Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT demam berdarah telah menjadi ancaman bagi masyarakat dunia. Indonesia juga menjadi salah satu negara yang berisiko menghadapi ancaman demam berdarah. Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht mengatakan bahwa kasus DBD bisa menyerang atau menginfeksi seseorang bukan hanya satu kali, tapi berkali-kali. Oleh karena itu ia menjelaskan cara mencegah penularan DBD dengan memberantas sarang nyamuk.
“Anak-anak sekolah jadi paling terdampak. Setiap kasus jadi pengingat untuk kita berbuat lebih banyak. Kita harus lawan DBD dan bersama kita bisa. Kami mendorong masyarakat meningkatkan peran aktif dalam pencegahan DBD. Harus dilakukan dari sekarang,” ungkapnya dalam acara Langkah Bersama Cegah DBD di Jakarta, Sabtu (15/2).
Menurutnya terdapat tiga tindakan yang diperlukan untuk mencegah demam berdarah di antaranya edukasi terhadap diri sendiri dan orang lain, mengontrol nyamuk dengan 3M atau menguras, menutup dan mendaur ulang plus vaksin, dan melakukan aksi nyata.
“Kami berkomitmen untuk mewujudkan visi zero dengue pada 2030,” tegas Andreas.
Lebih lanjut, Direktur Penyakit Menular, Kemenkes, Ina Agustina Isturini menambahkan bahwa demam berdarah atau dengue masih menjadi beban penyakit yang cukup tinggi di dunia termasuk Indonesia.
Dari data WHO, terdapat 3,9 miliar orang berisiko terkena DBD dan mayoritas penduduk yang terkena ada di Afrika, Asia dan Amerika Latin.
“Ada 247 ribu kasus DBD pada 2024 dan 1.400 kematian di Indonesia. Untuk 2025, data terbaru 3 Februari 2025 ada 6 ribu kasus dan 28 kematian. Jadi DBD ini peningkatannya dari berbagai faktor. Salah satunya perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu. Ini membuat frekuensi nyamuk untuk menggigit. Jadi suhu 18 derajat nyamuk menghisap darah 5 kali sehari. Tapi 30 derajat nyamuk menghisap darah 5 hari sekali,” kata Ina.
“Pengetahuan masyarakat terkait DBD juga masih kurang. Selain itu belum juga meratanya gerakan 3M atau menguras, menutup dan mendaur ulang. Jadi masyarakat masih menganggap 3M plus hanya tanggung jawab petugas saja. Padahal ini tanggung jawab semua,” sambungnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Ani Ruspitawati mengatakan bahwa sampai hari ini, Jakarta menjadi daerah endemis demam berdarah. Untuk itu, dibutuhkan komitmen semua pihak untuk sama-sama berkomitmen untuk mengendalikan demam berdarah.
“Paling penting kita jaga lingkungan untuk kendalikan pengembakbiakkan nyamuk. Sudah ada 1 angka kematian DBD di Jakarta dan ini harus menjadi PR bersama. Salah satu upaya adalah vaksinasi. Ini jadi alternatif bagi pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk mengendalikannya. Kami punya piloting vaksinasi DBD tapi semoga ini dapat diaplikasikan ke seluruh daerah Indonesia,” pungkas Ani. (H-4)
Kementerian Kesehatan menerapkan teknologi Wolbachia untuk menekan penyebaran demam berdarah dengue (DBD).
Data menunjukkan bahwa kelompok umur 15-44 tahun menyumbang 42% dari total kasus dengue, sementara 41% kematian justru ditemukan pada anak-anak usia 5-14 tahun.
Case fatality rate (CFR) atau jumlah angka kematian karena demam berdarah dengue (DBD) menurun signifikan dari 2021 di kisaran 0,9%, menjadi 0,4% pada 2025.
Kawasan Asia Tenggara telah lama menjadi episentrum global penularan dengue. Berdasarkan data terbaru, hampir 400.000 kasus dilaporkan di wilayah ini sepanjang 2025.
Indonesia mencatatkan capaian signifikan dalam upaya pencegahan angka kematian dari kasus demam berdarah (DBD).
Selain DBD, Rano juga menyoroti masih tingginya kasus tuberkulosis (TBC) di Jakarta. DKI Jakarta masih berada di peringkat delapan nasional untuk kasus TBC.
Hngga kini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan DBD. Terapi yang diberikan hanya meredakan gejala, bukan membunuh virus.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved