Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis kedokteran jiwa Azhari Cahyadi Nurdin mengatakan psikoterapi perlu dibarengi dengan motivasi kuat dari dalam diri untuk berjuang dan pulih.
"Psikoterapi adalah suatu bentuk terapi antara dokter atau psikolog dengan pasiennya untuk berbicara dan berdiskusi. Kita akan bersama mendiskusikan masalah dan keluhan yang dihadapi pasien," kata Azhari, yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dalam sebuah diskusi daring, dikutip Selasa (18/10).
"Psikoterapi dianjurkan bagi pasien yang memiliki keinginan untuk berubah lebih baik dari dalam dirinya, sehingga ketika berdiskusi menjadi enak, dan merasa memiliki alternatif dalam memecahkan masalahnya. Untuk itu, harus ada usaha yang dilakukan," tambahnya.
Baca juga: Kesulitan Atasi Stres? Segera Cari Bantuan Profesional
Lebih lanjut, Azhari mengatakan, melalui terapi ini, terapis akan mencoba mengidentifikasi serta mengubah perasaan, emosi dan suasana hati, pikiran, serta perilaku pasien yang mengganggu dan membuat pasien merasa tertekan.
Terapis juga akan membantu pasien mempelajari cara mengendalikan hidup serta menghadapi situasi yang menantang dengan cara yang lebih sehat dan efektif.
Harapannya, psikoterapi dapat membantu pasien memahami diri sendiri dengan lebih baik serta memberikan pasien kekuatan untuk mengatasi stres atau masalah psikologis lain dengan cara yang lebih sehat.
Adapun Azhari menjabarkan beberapa jenis psikoterapi yang bisa dijalani sesuai dengan kebutuhan. Pertama, ada terapi kognitif dan perilaku (cognitive-behavioral therapy/CBT) yang akan dibantu untuk mendeteksi pola pikir atau perilaku tidak sehat yang menjadi sumber masalah dalam hidup pasien.
"Lewat terapi ini, diharapkan bisa mengubah cara berpikir dan perilaku untuk menjadi lebih positif. Prosesnya membutuhkan waktu, maka dari itu, diperlukan keinginan kuat juga dari pasien untuk berusaha bangkit bersama," kata dokter yang juga terhimpun dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tersebut.
Selanjutnya, ada terapi psikodinamik dan psikoanalitik, yang biasanya dilakukan pada kasus-kasus dimana ada kaitannya dengan peristiwa atau trauma masa lalu.
"Lewat proses diskusi ini, kita diajak menyelami masa lalu, tujuannya untuk refleksi dan berdamai dengan masa lalunya," kata dia.
Yang ketiga, adalah terapi humanistik, yang fokus pada pengembangan potensi diri.
Dalam proses ini, pasien akan diajak untuk mengenal dirinya lebih jauh, sisi positif dalam diri, dan apa yang harus ditingkatkan sehingga ia bisa menjadi pribadi yang mampu melakukan sesuatu dengan penuh makna.
"Perlu diingat, pada prinsipnya, psikoterapi membutuhkan waktu. Mengubah cara berpikir lebih positif, pola perilaku yang lebih adaptif, itu butuh waktu. Tidak bisa melalui satu kali pertemuan saja," kata Azhari.
"Yang efektif, minimal 5 hingga 8 kali pertemuan dengan durasi 30-60 menit per sesi, yang dilakukan rutin, tergantung tingkat kebutuhannya. Dalam kasus yang lebih kompleks, bisa butuh waktu lebih panjang, bahkan bertahun-tahun, sehingga motivasi dalam diri penting," pungkasnya. (Ant/OL-1)
Sejarah manusia dipenuhi penemuan penting seperti listrik, internet, dan vaksin yang mengubah peradaban. Inovasi ini menjadi fondasi kemajuan teknologi, komunikasi, dan kesehatan global.
Istilah super flu saat ini sedang ramai diperbincangkan seiring meningkatnya kasus influenza.
Malaria masih menjadi masalah kesehatan global yang kompleks akibat imunitas parsial, pembawa asimtomatik, dan resistensi insektisida.
MEDIAINDONESIA.COM, 8 Februari 2026, menurunkan berita berjudul ‘Lebih Awal, Arab Saudi Mulai Terbitkan Visa Haji 2026 Hari Ini’.
PENINGKATAN keamanan pangan membutuhkan kebijakan yang tepat demi mewujudkan kesehatan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang lebih baik di masa depan.
Jika langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini, jumlah kasus kanker diprediksi akan meningkat hingga 70% pada 2050.
Masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kesejahteraan secara fisik, mental, dan spiritual sebagai bagian integral dari gaya hidup yang sehat dan seimbang.
Jika orangtua mulai merasa ada masalah pada perkembangan wicara dan bahasa anak, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter anak untuk mengetahui apakah anak memerlukan terapi wicara.
Kebutuhan terapis wicara tidak seimbang dengan sumber daya manusia di bidang terapis wicara yang belum merata di seluruh Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved