Jumat 07 Mei 2021, 20:05 WIB

Harmoni dalam Keragaman Budaya

Abdillah M Marzuqi | Humaniora
Harmoni dalam Keragaman Budaya

Komunikasi Lintas Budaya
Memahami Teks Komunikasi Media, Agama, dan Kebudayaan Indonesia

 

BUKAN rahasia lagi keragaman budaya di Indonesia ialah wajah penuh warna yang tidak dapat dimanipulasi. Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 260 juta individu, yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, mereka mendiami wilayah dengan kondisi geografis yang beragam, mulai pegunungan sampai pesisir pantai, tepian hutan hingga di hutan belantara, dataran rendah dan tinggi, perdesaan, hingga perkotaan.

Kondisi itu lalu memunculkan beberapa pendapat. Mereka yang tinggal di padang gersang cenderung temperamental, sama seperti yang tinggal di pesisir.

Sementara itu, yang menghuni perbukitan hijau, penuh kebun teh, dengan suhu dingin, cenderung memiliki sifat pendiam. “Tidak ada yang salah dengan penilaian-penilaian tersebut selama dapat hidup berdampingan serta saling memahami perbedaan, kekayaan warna bangsa akan semakin indah dan harmoni.” (hal 2).

Baca juga: Merawat Persatuan dan Kesatuan

Nyatanya, keragaman di Indonesia bukan hanya dalam hal budaya, melainkan juga agama dan keyakinan-keyakinan transendental, termasuk kehidupan manusia, tata cara, pola pikir, kebiasaan, dan praktik-praktik interaktif antaranggota masyarakat. Sedemikian beragamnya bangsa ini, tidak akan mudah menghindari konflik budaya, tetapi bukan berarti tidak bisa.

Berkaitan dengan keragaman budaya, dewasa ini kerap kali konflik mengemuka sebagai reaksi keragaman yang tidak dipahami sebagai kemajemuk­an dan keharmonisan. Sudah demikian banyak contoh kejadian yang merujuk pada perkara tersebut.

Padahal, kesadaran atas budaya yang berbeda memungkinkan untuk saling mempelajari cara-cara berkomunikasi yang unik sehingga semangat keragaman budaya terus bertunas dan menjadi benih harmoni.

Setidaknya itulah gambaran singkat buku Komunikasi Lintas Budaya; Memahami Teks Komunikasi, Media, Agama, dan Kebudayaan Indonesia karya Dedi Kurnia Syah. Melalui lembar setebal 142 halaman, buku itu menjelaskan dengan singkat setiap kata yang terdapat dalam judul.

Apa yang dimaksud dengan harmoni dalam keberagaman sosial budaya?

Harmoni dalam keberagaman sosial budaya adalah adanya keserasian, dan keselarasan dalam keberagaman budaya, dan dalam kekayaan sosial, atau hal tersebut adalah cerminan dari Bhineka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tetap satu jua.

Buku terbitan Simbiosa Rekatama Media ini punya delapan bab utama yang nantinya akan dipecah menjadi beberapa subbab terkait pembahasan tema. Bab utama tersebut ialah Mengenal Keragaman Budaya (hal 1), Budaya Komunitarianisme (hal 23), Interpretasi Kebudayaan (hal 41), Masyarakat Budaya Media (hal 57), Dinamika Masyarakat Budaya (hal 89), Budaya dan Isu Sender (hal 101), Bahasa Budaya (hal 111), dan Interaksi Lintas Budaya (hal 125).

Pembahasan dimulai dengan Mengenal Keragaman Budaya (hal 1). Dalam bab ini, Dedi secara langsung menyebut contoh keragaman dengan subbab tentang Kearifan Masyarakat Samin (hal 3) dan Idealisme Masyarakat Badui (hal 5). Melalui dua subbudaya tersebut, didapati nilai yang unik. Kepemilikan nilai tersebut ada pada sikap keterbukaan (inklusivitas).

Masyarakat Samin secara sosiologis membaur dengan masyarakat konvensional nonbudaya di Blora. Bagi kalangan aktivis pluralis, masyarakat Samin lebih dikenal dengan nama Sedulur Sikep. Samin memiliki arti sama, kesamaan, sama saja, setara, atau senasib sepenanggungan.

Arti-arti tersebut melahirkan makna tentang kehidupan yang tidak memiliki perbedaan di mata alam dan Tuhan. Tidak ada yang bisa membedakan antara satu individu dan individu lain, kecuali kebaikan serta nilai ketuhanan dalam diri atau ketakwaan.

Baca juga: Mendikbud Berkomitmen Lindungi Adat dan Budaya Papua Barat

Lain halnya dengan masyarakat Badui, selain lebih populer bagi masyarakat Indonesia, masyarakat Badui juga termasuk komunitas budaya yang masih terus menjaga nilai luhur kebudayaan asli dan mulai membaur dengan masyarakat luar.

Bahkan secara politis mulai mengakui adanya pemerintahan dalam hal ini adalah gu­­bernur. Setiap tahun masyarakat Badui melakukan ritual serah upeti kepada gubernur. Kondisi ini hanya terjadi di Badui.

Harmoni dalam keberagaman sosial budaya adalah keselarasan atau keserasian dalam kekayaan sosial dan budaya yang bertujuan untuk menjaga persatuan dan kesatuan.

Komunikasi lintas budaya

Berangkat dari contoh itu lalu lahirlah komunikasi lintas budaya. Yakni komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda, baik dalam bentuk ras, entitas budaya, kelas sosial, ekonomi, gender, dan politik.

Komunikasi lintas budaya dimaknai sebagai kajian kolaboratif yang menggabungkan semua unsur perbedaan menjadi satu kesatuan. Sebab ketika perbedaan dimusuhi, masyarakat dari lintas pembeda tidak jarang bertemu dalam ketegangan, saling memandang sinis, dan penuh kecurigaan.

Perlu ditegaskan, lintas budaya bukan semata memahami bahwa kita berbeda, lalu selesai. Lebih dari itu, lintas budaya berbicara bagaimana kita menerima perbedaan sebagai bagian dari jati diri bangsa.

Lintas budaya juga tidak semata bicara pembeda budaya ritualistis, misalnya lintas agama, ras, suku, dan adat istiadat, tetapi juga memahami perbedaan pemikiran, ideologi, sikap, serta pandangan hidup majemuk. Ketika kita kehilangan kesadaran pluralitas tersebut, akan mudah melahirkan friksi-friksi sebagai embrio kekerasan budaya Kelompok mayoritas merasa dominan menguasai minoritas dengan dalih penghormatan.

Menarik untuk memperhatikan logika sederhana dari penulis yang meneguhkan betapa pentingnya komunikasi lintas budaya. “Kita bisa urai dari hal sederhana, sebelum Indonesia dilegalkan sebagai sebuah negara, kita hidup di satu komunitas besar yang disebut komunitas budaya. Masyarakat Dayak, masyarakat Samin, masyarakat Anak Dalam, masyarakat Badui, masyarakat Bugis, masyarakat Minang, semuanya telah mapan dengan kebudayaannya yang kemudian dunia modern, melalui peperangan, menyatukan mereka menjadi Indonesia.” (hal 130) (M-2)

 

Baca Juga

Ilustrasi

Epidemiolog: Tidak Ada Hubungan Hepatitis Akut dengan Vaksin Covid-19

👤Faustinus Nua 🕔Senin 16 Mei 2022, 14:11 WIB
“Perlu kita pahami dan juga kita sebarkan kepada masyarakat bahwa hepatitis yang masih tidak diketahui penyebabnya ini bisa dikatakan...
Ist/Sematic-scholar

Virus Hendra Bisa Mengancam Kuda dan Manusia

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Senin 16 Mei 2022, 14:02 WIB
Virus Hendra (HeV) merupakan berasal dari kelelawar dan sudah terjadi pada 1994 dan 2016 yang menularkan ke kuda dan...
ANTARA FOTO/Anis Efizudin

Pawai Waisak Nasional Ribuan Umat Buddha Bergerak Menuju Candi Borobudur

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Senin 16 Mei 2022, 13:54 WIB
Prosesi pawai mengiringi api suci, air berkah dan hasil alam itu diikuti berbagai majelis Buddha di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya