Kamis 26 Januari 2023, 10:00 WIB

Problematika Pemerataan Dokter karena Kurangnya Kesejahteraan

M Iqbal Al Machmudi | Humaniora
Problematika Pemerataan Dokter karena Kurangnya Kesejahteraan

healthline
Ilustrasi

 

PENGURUS PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan PP Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Iqbal Mochtar menilai tidak meratanya dokter di pusat kota dan pelosok baik dokter umum dan dokter spesialis masih terjadi karena kurangnya kesejahteraan bagi para dokter.

Hal itu menjadi persoalan kronis yang terjadi dari tahun ke tahun. Bahkan setiap ganti menteri kesehatan pun persoalan pemerataan dokter pun masih berlanjut.

"Jika dilihat persoalan distribusi yang tidak merata ini masalahnya utamanya ada kesejahteraan. Karena kita tahu sekolah dokter spesialis cukup lama sampai 6-7 tahun dan biaya besar," kata Iqbal saat dihubungi.

Namun, lanjut dr Iqbal, masalahnya selama ini semua pembiayaan dokter spesialis dikeluarkan oleh dokter sendiri jadi pemerintah tidak pernah ikut terlibat dalam pembiayaan tersebut. Jika ada pun sifatnya pada tugas belajar dan hanya beberapa orang saja.

Akibatnya seorang yang harus kuliah dokter umum kemudian internship kemudian masuk pendidikan dokter spesialis total belajar hingga 12 tahun. Semua biaya dikeluarkan dari dompet mereka masing-masing.

"Karena meluangkan waktu dan pembiayaan yang banyak maka wajar saja ketika selesai pendidikan maka mereka mencari kesejahteraan tersebut. Paling tidak mengembalikan uang yang selama ini dipakai untuk pendidikan," ujarnya.

Karena bisa jadi uang pendidikan tersebut berasal dari dompet orang tuanya, pinjaman, atau lainnya sehingga ada inisiatif timbal balik setelah berhasil meraih gelar dokter.

"Akhirnya wajar-wajar saja jika mereka ingin mencari kehidupan di kota. Kehidupan di kota menjanjikan kehidupan yang lebih baik, kemudahan, sarana, dan sebagainya" ucapnya.

Ia mengatakan jika pemerintah ingin melakukan distribusi dokter secara lebih baik pertama ditingkatkan dulu kesejahteraannya harus ada insentif bagi dokter yang bekerja di daerah.

"Pendapatan mereka harus dijamin dan setara dengan dokter yang bekerja di kota karena kalau tidak mereka akan kembali ke kota," jelasnya.

Tetapi kalau pemerintah mau memberikan insentif katakanlah pendapatan yang lebih besar tentu saja mau bekerja di daerah. Kalau pendapatan tidak sesuai maka menjadi wajar banyak dokter memilih bekerja di kota besar. (H-2)

Baca Juga

Antara/Maulana Surya.

Punya Urusan? Baca Basmalah dan Rahasia Angka 19

👤Meilani Teniwut 🕔Kamis 09 Februari 2023, 16:17 WIB
Ada sejumlah zikir, doa, atau amalan untuk memudahkan umat Islam dalam menyelesaikan suatu...
MI/VICKY GUSTIAWAN

Resmi Dibuka, OSC 2023 Sediakan 80 Beasiswa Penuh Jenjang S2

👤Faustinus Nua 🕔Kamis 09 Februari 2023, 16:04 WIB
Untuk OSC S2 tahun ini tersedia 80 beasiswa penuh untuk studi S2. Peserta dapat memilih 11 perguruan tinggi swasta unggulan di 5 kota yakni...
AFP

DPR Minta BPKH Ikuti Arab Saudi, Menjadikan Haji Sebagai Bisnis

👤Atalya Puspa 🕔Kamis 09 Februari 2023, 15:57 WIB
Ia juga meminta agar BPKH saat ini mengikuti paradigma baru Arab Saudi, bahwa haji bukan hanya sekadar ibadah, tapi juga bisa menjadi ruang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya