Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
WORLD Health Organization (WHO) merilis aturan baru mengenai batasan konsumsi pemanis buatan atau aspartam sebanyak 40 mg per kg berat badan. Angka itu didapatkan dari studi yang dilakukan International Agency for Research on Cancer (IARC), WHO dan Food and Agriculture Organization (FAO) serta Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA).
Seperti diketahui, aspartam adalah pemanis buatan (kimia) yang banyak digunakan dalam berbagai produk makanan dan minuman sejak tahun 1980-an. Di antaranya minuman diet, permen karet, gelatin, es krim, produk susu seperti yogurt, sereal sarapan, pasta gigi dan obat-obatan seperti obat batuk dan obat kunyah. Vitamin.
Risiko Kanker
Berdasarkan tinjauan yang dilakukan, ditemukan ada potensi bahaya karsinogenik dan risiko kesehatan lain yang terkait dengan konsumsi aspartam.
Baca juga: Mengenal Aspartam, Pemanis Buatan yang paling Kontroversial
“Kanker adalah salah satu penyebab utama kematian secara global. Setiap tahun, 1 dari 6 orang meninggal karena kanker. Ilmu pengetahuan terus berkembang untuk menilai kemungkinan faktor pemicu atau pemicu kanker, dengan harapan dapat mengurangi jumlah ini dan jumlah korban manusia,” kata Direktur Departemen Nutrisi dan Keamanan Pangan WHO Francesco Branca dikutip dari laman resmi WHO, Minggu (16/7).
IARC mengklasifikasi adanya potensi kanker, khususnya kanker hati yang disebabkan karena konsumsi aspartam yang berlebih. Selain itu JECFA menyatakan bahwa konsumsi aspartam 40 mg/ kg berat badan adalah batas aman yang dapat dikonsumsi manusia.
Misalnya, sekaleng minuman diet yang mengandung 200 atau 300 mg aspartam, orang dewasa dengan berat badan 70 kg dapat mengonsumsi 9 sampai 14 kaleng perhari, dengan asumsi tidak ada asupan aspartam dari sumber makanan lainnya.
Baca juga: WHO Sebut Pemanis Non-Gula Tak Dapat Kurangi Berat Badan dan Picu DM Tipe 2
Namun demikian, butuh penelitian lebih lanjut mengenai kanker yang disebabkan oleh aspartam. Pasalnya, hingga kini penelitian masih dilakukan sebatas pada hewan.
"Kami membutuhkan studi yang lebih baik dan uji coba terkontrol secara acak, termasuk studi tentang jalur mekanistik yang relevan dengan regulasi insulin, sindrom metabolik dan diabetes terutama yang terkait dengan karsinogenitas," kata Kepala Standar dan Saran Ilmiah di Unit Pangan dan Gizi WHO Moez Sanaa.
Ia menyatakan, IARC dan WHO akan terus memantau bukti baru dan mendorong kelompok penelitian independen untuk mengembangkan studi lebih lanjut tentang hubungan potensial antara paparan aspartam dan efek kesehatan konsumen.
(Z-9)
IDI tidak pernah mengeluarkan rilis atau pernyataan resmi tentang daftar minuman penyebab kanker.
Argentina resmi keluar dari WHO menyusul langkah AS. Presiden Javier Milei tegaskan penarikan ini demi kedaulatan penuh dan kritik atas manajemen pandemi Covid-19.
Situasi Lebanon kian mencekam! WHO laporkan 14 petugas medis tewas dalam serangan udara terbaru. Total korban jiwa kini tembus 826 orang di tengah eskalasi konflik Israel-Hezbollah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan ancaman hujan asam dan hujan hitam di Iran akibat serangan pada fasilitas minyak. Warga diminta waspada.
Denmark resmi jadi negara Uni Eropa pertama yang mencapai status eliminasi transmisi HIV dan sifilis dari ibu ke anak.
Studi terbaru The Lancet Oncology mengungkap ketimpangan tragis, angka kematian kanker payudara turun di negara maju, namun melonjak hampir 100% di negara miskin.
WHO menyebut vaksin influenza generasi baru berpotensi mencegah hingga 18 miliar kasus flu dan menyelamatkan 6,2 juta nyawa hingga 2050 dengan perlindungan yang lebih luas dan tahan lama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved