Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa cuaca ekstrem di musim hujan 2022 akan terjadi hingga awal tahun 2023 mendatang. Untuk itu, Kepala BMKG Dwikorita mengimbau kepada semua pihak untuk waspada dan melakukan serangkaian upaya antisipasi dalam mengatasi ancaman bencana hidrometeorologi basah.
"Potensi cuaca ekstrem dapat terjadi hingga diperkirakan Maret atau April tahun depan, 2023. Untuk itu ini mohon diwaspadai," kata Dwikorita, Selasa (11/10).
Baca juga: BPOM: Daftar Ulang Produk Pangan Olahan Sebulan Sebelum Izin Edar Habis
Dwikorita mengungkapkan cuaca ekstrem yang terjadi di musim hujan bukanlah satu hal baru. Hal itu sudah sering terjadi dalam waktu 5 tahun terakhir. Namun, ia menjelaskan ada sejumlah faktor yang menyebabkan munculnya cuaca ekstrem tahun ini.
Pertama, dalam tiga tahun terakhir Indonesia masih dipengaruhi oleh La Nina. "Saat ini memang intensitasnya mulai melemah dan diprediksi akan berlangsung sampai akhir tahun, bahkan awal tahun 2023," imbuh Dwikorita.
Kedua, yakni adanya fenomena dari Samudra Hindia, di mana teradi penigkatan pasokan uap air ke Indonesia. Kedua fenomena itu termasuk ke dalam fenomena global.
Di samping itu, ada pula fenomena regional, yakni terjadinya gelombang atmosfer Madden Julian, yang merupakan pergerakan arak-arakan awan hujan dari arah Samudra Hindia di timur Afrika ke Samudra Pasifik dan melewati indonesia.
"Ini yang semakin meningkatkan intensitas curah hujan di Indonesia. Dan sirkulasi sirklonik suhu muka air laut masih hangat, sehingga ada pembentukan awan hujan intensif," kata Dwikorita.
"Fenomena dari global dan regional berinteraksi pada waktu yang sama, sehingga intensitasnya sangat menguat," imbuh Dwikorita.
Adapun, untuk tiga hari ke depan. Dwikorita mengimbau agar sejumlah wilayah siaga terhadap ancaman bencana hidrometeorologis akibat adanya cuaca ekstrem. Wilayah-wilayah itu ialah sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Barat.
"Dan untuk sepekan ke depan hampir seluruh provinsi di Indonesia merata, sebagian besar berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat," ucap dia.
Dalam hal mitigasi, Dwikorita menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak, mulai dari pemerintah daerah, BMKG di daerah, BPPT, SAR, Kepolisian, TNI dan sejumlah pihak untuk meningkatkan kewaspadaan.
"Kita juga sudah lakukan koordinasi dengan PUPR baik pusat ataupun balai wilayah PUPR di berbagai wilayah Indonesia," pungkas dia. (OL-6)
Lestari mengungkapkan bahwa pada penghujung 2025, sejumlah pakar sebenarnya telah menyampaikan peringatan mengenai potensi hujan lebat, fluktuasi cuaca, serta dampak perubahan iklim.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan status siaga hujan lebat untuk wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah pada 10 hari (dasarian) terakhir di Januari 2026.
Gelombang tinggi disertai hujan badai di perairan selatan mencapai 1,25-6 meter dan di perairan utara 1,25-2,5 meter cukup berbahaya terhadap aktivitas pelayaran.
BMKG memprediksi hujan ringan hingga sedang mengguyur seluruh wilayah Jakarta hari ini, 21 Januari 2026. Cek jadwal hujan dan suhu udara di sini.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terbaru, wilayah Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara diprakirakan mengalami hujan dengan intensitas tinggi.
Prakirawan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Lestari Purba di Medan, Selasa, mengatakan, secara umum cuaca di Sumatera Utara
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved