Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
HUJAN meteor Perseid merupakan salah satu hujan meteor paling aktif setiap tahunnya.
Fenomena ini berlangsung dari pertengahan Juli hingga akhir Agustus dan akan mencapai puncaknya pada malam 12 Agustus hingga menjelang fajar 13 Agustus 2025.
Bagi yang ingin melihat fenomena ini disarankan mulai memantau langit sekitar pukul 11 malam waktu setempat saat jumlah bintang jatuh mulai meningkat, dan dapat terus menyaksikannya hingga fajar.
Sayangnya, puncak fenomena ini terjadi hanya tiga hari setelah bulan purnama. Hal tersebut lantaran cahaya bulan bisa membuat meteor yang lebih redup sulit terlihat.
Jadi, Kapan Kita Sebenarnya bisa Melihat Hujan Meteor Parseid?
Hujan meteor Perseid berlangsung dari 14 Juli hingga 24 Agustus, dengan puncak aktivitas terjadi pada 11-12 Agustus.
Fenomena ini berasal dari Komet 109P/Swift-Tuttle dan memiliki Zenithal Hourly Rate (ZHR) sekitar 100, yakni jumlah meteor yang dapat dilihat oleh seorang pengamat dalam satu jam pada puncak aktivitasnya, jika langit gelap, cerah, dan titik radian berada tepat di zenit.
Perseid terjadi ketika Bumi melewati sisa-sisa puing, berupa bongkahan es dan batu yang ditinggalkan Komet Swift-Tuttle (terakhir kali mendekati Bumi pada 1992).
Fenomena ini mencapai puncaknya sekitar 11-13 Agustus, saat Bumi melintas di bagian paling padat dan berdebu dari jalur puing tersebut. Pada tahun-tahun tanpa cahaya bulan, jumlah meteor yang terlihat cenderung lebih banyak, misalnya pada tahun 2016 silam.
Menurut NASA, sebuah meteorid Perseid melaju dengan kecepatan sekitar 133.200 mph (214.365 kph) saat memasuki atmosfer Bumi, dan pada tahap ini disebut meteor. Sebagian besar Perseid berukuran sangat kecil, hanya seukuran butiran pasir.
Hampir tidak ada fragmen yang mencapai permukaan Bumi, namun jika ada yang sampai jatuh, fragmen tersebut disebut meteorit.
Perseid memiliki suhu yang sangat panas, mencapai lebih dari 3.000 derajat Fahrenheit (1.650 derajat Celsius) saat setiap fragmennya melintas di atmosfer, menekan sekaligus memanaskan udara di depannya.
Sebagian besar fragmen terlihat ketika berada sekitar 60 mil (97 kilometer) di atas permukaan Bumi.
Penyebab hujan meteor ini disebabkan oleh Komet Swift-Tuttle.Komet ini ditemukan secara terpisah oleh dua astronom, Lewis Swift dan Horace Tuttle, pada tahun 1862.
Saat terakhir kali melintas dekat Bumi pada 1992, cahayanya terlalu redup untuk dilihat dengan mata telanjang.
Perlintasan berikutnya, yang diperkirakan terjadi pada tahun 2126, kemungkinan akan membuatnya tampak seperti komet yang dapat dilihat langsung, dengan tingkat kecerahan mirip Komet Hale-Bopp pada 1997.
Sumber: Space.com
Geminid dikenal menghasilkan meteor yang bergerak lebih lambat dan terkadang berwarna-warni. Fenomena ini dapat dinikmati dengan baik oleh pengamat di wilayah Asia Tenggara
Fenomena-fenomena ini dapat disaksikan di berbagai belahan dunia, termasuk sebagian wilayah Asia dan Indonesia untuk beberapa peristiwa.
Langit berwarna oranye pekat terlihat di sejumlah wilayah Jawa Timur dan sempat ramai diperbincangkan di media sosial.
Hujan meteor Geminid akan mencapai puncaknya pada malam 13-14 Desember 2025 (Sabtu-Minggu). Fenomena astronomi tahunan ini bisa disaksikan dari berbagai belahan duni
Informasi ini membantu ilmuwan memahami masa depan aktivitas tektonik, kestabilan medan magnet, dan bagaimana Bumi terus berubah dari waktu ke waktu.
Meteor dapat terlihat menyala sepanjang langit, tetapi jumlahnya terlihat paling banyak saat konstelasi Geminid sudah tinggi di langit sekitar tengah malam hingga 02.00-03.00 WIB.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved