Jumat 12 Agustus 2022, 12:18 WIB

Guru Besar IPB Perkirakan Tahun 2029, 1 dari 2 Orang Dewasa Alami Obesitas

Atalya Puspa | Humaniora
Guru Besar IPB Perkirakan Tahun 2029, 1 dari 2 Orang Dewasa Alami Obesitas

Freepik
ilustrasi

 

MASALAH obesitas pada orang dewasa di Indonesia cukup tinggi. Selama sekitar satu dekade terakhir (2007-2018), prevalensi overweight, obesitas dan obesitas sentral meningkat cukup pesat. Jika tidak ada upaya perbaikan yang signifikan, diperkirakan pada 2029 satu dari dua orang dewasa mengalami obesitas. Hal ini disampaikan Guru Besar Tetap Fakultas Ekologi Manusia (Fema) Hadi Riadi.

Dalam paparannya, Hadi menjelaskan penyebab obesitas terdiri dari dua faktor utama, yaitu faktor biologi dan flingkungan. Faktor biologi terdiri dari genetik, mikrobiota saluran cerna, hormon, umur dan jenis kelamin.

“Obesitas pada bayi dan anak dapat terjadi karena obesitas maternal (maternal obesity) dan obesitas paternal (paternal obesity). Ibu yang mengalami overweight atau obesitas ketika hamil atau pertambahan berat badannya tinggi memiliki peluang bayi dan anaknya juga akan overweight dan obesitas. Tidak hanya karena faktor ibu, obesitas pada anak juga terjadi karena obesitas pada ayahnya atau obesitas paternal (paternal obesity),” kata Hadi dikutip dari laman resmi IPB University, Jumat (12/8).

Sementara itu, imbuhnya, untuk faktor lingkungan obesogenik (misalnya, diet tinggi kalori, gaya hidup sedentary) pada ayah dapat mengganggu kualitas sperma ayah. Seperti meningkatnya kerusakan DNA oksidatif sperma, meningkatnya modifikasi epigenetik sperma, dan berkurangnya kapasitas pembuahan.

“Hal ini akan berdampak negatif pada perkembangan embrio dan janin, sehingga generasi masa depan akan mengalami obesitas serta komplikasi metabolik dan reproduksi,” imbuhnya.

Selain itu, Hadi mengatakan pada tubuh manusia terdapat lebih dari 100 triliun mikroorganisme. Penelitian menunjukkan mikroba saluran cerna memainkan peran penting dalam pengaturan keseimbangan energi dan berat badan. Mikrobiota juga dapat memengaruhi perkembangan obesitas dan diabetes tipe 2.

“Faktor hormon juga berpengaruh terhadap obesitas. Ada dua hormon yang mengatur berat badan atau obesitas, yaitu hormon leptin dan ghrelin. Hormon leptin berperan dalam merangsang nafsu makan, sehingga akan merangsang penurunan berat badan dan obesitas. Sedangkan hormon ghrelin akan meningkatkan nafsu makan seseorang, sehingga akan meningkatkan asupan energi dan mempromosikan kenaikan berat badan dan obesitas,” jelasnya.

Baca juga: Berjalan Kaki setelah Makan dapat Menurunkan Risiko Diabetes

Ia menambahkan, faktor umur dan jenis kelamin juga mempengaruhi obesitas. Semakin tinggi usia maka prevalensi obesitas juga semakin tinggi. Wanita lebih banyak yang mengalami obesitas.

"Penelitian kami di Bogor menunjukkan selama dua tahun pengamatan sekitar 69% wanita menjadi obesitas dari yang sebelumnya tidak obes,” tuturnya.

Menurutnya, faktor yang dapat dimodifikasi untuk memperbaiki obesitas adalah aktivitas fisik dan perilaku makan. Peningkatan aktivitas fisik dapat meningkatkan pengeluaran energi tubuh dan berdampak pada tubuh yang lebih bugar. Faktor lain yang juga berkontribusi terhadap obesitas adalah perilaku makan yang buruk (mengonsumsi makanan padat energi).

“Faktor aktivitas fisik juga merupakan penyebab obesitas. Faktor gaya hidup dengan aktivitas fisik yang kurang menjadi penyebab obesitas pada beberapa penelitian kami. Perilaku sedentary merupakan pemicu obesitas. Kurang tidur dan kualitas tidur yang buruk dapat menyebabkan penambahan berat badan,” tukasnya.

Menurutnya, tidur kurang dari 7 hingga 8 jam per malam dapat menurunkan leptin serum dan meningkatkan ghrelin serum, sehingga meningkatkan nafsu makan dan penambahan berat badan. Penelitian Hadi dan tim pada wanita dewasa di Bogor menunjukkan wanita overweight dan obesitas memiliki lama dan kualitas tidur yang di bawah anjuran.

“Strategi yang dapat dilakukan untuk menanggulangi masalah obesitas adalah melakukan berbagai upaya mulai dari membuat regulasi, pencegahan, manajemen obesitas, dan surveilan. Prioritas perlu diberikan pada upaya mengubah gaya hidup, terutama aktivitas fisik dan perbaikan kualitas diet. Contohnya, dengan meningkatkan aktivitas fisik penduduk dan mengurangi asupan makanan tinggi gula, garam dan lemak, serta meningkatkan konsumsi sayur dan buah,” pungkasnya.

Ia menjelaskan, aktivitas fisik berjalan selama 60 menit atau 40 menit berdampak terhadap penurunan berat badan, indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar pinggang. Langkah berjalan cepat minimal 10 menit menyebabkan usia biologi yang lebih muda atau harapan hidup lebih panjang, yang setara dengan 20 tahun. Oleh karena itu diperlukan peningkatan aktivitas fisik dengan cara membuat kebijakan Rencana Aksi Nasional Pembudayaan Aktivitas Fisik (RAN-AF).(OL-5)

Baca Juga

Ist

Traveloka Dukung Implementasi Lima Pilar Aksi Tourism Working Group G20

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 27 September 2022, 15:30 WIB
Traveloka bersama dengan pemangku kepentingan lainnya mendukung Kemenparekraf yang menjadi Chair Tourism Working Group...
Antara

Guru PPPK Mulai Terima Gaji pada Oktober Mendatang

👤Faustinus Nua 🕔Selasa 27 September 2022, 15:19 WIB
Kemendikbud-Ristek terus melakukan koordinasi dengan pemda. Tujuannya, memastikan tidak ada kendala dalam proses administrasi terkait...
Antara/FB Anggoro.

Latihan Pernapasan Lima Menit Sehari Kurangi Tekanan Darah Tinggi

👤Meilani Teniwut 🕔Selasa 27 September 2022, 15:15 WIB
Hanya 30 napas dalam sehari dengan alat khusus dapat mengobati atau mencegah tekanan darah tinggi seefektif pengobatan dan penurunan berat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya