Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terus memantau perkembangan sistem atmosfer yang dapat memengaruhi cuaca di Indonesia. Saat ini, terdapat dua gangguan tropis yang terdeteksi di wilayah pemantauan TCWC Jakarta, yaitu Siklon Tropis ZELIA di Samudra Hindia, sebelah barat Australia, dan Bibit Siklon Tropis 93W di Laut Cina Selatan.
"Siklon Tropis ZELIA bergerak ke arah barat daya dan diprediksi akan semakin menguat dalam 24 jam ke depan," demikian pernyataan BMKG dalam rilis resminya.
Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 93W bergerak ke arah selatan dengan potensi rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis. Dampak dari pergerakan Siklon Tropis ZELIA yang semakin menjauh dari wilayah Indonesia adalah penurunan intensitas curah hujan. Namun, BMKG tetap mengingatkan adanya potensi angin kencang di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
"Gelombang tinggi hingga empat meter berpotensi terjadi di perairan selatan Jawa Timur hingga selatan Nusa Tenggara Timur, disertai angin kencang dengan kecepatan lebih dari 25 knot," ucap BMKG.
Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 93W diperkirakan akan melemah dan punah dalam 72 jam ke depan, sehingga tidak berdampak signifikan terhadap peningkatan curah hujan di sekitar sistem ini. BMKG juga memprediksi cuaca di Indonesia pada periode 14-16 Februari 2025 akan didominasi kondisi berawan hingga hujan ringan. Meski demikian, hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah.
"Wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat di antaranya Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Lampung, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara," kata BMKG.
Sementara itu, wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku diimbau untuk mewaspadai potensi angin kencang. Pada periode 17-20 Februari 2025, pola cuaca masih menunjukkan dominasi kondisi berawan hingga hujan ringan. Namun, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga ekstrem dapat terjadi di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta Sulawesi Barat.
BMKG menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat berdampak pada aktivitas masyarakat. Dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem, BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap kemungkinan hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang.
"Kami mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap jalanan licin serta risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor," ungkap BMKG.
Selain itu, masyarakat diharapkan terus memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG, seperti situs web, media sosial, atau aplikasi infoBMKG. "Tetap tenang dan siaga menghadapi perubahan cuaca ekstrem, serta pahami langkah evakuasi jika diperlukan."(M-2)
Sirkulasi siklonik yang sebelumnya terpantau di selatan Nusa Tenggara Barat sempat berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis 96S.
BMKG memperingatkan potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan, seiring masih signifikannya pengaruh dinamika atmosfer global.
Bibit Siklon Tropis 97S yang saat ini terpantau di wilayah utara Australia berpotensi menguat menjadi siklon tropis dalam beberapa hari ke depan.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia bagian selatan pada periode 16-22 Januari 2026.
BMKG menyebut November–Desember sebagai periode rawan terbentuknya siklon tropis akibat tumpang tindih musim di belahan Bumi utara dan selatan.
BMKG memantau bibit siklon 93S dan 95S yang berpotensi menyebabkan gelombang tinggi di perairan selatan Jawa dan Papua.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved