Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITIAN terbaru mengungkap sekelompok hewan laut mikroskopis yang sering diremehkan, zooplankton, ternyata memainkan peran penting dalam menyerap karbon dan memperlambat laju pemanasan global.
Makhluk mungil ini, yang bahkan sering dijual sebagai pakan akuarium, terbukti mampu “mengunci” karbon dalam jumlah besar ke dalam laut dalam setiap tahunnya. Dalam prosesnya, mereka menyerap emisi karbon setara dengan yang dihasilkan oleh sekitar 55 juta mobil berbahan bakar bensin.
“Mereka adalah pahlawan yang tak dikenal,” ujar Dr. Guang Yang dari Chinese Academy of Sciences, penulis utama studi yang dipublikasikan dalam jurnal Limnology and Oceanography.
Zooplankton seperti copepod, sejenis kerabat jauh udang dan kepiting, memiliki ukuran hanya 1–10 mm. Meski kecil, mereka menjalani siklus hidup luar biasa: setelah makan dan menumpuk lemak selama musim semi di permukaan laut Antartika, mereka tenggelam ratusan meter ke dasar laut untuk “hibernasi” sambil membakar cadangan lemak tersebut.
“Lemak mereka seperti baterai,” jelas Prof. Daniel Mayor dari University of Exeter. “Selama musim dingin di laut dalam, mereka diam dan perlahan membakar lemak yang telah dikumpulkan.”
Karena pelepasan karbon ini terjadi jauh di dasar laut, dibutuhkan puluhan hingga ratusan tahun sebelum karbon dioksida kembali ke atmosfer. Proses inilah yang disebut “seasonal vertical migration pump”, dan diperkirakan menyimpan 65 juta ton karbon per tahun di kedalaman minimal 500 meter.
Laut menyerap sekitar 90% panas berlebih yang dihasilkan manusia dari pembakaran bahan bakar fosil. Sekitar 40% dari penyerapan itu dilakukan oleh Samudra Selatan, tempat zooplankton memainkan peran besar.
Selama ini, ilmuwan sudah tahu kotoran zooplankton yang tenggelam membawa karbon ke laut dalam. Tapi kontribusi migrasi musiman mereka baru dikalkulasi secara tepat dalam studi ini. Hasilnya mengejutkan — jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya.
Penelitian ini juga melibatkan spesies lain seperti krill dan salp, namun copepod ditemukan sebagai penyumbang karbon terbesar.
“Jika proses biologis ini tidak ada, kadar CO2 atmosfer kita bisa dua kali lipat lebih tinggi dari sekarang,” ujar Prof. Angus Atkinson, salah satu penulis studi.
Meski berperan penting, populasi zooplankton menghadapi berbagai ancaman. Pemanasan air laut, perubahan struktur lapisan laut, cuaca ekstrem, dan penangkapan krill secara masif dikhawatirkan dapat mengganggu migrasi dan menurunkan jumlah karbon yang tersimpan di laut dalam.
Pada 2020, hampir 500.000 ton krill ditangkap secara legal untuk industri suplemen dan pakan, menurut data PBB. Namun, praktik ini mendapat sorotan tajam dari pegiat lingkungan dan dokumenter seperti David Attenborough's Ocean.
Tim peneliti mendesak agar temuan mereka dimasukkan ke dalam model iklim global untuk menghitung proyeksi pemanasan planet secara lebih akurat.
“Samudra kita sudah melakukan pekerjaan luar biasa menyerap CO2. Sekarang kita tahu, sebagian besar dari itu berkat migrasi kecil namun masif dari zooplankton,” pungkas Dr. Jennifer Freer dari British Antarctic Survey.
Dari hewan yang hanya dikenal sebagai “pakan ikan”, kini zooplankton diakui sebagai bagian penting dari sistem alami Bumi yang menjaga keseimbangan iklim. Mungkin sudah saatnya mereka mendapatkan perhatian dan perlindungan yang layak. (BBC/Z-2)
PENELITIAN ilmiah terbaru menunjukkan bahwa rumput laut memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida (CO2) jauh lebih cepat dibandingkan hutan daratan.
Rayakan Malam Tahun Baru di Karbon Bandung dengan rooftop dinner premium, live music, countdown di ketinggian, dan suasana pesta yang berkesan.
Dana dari hasil penjualan karbon akan digunakan untuk membangun lebih banyak pembangkit listrik hijau.
Hotel Indigo Bandung Dago Pakar, bagian dari koleksi Luxury & Lifestyle IHG Hotels & Resorts, dengan bangga merayakan ulang tahun pertamanya.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis perusahaan dalam memperluas jangkauan layanan testing, inspection, certification, and consulting (TICC) di wilayah baru.
Sektor bangunan di Indonesia, saat ini, menyumbang 33% emisi gas rumah kaca, dengan penggunaan pendingin sebagai salah satu penyumbang terbesar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved