Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa cuaca ekstrem di musim hujan 2022 akan terjadi hingga awal tahun 2023 mendatang. Untuk itu, Kepala BMKG Dwikorita mengimbau kepada semua pihak untuk waspada dan melakukan serangkaian upaya antisipasi dalam mengatasi ancaman bencana hidrometeorologi basah.
"Potensi cuaca ekstrem dapat terjadi hingga diperkirakan Maret atau April tahun depan, 2023. Untuk itu ini mohon diwaspadai," kata Dwikorita, Selasa (11/10).
Baca juga: BPOM: Daftar Ulang Produk Pangan Olahan Sebulan Sebelum Izin Edar Habis
Dwikorita mengungkapkan cuaca ekstrem yang terjadi di musim hujan bukanlah satu hal baru. Hal itu sudah sering terjadi dalam waktu 5 tahun terakhir. Namun, ia menjelaskan ada sejumlah faktor yang menyebabkan munculnya cuaca ekstrem tahun ini.
Pertama, dalam tiga tahun terakhir Indonesia masih dipengaruhi oleh La Nina. "Saat ini memang intensitasnya mulai melemah dan diprediksi akan berlangsung sampai akhir tahun, bahkan awal tahun 2023," imbuh Dwikorita.
Kedua, yakni adanya fenomena dari Samudra Hindia, di mana teradi penigkatan pasokan uap air ke Indonesia. Kedua fenomena itu termasuk ke dalam fenomena global.
Di samping itu, ada pula fenomena regional, yakni terjadinya gelombang atmosfer Madden Julian, yang merupakan pergerakan arak-arakan awan hujan dari arah Samudra Hindia di timur Afrika ke Samudra Pasifik dan melewati indonesia.
"Ini yang semakin meningkatkan intensitas curah hujan di Indonesia. Dan sirkulasi sirklonik suhu muka air laut masih hangat, sehingga ada pembentukan awan hujan intensif," kata Dwikorita.
"Fenomena dari global dan regional berinteraksi pada waktu yang sama, sehingga intensitasnya sangat menguat," imbuh Dwikorita.
Adapun, untuk tiga hari ke depan. Dwikorita mengimbau agar sejumlah wilayah siaga terhadap ancaman bencana hidrometeorologis akibat adanya cuaca ekstrem. Wilayah-wilayah itu ialah sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Barat.
"Dan untuk sepekan ke depan hampir seluruh provinsi di Indonesia merata, sebagian besar berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat," ucap dia.
Dalam hal mitigasi, Dwikorita menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak, mulai dari pemerintah daerah, BMKG di daerah, BPPT, SAR, Kepolisian, TNI dan sejumlah pihak untuk meningkatkan kewaspadaan.
"Kita juga sudah lakukan koordinasi dengan PUPR baik pusat ataupun balai wilayah PUPR di berbagai wilayah Indonesia," pungkas dia. (OL-6)
Hasil analisis BMKG memperlihatkan kemunculan gelombang frekuensi rendah dan gelombang ekuatorial Rossby yang aktif di sekitar wilayah NTB
BMKG deteksi 228 titik panas di Riau, sebagian besar di Bengkalis, menandakan potensi karhutla yang membahayakan lingkungan dan kesehatan masyarakat. BPBD Riau siaga darurat.
BMKG memprakirakan hujan masih akan mendominasi cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia pada periode 10–12 Februari 2026, masyarakat diminta waspada hujan lebat
BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca Jakarta hari ini, 10 Februari 2026. Seluruh wilayah diprediksi hujan lebat hingga sedang sejak pagi hari.
BMKG memperingatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang dan petir di sejumlah wilayah Sulawesi Utara hingga 15 Februari 2025.
BMKG) melalui akun Instagram, Senin (9/2), mengeluarkan peringatan wilayah Jabodetabek masih akan terus diguyur hujan lebat hingga sangat lebat dalam beberapa hari
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved