Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
HIPERTENSI, yang selama ini dianggap sebagai masalah kesehatan pada orang dewasa atau lanjut usia, kini juga menjadi ancaman serius bagi remaja. Di mana prevalensinya menunjukkan peningkatan.
Menurut penelitian Liu et al. (2022), prevalensi hipertensi di kalangan remaja mencapai 15% dan terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.
Di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2017, sekitar 23% remaja berisiko mengalami hipertensi. Angka ini meningkat pada 2018, di mana prevalensi hipertensi pada penduduk usia 18 tahun mencapai 34,1%.
Secara medis, hipertensi adalah kondisi di mana tekanan darah dalam arteri meningkat. Seseorang dianggap memiliki hipertensi jika tekanan darah sistoliknya mencapai 140 mmHg atau lebih, dan tekanan darah diastoliknya 90 mmHg atau lebih.
Hipertensi sering disebut sebagai "silent killer" karena gejalanya yang tidak terlihat jelas dan sering mirip dengan penyakit lain. Beberapa gejala umum yang bisa muncul antara lain sakit kepala, rasa berat di tengkuk, pusing, jantung berdebar-debar, mudah lelah, penglihatan kabur, telinga berdenging (tinnitus), dan mimisan.
Hipertensi pada anak muda dan remaja dapat memiliki dampak jangka panjang bagi kesehatan. Pasalnya cenderung berlanjut hingga usia dewasa dan bisa berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius.
Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam Journal of the American College of Cardiology, remaja atau anak muda dengan tekanan darah yang melebihi batas normal memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami masalah jantung di kemudian hari.
Selain itu hipertensi dapat meningkatkan risiko penyakit serius, termasuk stroke, gagal jantung, dan penyakit ginjal.
Hipertensi pada remaja dapat disebabkan kondisi medis tertentu, seperti gangguan fungsi ginjal, pembuluh darah, jantung, atau sistem endokrin. Beberapa kondisi medis yang dapat menyebabkan hipertensi pada usia muda antara lain:
Meskipun Anda merasa tidak memiliki kondisi medis tertentu, hipertensi tetap bisa terjadi karena beberapa faktor. Berikut adalah beberapa faktor penyebab hipertensi pada remaja:
Hipertensi pada remaja sering tidak terdeteksi hingga gejalanya muncul, sehingga Perlu untuk memeriksa tekanan darah secara rutin sejak usia 20 tahun, terutama jika memiliki riwayat keluarga atau faktor risiko hipertensi. Untuk mencegahnya, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan sejak dini, di antaranya:
Remaja harus peduli akan hipertensi, karena penyakit ini dapat menimbulkan dampak baik jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga perlu menjaga kesehatan agar tetap sehat di usia lanjut. (kemkes/dinkes/sardjito/Z-3)
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
Fenomena keinginan bunuh diri pada remaja tidak dipicu oleh penyebab tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang kompleks.
Upaya pencegahan bunuh diri pada remaja dinilai perlu dimulai dari penguatan “jaring pengaman” di lingkungan terdekat, terutama sekolah dan keluarga.
Agar aturan gawai dapat berjalan efektif, orangtua perlu menerapkan pola asuh yang masuk akal dan kolaboratif.
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved