Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengaku khawatir akan terjadi cuaca ekstrem di tahun baru 2023 yang serupa dengan tahun 2020.
"Dikhawatirkan dapat terjadi seperti itu. Kenapa? Karena saat itu tingginya intensitas hujan juga dipengaruhi oleh seruakan udara dingin yang ada di daratan Asia Tibet dan Monsun Asia yang semakin menguat," kata Dwikorta dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara virtual, Selasa (27/12).
Namun, Dwikorita menyebut ada perbedaan fenomena atmosfer yang terjadi saat ini dan pada 2020. Ia menyebut, pada 2020 ada fenomena La Nina yang dapat meningkatkan curah hujan sampai dengan 70%. Fenomena itu muncul bersamaan dengan seruak udara dingin dan Monsun Asia sehingga dapat menciptakan cuaca ekstrem.
Saat itu, ucap dia, curah hujan tertinggi mencapai 377 milimeter kubik dalam waktu 24 jam. Angka itu sudah melebihi ambang batas curah hujan pada kategori ekstrem, yakni 150 milimeter kubik dalam waktu 24 jam.
Sementara itu, di tahun ini, fenomena La Nina levelnya lebih rendah. Namun, seruak udara dingin yang terjadi di tahun ini munculnya berbarengan dengan fenomena atmosfer lainnya di antaranya peningkatan aktivitas Monsun Asia, adanya arus lintas ekuatorial dan fenomena Madden Julian Oscillation (MJO).
Dwikorita mengungkapkan, meskipun belum bisa memastikan bahwa curah hujan di tahun baru 2023 akan sama seperti tahun 2020, namun potensi curah hujan ekstrem di atas 150 milimeter kubik dalam 24 jam besar terjadi.
"Sebelum (curah hujan) mencapai 100 milimeter kubik pun banjir sudah terjadi di mana-mana. Kondisi bencana ekstrem hidrometeroogi itu sudah terjadi sebelum mencapai 100 milimeter kubik. Bagaimana nanti kalau mencapai 150 milimeter kubik yang prediksi kami itu sangat mungkin terjadi. Jadi itu poinnya di sana. Jadi jangan hanya diwaspadai tapi disiagakan," tukas Dwikorita.
Baca juga: BMKG Bantah Prediksi BRIN Soal Badai Dahsyat Jabodetabek
Pada kesempatan itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Guswanto mengungkapkan untuk mengantisipasi adanya cuaca ekstrem di masa Tahun Baru 2023, ada berbagai upaya yang perlu dilakukan. Pertama, pihaknya berharap masyarakat selau waspada.
"Karena cuaca ekstrem ini selalu ada di setiap puncak musim hujan dan musim hujan akan terjadi Desember, Januari, Februari. Sementara puncak musim hujan DKI ada di Januari, Februari kalau kita lihat beberapa tahun terakhir," ungkapnya.
Kedua, yang perlu diperhatikan juga ialah infrastruktur tata kelola air. Ia menyebut, jika infrastruktur tata kelola air lebih bagus, maka hujan dengan intensitas ekstrem pun bisa ditangani dan tertapampung sehingga tidak menimbulkan potensi banjir.
"Ada satu usaha yang kita harapkan, yaitu masyarakat harus lebih sadar terhadap cuaca dan iklim. Masyarakat harus mengenali lingkungan tempat tinggalnya dan mengupdate informasi cuaca seperti apa. Itulah langkah mitigasi yang perlu dilakukan," pungkas Guswanto. (OL-5)
Pada periode tersebut, kata dia, suhu udara diprakirakan berada pada kisaran 25-33 derajat Celcius dengan tingkat kelembapan udara berkisar 62-95 persen.
INTENSITAS cuaca ekstrem yang melanda wilayah Banten dan sekitarnya dalam beberapa pekan terakhir mulai berdampak serius pada sektor industri maritim.
Gelombang tinggi 1,25-2,5 meter disertai hujan badai juga masih berlangsung di perairan utara dan selatan Jawa Tengah pada Kamis (5/2) hingga cukup berisiko terhadap aktivitas pelayaran.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melanda sejumlah wilayah pada 5 Februari 2026.
POTENSI cuaca ekstrem merata di 33 daerah di Jawa Tengah, Rabu (4/2). Gelombang tinggi hingga 2,5 meter dan air laut pasang (rob) masih berlangsung di perairan.
BMKG mengungkapkan bahwa kemunculan tiga bibit siklon tropis, masing-masing bernomor 94W, 92S, dan 98P, memicu belokan serta perlambatan angin yang membentuk daerah konvergensi.
Periode 1-10 Februari 2026 atau dasarian I Februari terdapat peluang hujan dengan intensitas lebih dari 50 milimeter per dasarian sebesar 70 hingga lebih dari 90 persen.
Sebagian warga Bumiayu memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman karena rumah mereka terdampak banjir. Tak hanya itu, ratusan hektare tanaman padi juga rusak.
Pengelola Jakarta Garden City (JGC) mengebut pembenahan infrastruktur dan jalan di tengah kemacetan, cuaca ekstrem, serta sorotan isu lingkungan RDF Rorotan.
Pramono mengingatkan agar permasalahan tata ruang itu tidak diperparah dengan kebiasaan warta membuang sampah sembarangan.
Hujan dengan intensitas tinggi menjadi pemicu utama terjadinya bencana tanah longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat.
Adapun di Jakarta Timur, genangan tercatat di 16 RT yang berada di Kelurahan Rawa Terate, Bidara Cina, Kampung Melayu, Cawang, dan Cililitan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved