBD.
Ada anggapan seseorang yang pernah sembuh dari DBD tidak akan terinfeksi lagi.
👉 Fakta: Terdapat 4 serotipe virus dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4). Setelah sembuh dari satu serotipe, tubuh hanya kebal terhadap tipe tersebut. Artinya, seseorang bisa terkena DBD hingga empat kali dalam hidupnya.
Turunnya demam sering disalahartikan sebagai tanda kesembuhan.
👉 Fakta: Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), fase kritis justru muncul ketika suhu tubuh mulai turun (hari ke-4 sampai ke-10 setelah digigit nyamuk). Pada fase ini, pasien berisiko mengalami:
Oleh karena itu, pasien tetap perlu pemantauan medis meskipun demam sudah turun.
Pencegahan tetap menjadi langkah paling ampuh menghadapi DBD, terutama saat musim hujan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
Dengan mengenali mitos dan fakta seputar DBD, masyarakat bisa lebih bijak dalam mengambil langkah pencegahan dan pengobatan. Jangan sampai percaya mitos yang bisa berakibat fatal, segera konsultasikan dengan tenaga medis bila mengalami gejala mencurigakan. (Z-10)
SERANGAN nyamuk di sejumlah lokasi pengungsian pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang menjadi perhatian serius. Kemenkes memastikan kondisi tersebut Kejadian Luar Biasa (KLB).
Terdapat 160 kasus DBD pada Oktober 2025, 161 kasus pada November dan meningkat menjadi 163 kasus DBD pada Desember 2025 di Jakarta Barat.Â
Kasus super flu dan demam berdarah dengue (DBD) selama musim hujan menjadi perhatian khusus Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Kasus DBD pada Januari 2026 yakni dua kasus dari wilayah kerja Puskesmas Selatpanjang, satu kasus dari Puskesmas Alai dan Puskesmas Kedabu Rapat.
Selain DBD, Rano juga menyoroti masih tingginya kasus tuberkulosis (TBC) di Jakarta. DKI Jakarta masih berada di peringkat delapan nasional untuk kasus TBC.
ECDCÂ mencatat lebih dari 5 juta kasus demam berdarah dengue (DBD) secara global sepanjang Januari hingga Desember 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved