Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA peneliti di seluruh dunia tengah meneliti cara mencegah Alzheimer. Meskipun pencegahan Alzheimer belum memiliki jawaban pasti saat ini, penelitian telah menunjukkan bahwa kita dapat mengambil tindakan untuk mengurangi risiko terkena penyakit tersebut.
Para ahli sepakat bahwa Alzheimer, seperti banyak kondisi kronis lainnya, sering kali berkembang akibat interaksi kompleks berbagai faktor. Termasuk usia, genetika, lingkungan, gaya hidup, dan kondisi medis yang bersamaan.
Walaupun beberapa faktor risiko, seperti usia dan gen, tidak dapat diubah, ada faktor risiko lain, seperti hipertensi dan kurangnya aktivitas fisik, yang biasanya dapat diubah untuk menurunkan risiko.
Baca juga : Membangun Kesadaran di Hari Alzheimer Sedunia: Memahami Penyakit dan Dampaknya
Penelitian di area ini dapat menghasilkan metode baru untuk mendeteksi individu yang berisiko tinggi.
Sebagian kecil individu dengan penyakit Alzheimer (kurang dari 1%) mengalami tipe awal yang disebabkan oleh mutasi genetik, yang menjamin mereka akan mengembangkan penyakit ini.
Saat ini, uji klinis yang dilakukan oleh Dominantly Inherited Alzheimer Network (DIAN) sedang menyelidiki apakah antibodi terhadap beta-amiloid dapat mengurangi akumulasi plak beta-amiloid di otak orang dengan mutasi genetik, serta mengurangi, menunda, atau mencegah gejala Alzheimer.
Baca juga : Di Bulan Alzheimer Sedunia, ADI dan Alzi Serukan Peningkatkan Kesadaran dan Pengurangan Stigma
Peserta dalam studi ini menerima antibodi (atau plasebo) sebelum gejala muncul, dan perkembangan plak beta-amiloid dipantau melalui pemindaian otak dan tes lainnya.
Selain itu, uji klinis lain yang disebut uji A4 (Anti-Amyloid Treatment in Asymptomatic Alzheimer's) menginvestigasi apakah antibodi terhadap beta-amiloid dapat menurunkan risiko Alzheimer pada orang dewasa yang lebih tua (65 hingga 85 tahun) yang berisiko tinggi. Uji A4 dilaksanakan oleh Alzheimer's Disease Cooperative Study.
Meskipun penelitian masih berlangsung, ada bukti yang kuat bahwa orang dapat mengurangi risiko Alzheimer dengan melakukan perubahan signifikan dalam gaya hidup, seperti rutin beraktivitas dan menjaga kesehatan jantung.
Baca juga : Mengenal Penyakit Demensia, Ini yang Perlu Anda Ketahui
Olahraga secara rutin dapat menjadi strategi efektif untuk mengurangi risiko Alzheimer dan demensia vaskular. Aktivitas fisik bermanfaat bagi sel-sel otak dengan meningkatkan aliran darah dan oksigen.
Bukti terbaru menunjukkan bahwa pola makan yang baik untuk jantung juga dapat melindungi otak. Pola makan ini mencakup pengurangan gula dan lemak jenuh serta konsumsi banyak buah, sayuran, dan biji-bijian utuh.
Dua pola makan yang telah diteliti dan berpotensi menurunkan risiko Alzheimer adalah diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) dan pola makan Mediterania.
Diet DASH fokus pada sayuran, buah-buahan, produk susu rendah lemak, biji-bijian utuh, ikan, unggas, kacang-kacangan, dan minyak sayur, serta membatasi natrium, gula, minuman manis, dan daging merah.
Adapun pola makan Mediterania mengutamakan biji-bijian utuh, buah dan sayuran, ikan dan kerang, dengan sedikit daging merah dan lemak sehat dari kacang-kacangan serta minyak zaitun. (Alzheimer Association/Z-1)
Kondisi kaki dapat memberikan petunjuk penting terkait kesehatan saraf, peredaran darah, hingga penyakit sistemik.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan satu anak dengan gizi buruk, satu anak stunting, dan enam anak dengan gizi kurang.
SERANGAN penyakit kutu air (balancat) dan diare mulai menyerang korban banjir di Provinsi Kalimantan Selatan.
Kolesterol yang tinggi sering disebut sebagai silent killer dan dapat menjadi penyebab dari berbagai penyakit serius.
EXECUTIVE Director Alzheimer Indonesia Asmara Pusparani menilai orangtua yang sudah mengalami lupa yang tidak wajar maka sebaiknya segera melakukan deteksi dini.
Dalam rangka memperingati Hari Alzheimer Sedunia yang jatuh setiap 21 September, digelar seminar kesehatan bertajuk Kenali dan Cegah Alzheimer Sejak Dini.
Penyakit Alzheimer adalah salah satu masalah kesehatan yang banyak dikhawatirkan, terutama pada usia lanjut. Namun, tahukah Anda bahwa senam aerobik dapat mencegahnya
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved